Pusing Baca Jurnal Untuk Cari Kebaruan Penelitian? Ini Tips Dari Dosen FEB UTU

Meulaboh – UTU | Membaca artikel jurnal ilmiah sering kali menjadi momok yang melelahkan bagi mayoritas mahasiswa strata satu (S1) karena kendala bahasa formal dan struktur yang rumit. Kondisi ini memicu kecenderungan mahasiswa sekadar berburu kutipan demi memenuhi syarat daftar pustaka skripsi, tanpa memahami substansi dialog akademik di dalamnya.

Dosen Magister Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Teuku Umar (FEB UTU), Dr. Helmi Noviar, SE., M.Si., memaparkan pandangan baru untuk memecahkan persoalan tersebut kepada Humas UTU pada Senin (13/7/2026). Menurut dosen yang memiliki karya buku berjudul Dari Ide ke Publikasi, membaca jurnal seharusnya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk masuk ke dalam diskusi para peneliti guna memahami proses penemuan masalah hingga penarikan kesimpulan.

“Karya ilmiah bukan sekadar dokumen akademik untuk memenuhi syarat kelulusan, melainkan bentuk komunikasi ilmiah yang memungkinkan pengetahuan berkembang melalui proses saling mengkritisi dan menyempurnakan,” ujar Dr. Helmi.

Dampak dari perubahan cara pandang ini akan menggeser pertanyaan mendasar mahasiswa, dari yang semula hanya menanyakan isi artikel, menjadi lebih kritis kritis mempertanyakan alasan penelitian dilakukan, keterbatasan yang belum terjelaskan, hingga cara melanjutkan penelitian tersebut. Pola pikir ini sejalan dengan Teori Paul dan Elder (2014) bahwa kualitas pemikiran seseorang ditentukan oleh kualitas pertanyaan yang diajukan.

Dr. Helmi menambahkan, kesalahan umum yang sering terjadi adalah mahasiswa langsung melompat ke bagian metodologi penelitian demi menyusun skripsi. Padahal, metode hanyalah alat untuk menjawab masalah. Membaca bagian pendahuluan dan kajian pustaka dinilai jauh lebih penting karena dari sanalah orisinalitas masalah bermula.

Melalui kebiasaan membaca pendahuluan yang kuat, mahasiswa akan lebih mudah menemukan celah penelitian (research gap). Helmi meluruskan kekeliruan berpikir mahasiswa yang menganggap research gap harus berupa topik yang sama sekali baru. Padahal kenyataannya, celah tersebut dapat lahir dari hasil penelitian terdahulu yang saling bertentangan, keterbatasan metode, hingga perubahan konteks sosial dan teknologi.

Hasil dari pemahaman celah ini bermuara pada penemuan kebaruan (novelty) penelitian. Pada level skripsi S1, kebaruan tidak menuntut mahasiswa menciptakan teori revolusioner yang mengubah dunia, melainkan berupa penyempurnaan skala kecil. Kebaruan dapat dihadirkan melalui perbedaan objek, lokasi, karakteristik responden, penambahan variabel, atau perbaikan analisis.

“Kita ambil saja contoh literasi digital yang dikontekstualisasikan dengan maraknya penggunaan kecerdasan buatan seperti ChatGPT. Perubahan konteks inilah yang melahirkan kebaruan, bukan karena topik lama tidak lagi relevan.” terang Dr. Helmi.

Dr. Helmi menambahkan aktivitas membaca jurnal secara mendalam ini juga melatih keterampilan berpikir kritis yang mencakup interpretasi, analisis, evaluasi, hingga regulasi diri (self-regulation) sebagaimana dirumuskan Peter A. Facione (1990). Proses ini menuntut mahasiswa mengaktifkan Sistem 2 dalam teori Daniel Kahneman (2011), yaitu cara berpikir lambat yang reflektif dan analitis, guna mengikis kecenderungan berpikir cepat (Sistem 1) yang langsung mempercayai kesimpulan tanpa memeriksa data.

Melalui transformasi kebiasaan membaca ini, mahasiswa UTU diharapkan tidak lagi sekadar menjadi konsumen informasi, melainkan tumbuh menjadi produsen pengetahuan. Kualitas skripsi pada akhirnya ditentukan oleh kedalaman membaca, karena dari ketajaman melihat research gap itulah sebuah ide dapat dipertanggungjawabkan hingga sidang skripsi dan berkontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan. [Humas UTU]

Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa

Related Posts

Leave a Reply