Meulaboh – UTU | Risiko penularan penyakit infeksi dan ancaman stunting pada anak-anak di Kabupaten Aceh Barat kini direspons lewat pendekatan kearifan lokal. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Teuku Umar (FIK UTU) bermitra dengan UPTD Puskesmas Suak Ribee menggulirkan program edukasi bertajuk “Bek Tuwo Rah Jaroe”(Jangan Lupa Cuci Tangan -red) untuk membangun kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di tengah masyarakat. Kegiatan dilaksanakan di Puskesmas Suka Ribee, Selasa (6/10/2026).
Di area pelayanan Puskesmas Suak Ribee hingga ke ruang-ruang kelas sekolah, gema ajaran menjaga kebersihan tangan ini disampaikan secara persuasif. Bahasa Aceh yang familiar berpadu dengan lagu edukasi dan pemutaran film animasi interaktif, menarik perhatian para pelajar sekolah dasar, mahasiswa, hingga ibu-ibu rumah tangga.
Program yang diprakarsai oleh Ns. Hanifah, S.Kep., ini berfokus pada dampak langsung kesehatan jangka panjang. Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun difungsikan sebagai benteng utama pemutus rantai infeksi saluran pencernaan dan pernapasan pada anak. Berkurangnya angka kejadian infeksi berbanding lurus dengan optimalnya penyerapan nutrisi tubuh, yang menjadi fondasi vital dalam mencegah terjadinya stunting di Aceh Barat.
Inisiator program, Ns. Hanifah, S.Kep., menjelaskan bahwa intervensi perilaku masyarakat membutuhkan pendekatan yang dekat dengan keseharian mereka.
“Kebiasaan sederhana mencuci tangan dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk mencegah penyakit infeksi dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi anak-anak dan keluarga,” ujar Hanifah di sela-sela kegiatan edukasi.
Untuk memperluas jangkauan dampak, sasaran kegiatan menyasar berbagai tingkatan masyarakat, mulai dari tenaga medis di fasilitas pelayanan primer, pelajar SMP dan SMA, mahasiswa UTU dan STIKES, hingga kelompok keluarga di pemukiman warga. Kampanye ini juga disebarluaskan melalui siaran radio lokal agar pesan perubahan perilaku dapat menjangkau wilayah pedesaan yang lebih jauh.
Keterlibatan sivitas akademika FIK UTU menghadirkan bobot keilmuan sekaligus tenaga lapangan. Para dosen dan mahasiswa turun langsung mendampingi masyarakat, mempraktikkan tata cara mencuci tangan yang benar, sekaligus mengedukasi hubungan antara sanitasi lingkungan dan tumbuh kembang anak.
Wakil Dekan II FIK UTU yang juga Dosen Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Teungku Nih Farisni, SKM., M.Kes., menekankan pentingnya penerapan riset dan teori akademis langsung di lapangan.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan ilmu pengetahuan dan inovasi yang dikembangkan tidak berhenti di ruang akademik, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kolaborasi dengan Puskesmas menjadi ruang penting untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan kesehatan masyarakat,” tutur Teungku Nih Farisni.
Melalui skema kepedulian yang menyentuh tingkat tapak ini, gerakan “Bek Tuwo Rah Jaroe” memosisikan kebersihan tangan sebagai tradisi harian baru. Langkah kecil dari membasuh tangan dengan sabun ini diharapkan mampu menekan angka kesakitan anak, menurunkan prevalensi stunting, dan mencetak generasi Aceh Barat yang lebih sehat serta produktif. [Humas UTU]
Laporan: Tengku Nih | Editor: YFH | Foto: Istimewa




