Meulaboh – UTU | Satuan Pengawasan Internal (SPI) Universitas Teuku Umar (UTU) merespons ancaman kegagalan target kerja di tingkat fakultas hingga lembaga dengan menggelar workshop manajemen risiko di Ballroom Parkside Meuligoe Hotel, Meulaboh, Selasa (6/10/2026). Pelatihan intensif selama dua hari ini mewajibkan seluruh tim manajemen risiko dari tiap unit kerja membedah dan menyusun tindakan pencegahan ancaman operasional secara langsung di lokasi acara.
Ruang Ballroom yang dipadati para kepala unit dan anggota tim manajemen risiko berubah menjadi laboratorium kerja teknis. Peserta membawa draft program kerja masing-masing untuk menguji tingkat kerentanan serta menyimulasikan risk register, memetakan matriks potensi bahaya, hingga merumuskan dokumen profil risiko yang presisi.
Pelatihan ini berdampak langsung terhadap ketepatan eksekusi anggaran dan kelancaran program kerja di lingkungan UTU. Melalui praktik penyusunan dokumen tersebut, setiap unit kerja dibekali standar baru untuk mendeteksi penyimpangan maupun keterlambatan program sejak tahap awal perencanaan.
Ketua Manajemen Risiko UTU, Delfian Masrura, S.T., M.T., CRA., CRP., menjelaskan bahwa keterampilan mendeteksi bahaya operasional menjadi fokus utama kegiatan. Pelatihan ini disiapkan agar seluruh tim memiliki acuan yang sama dalam membaca peta ancaman di area kerjanya.
“Kami ingin setiap unit kerja pulang dengan kemampuan mengidentifikasi hambatan di lapangannya masing-masing, lalu menyusun dokumen risiko yang benar-benar bisa diterapkan dalam tugas harian,” ujar Delfian di sela-sela pendampingan materi.
Dampak jangka panjang dari pembekalan ini juga disorot Ketua SPI UTU, Fatmayanti, S.E., M.Si. Menurutnya, keluaran dari ruang pelatihan harus memberikan perubahan nyata saat unit kerja mulai mengeksekusi anggaran program di lapangan.
“Penyusunan dokumen ini bukan akhir dari tugas. Imbas nyatanya harus terlihat saat tim di unit kerja mulai memetakan ancaman sejak perencanaan, menentukan mana yang prioritas, dan menyiapkan tindakan pencegahan yang cocok dengan target mereka,” kata Fatmayanti.
Mewakili Rektor UTU, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum, Dr. Mursyidin, M.A., membuka acara secara resmi. Kepada para peserta, Dr. Mursyidin menggarisbawahi pentingnya keterbukaan dalam melaporkan kerentanan di setiap lini organisasi.
“Pelatihan ini jangan sampai berhenti sebagai formalitas pengisian berkas. Ini momen bagi kita untuk membiasakan penanganan ancaman kerja di seluruh lini institusi,” tutur Dr. Mursyidin.

Dr. Mursyidin merinci bahwa dinamika operasional UTU saat ini mencakup spektrum yang luas, mulai dari pengelolaan tata pamong akademik, lalu lintas arus kas, efisiensi sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, hingga keselamatan sarana prasarana dan kegiatan pengabdian masyarakat.
“Setiap program memiliki tujuan, dan setiap tujuan membawa konsekuensi kerugian jika tidak dikelola. Kita tidak butuh rasa takut terhadap potensi masalah, melainkan kecakapan mengukur dan mengendalikannya secara pas,” lanjutnya.
Hasil dari workshop ini diinstruksikan untuk langsung diintegrasikan ke dalam siklus penganggaran, pelaksanaan kegiatan, hingga evaluasi berkala di tingkat universitas. Dengan mengunci mitigasi risiko ke dalam sistem kerja harian, UTU memangkas potensi hambatan kerja lebih cepat sebelum memengaruhi capaian kinerja institusi secara keseluruhan. [Humas UTU]
Laporan: YFH | Foto: Istimewa




