Meulaboh – UTU | Universitas Teuku Umar (UTU) resmi memulai langkah pengembangan Istana Kelulut UTU dan Apiculture Research and Innovation Center (ARIC) melalui rapat pembahasan khusus yang berlangsung di Ruang Kerja Rektor Universitas Teuku Umar, Senin (27/7/2026). Inisiatif ini dirancang guna mewujudkan kawasan unggulan perlebahan tropis berbasis riset yang berfungsi sebagai pusat konservasi, pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan inovasi dan bisnis berbasis lebah kelulut.
Gagasan strategis ini dipaparkan oleh M. Farhan Putra, Dosen Program Studi Biosains Hewan Universitas Teuku Umar. Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa pengelolaan kawasan yang terpisah dan dikelola secara mandiri sangat mendesak dilakukan demi menjamin keberlanjutan koloni kelulut yang saat ini terancam punah di lokasi lamanya.
Penurunan populasi lebah tanpa sengat tersebut dipicu oleh kondisi di kawasan Herbal Park UTU saat ini. Paparan pestisida dari area sekitar, aktivitas pembakaran sampah harian, serta lingkungan yang kurang ramah terhadap penyerbuk telah menyebabkan jumlah koloni berkurang drastis hingga hanya tersisa beberapa koloni saja. Pembangunan kawasan khusus yang aman, bersih, dan berkelanjutan menjadi solusi utama atas ancaman tersebut.
“Istana Kelulut UTU kami rancang bukan sekadar sebagai lokasi budidaya lebah tanpa sengat, tetapi sebagai pusat keunggulan perlebahan tropis yang mengintegrasikan pendidikan, riset, pengabdian, inovasi, hingga pengembangan bisnis. Dengan kawasan yang aman dan dikelola secara mandiri, keberlanjutan koloni dapat terjaga sekaligus memberikan manfaat nyata bagi universitas, masyarakat, dan lingkungan,” ujar M. Farhan Putra saat mempresentasikan konsep pengembangan tersebut.

Pengembangan Istana Kelulut UTU dan ARIC diproyeksikan memberikan dampak langsung bagi peningkatan kualitas akademik dan operasional institusi. Selain berfungsi sebagai laboratorium alam bagi mahasiswa dan dosen dalam mendukung pembelajaran serta riset, fasilitas ini diarahkan untuk meningkatkan kolaborasi penelitian tingkat nasional maupun internasional, mendorong publikasi ilmiah, dan mendongkrak pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi.
Kehadiran pusat perlebahan ini juga difungsikan sebagai identitas khas Universitas Teuku Umar sebagai satu-satunya pusat perlebahan di Aceh yang selaras dengan visi utama kampus di bidang agro-marine. Di samping menarik peluang kemitraan dengan pemangku kepentingan dan industri, kawasan ini berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi universitas melalui layanan uji sampel, pelatihan, konsultasi, hingga wisata edukasi.
Rektor Universitas Teuku Umar, Prof. Dr. Nyak Amir, M.Pd., menyambut baik paparan tersebut dan menilai bahwa rencana ini memiliki nilai strategis bagi kemajuan lembaga secara menyeluruh.
“Saya sangat mengapresiasi lahirnya gagasan Istana Kelulut UTU dan Apiculture Research and Innovation Center ini. Konsep ini memiliki keterkaitan dengan berbagai aspek pengembangan universitas, mulai dari mendukung capaian Indikator Kinerja Utama (IKU), memperkuat keberlanjutan kampus dalam UI GreenMetric, hingga menjadi representasi nyata dari core product agro Universitas Teuku Umar. Ini adalah inovasi yang patut kita dukung bersama karena manfaatnya tidak hanya dirasakan kampus, tetapi juga masyarakat dan lingkungan,” ungkap Prof. Nyak Amir.

Melalui keberadaan Istana Kelulut UTU dan ARIC, Universitas Teuku Umar menargetkan lahirnya lulusan yang kompeten di bidang perlebahan dan biodiversitas, terciptanya riset berdaya saing global, terwujudnya pemberdayaan masyarakat yang lebih luas, serta terciptanya kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan dan ketahanan pangan nasional. [Humas UTU]
Laporan: Shinta | Editor: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.




