Meulaboh – UTU | Kualitas air bersih di wilayah pedesaan kini membaik berkat penerapan teknologi filtrasi berbasis bahan lokal yang dirancang oleh akademisi dan mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU). Warga Desa Pasi Birah, Kecamatan Woyla dilatih secara langsung untuk merakit, mengoperasikan, hingga merawat sistem penyaringan air secara mandiri guna memenuhi kebutuhan domestik sehari-hari.
Penguatan kapasitas warga tersebut diwujudkan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Perakitan Alat dan Media Filter Air Bersih yang diselenggarakan di Meunasah Desa Pasi Mesjid, Kecamatan Woyla, pada Minggu (26/7/2026). Kegiatan ini digagas melalui kolaborasi antara Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMTS) dan Tim Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset (PKMBR) Universitas Teuku Umar.
Melalui bimbingan teknis ini, warga yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) SIGAP Air —terdiri dari unsur pemuda dan ibu-ibu— disiapkan sebagai pengelola utama sistem air bersih desa. Pelatihan tersebut turut dihadiri oleh Dosen Pendamping Lapangan (DPL) PPK Ormawa sekaligus Ketua Tim PKMBR, Ir. Cut Suciatina Silvia, S.T., M.T., IPM., tim pelaksana HMTS, relawan mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UTU, serta jajaran perangkat Desa Pasi Mesjid.

Ketua PPK Ormawa HMTS, Fahri Dwi Alfhi, menyampaikan bahwa penyediaan infrastruktur fisik harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia di tingkat lokal agar fasilitas yang dibangun tidak mangkrak.
“Keberhasilan program penyediaan air bersih tidak hanya bergantung pada tersedianya infrastruktur, tetapi juga pada kesiapan masyarakat dalam mengoperasikan, merawat, dan mengembangkan teknologi yang telah dibangun,” ujar Fahri.
Transfer pengetahuan dan keterampilan teknis menjadi fokus utama kegiatan agar masyarakat tidak bergantung pada pihak luar saat menghadapi gangguan teknis pada alat penyaring.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset (PKMBR) UTU, Ir. Cut Suciatina Silvia, S.T., M.T., IPM., menegaskan pentingnya kemandirian warga dalam mengelola sarana publik yang telah dihibahkan.
“Program ini tidak berhenti pada pembangunan sarana. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat memiliki kemampuan untuk mengoperasikan, merawat, hingga memperbaiki sistem filtrasi secara mandiri sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” tutur Cut Suciatina.

Pada sesi teknis, tim perancang filter air yang terdiri dari Aldi Al-Ihsan, Ronald Wijaya, dan Agung memaparkan bahwa konsep teknologi filtrasi ini disesuaikan khusus dengan karakter fisik dan kimia sumber air di Desa Pasi Birah. Desain alat dibuat sederhana namun efektif, sehingga memudahkan warga untuk mereplikasinya menggunakan material yang melimpah di lingkungan sekitar.
Dalam demonstrasi perakitan, peserta diajarkan menyusun sembilan lapisan media filtrasi secara presisi. Susunan tersebut meliputi ijuk, spons pemisah antar media, batu karang, pasir zeolit, arang batok kelapa, pasir silika, pasir halus, kapas, serta kain saring halus. Setiap lapisan memiliki fungsi spesifik, mulai dari menyaring partikel kasar, menekan tingkat kekeruhan, menghilangkan bau dan warna, hingga menghasilkan air jernih yang layak pakai.
Proses Bimbingan Teknis berlangsung interaktif saat warga mempraktikkan langsung perakitan alat di bawah panduan tim teknis dan mahasiswa. Peserta melakukan uji coba aliran air serta mempelajari panduan perawatan berkala yang dirangkum dalam modul petunjuk operasional (manual book). Diskusi juga berkembang membahas estimasi umur pakai media saring, jadwal pembersihan berkala, dan penanganan awal jika terjadi penurunan kualitas air baku.
Melalui bekal keterampilan dan panduan manual book yang diterima, Pokja SIGAP Air kini memiliki kapasitas penuh untuk mengelola, merawat, dan mengembangkan jaringan filtrasi air secara swadaya, sehingga pasokan air bersih yang aman di Desa Pasi Birah terjamin dalam jangka panjang. [Humas UTU]
Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.




