Meulaboh – UTU | Kualitas air konsumsi warga di Desa Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat kini mulai membaik setelah mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh memasang alat filtrasi sederhana bernama aerator ventury. Air sumur yang semula berwarna kekuningan berubah menjadi jernih usai diolah menggunakan instalasi tersebut dalam program pelatihan yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Kesehatan dan Keselamatan Kerja (Hima K3) UTU pada Minggu, 12 Juli 2026.
Perubahan kondisi fisik air pasca-penerapan alat itu langsung dirasakan oleh warga setempat saat uji coba lapangan. Pelatihan pengolahan air bersih berbasis teknologi tepat guna ini merupakan langkah taktis dari Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Hima K3 untuk memberikan kecakapan praktis (capacity building) bagi masyarakat pesisir Aceh Barat dalam memproduksi air bersih secara mandiri di lingkungan domestik mereka.
Dosen pembimbing sekaligus pendamping lapangan mahasiswa UTU, Dr. Wintah, menyampaikan bahwa inovasi alat penjernih ini memberikan dampak instan dan terukur bagi kebutuhan sanitasi harian warga. Penggunaan aerator tersebut terbukti efektif mengurai kadar zat besi atau unsur lain yang selama ini memicu perubahan warna pada sumber air di desa tersebut.
“Setelah menggunakan aerator ventury, air yang sebelumnya berwarna kekuningan berubah menjadi lebih jernih. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi sederhana ini dapat menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan kualitas air bersih bagi masyarakat,” ujar Dr. Wintah pada Senin (13/7/2026).

Secara teknis, pelaksanaan pelatihan di balai desa dipandu oleh mahasiswa UTU, Putri Isyelda selaku moderator, dengan melibatkan pakar pengolahan air sebagai pemateri utama. Warga setempat yang hadir sebagai peserta dibekali pemahaman mendasar mengenai prinsip kerja mekanis alat, kegunaannya dalam memperkaya oksigen terlarut untuk memisahkan polutan air, hingga tata cara merakit komponen paralon dan pipa venturi secara mandiri.
Usai sesi edukasi, mahasiswa bersama kelompok masyarakat langsung melakukan mobilisasi ke rumah salah satu warga Desa Kuala Bubon untuk mempraktikkan perakitan dan pemasangan unit aerator ventury secara riil. Praktik kolaboratif ini sengaja dirancang sebagai ruang transfer keahlian agar warga tidak ketergantungan pada pihak luar jika ingin menduplikasi alat tersebut di kemudian hari.
Melalui metode pendampingan langsung ini, masyarakat sasaran di Kuala Bubon tidak hanya menyerap pengetahuan teoritis baru mengenai sanitasi, tetapi juga menguasai keterampilan teknis pertukangan sederhana untuk mengolah air. Dampak jangka panjang dari penguasaan teknologi ini diharapkan mampu memenuhi pasokan air bersih harian keluarga dengan kualitas yang jauh lebih sehat.
Masyarakat Kecamatan Samatiga menyambut baik kehadiran teknologi tepat guna ini dan meminta pihak universitas untuk melanjutkan program pendampingan serupa pada sektor sanitasi lainnya. Kehadiran instalasi air bersih yang memadai ini dinilai menjadi instrumen penting dalam mendongkrak derajat kesehatan dan kualitas hidup warga pasca-pemanfaatan inovasi kampus. [Humas UTU]
Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa




