Meulaboh – UTU | Dosen Universitas Teuku Umar (UTU) mengembangkan model pertanian sosio-tekno smart farming di Desa Pucok Lhung, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat. Langkah ini diambil sebagai strategi konkret untuk mengantisipasi ancaman krisis pangan akibat maraknya alih fungsi lahan pertanian di masa depan.
Inovasi budidaya padi berbasis teknologi ini didanai melalui program hibah internal Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) UTU. Program ini menyasar para petani lokal dengan fokus mempersiapkan ketahanan pangan jangka panjang yang adaptif terhadap keterbatasan lahan.
Dosen Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UTU, Ricky Yulianda, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa model ini dirancang khusus untuk menarik minat generasi muda agar tetap produktif di sektor pertanian. Pendekatan teknologi diterapkan agar budidaya padi tetap berjalan optimal meski di atas lahan yang terbatas.
“Program ini bukan hanya untuk kondisi saat ini, tetapi sebagai antisipasi 10 hingga 20 tahun ke depan ketika lahan persawahan semakin terbatas,” kata Ricky.
Pada implementasinya, rencana awal yang menggunakan konsep sawah terapung mengalami penyesuaian setelah melalui proses diskusi dinamis dengan kelompok tani setempat. Berdasarkan masukan para petani agar program lebih berdaya guna, sistem dialihkan menjadi integrasi antara sawah dan kolam terpal untuk budidaya ikan. Kedepannya, sistem ini juga direncanakan memanfaatkan panel surya (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) sebagai sumber energi mandiri yang hemat biaya.
Sebanyak 31 petani di Desa Pucok Lhung terlibat langsung dalam program ini. Mereka mendapatkan pendampingan intensif untuk mengadopsi sistem pertanian modern tersebut, mulai dari teknis pengelolaan lahan terintegrasi hingga pemanfaatan teknologi pendukungnya.
Melalui penerapan model sosio-tekno smart farming ini, para petani diharapkan mampu mengubah pola bertani konvensional menjadi lebih efisien. Hasil akhirnya ditargetkan dapat meningkatkan produktivitas pangan keluarga, menjaga kestabilan ekonomi perdesaan, serta menciptakan sistem pertanian berkelanjutan yang tidak lagi bergantung pada luasnya kepemilikan lahan sawah. [Humas UTU]
Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa




