Tak Lagi Sebatas Kertas Rokok, Dosen UTU Dampingi Masyarakat Samatiga Ubah Buah Nipah Jadi Sirup dan Dodol Bernilai Jual

Meulaboh – UTU | Puluhan ibu rumah tangga di Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, kini berhasil memperoleh sumber pendapatan baru guna meningkatkan kesejahteraan keluarga. Keberhasilan ini terwujud setelah komoditas nipah (Nypa fruticans) yang selama ini tumbuh liar dan terlantar di kawasan pesisir setempat, berhasil diubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi berupa sirup dan dodol.

Peningkatan pendapatan per kapita rumah tangga (household income capita) ini digerakkan melalui program pendampingan intensif yang dilakukan oleh Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) Universitas Teuku Umar (UTU). Fokus utama program dua pekan pada Juni 2026 ini langsung menyasar pada penguatan tata kelola manajemen dan pembinaan calon pelaku UMKM lokal baru, sebagai stimulus menciptakan produk keunggulan wilayah pesisir dalam jangka panjang.

Dampak ekonomi ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha mikro yang tergabung dalam UMKM Cang Nipah di Desa Suak Timah. Kelompok usaha yang digerakkan oleh para ibu rumah tangga sejak tahun 2025 tersebut kini mampu memproduksi dan memasarkan sirup serta dodol nipah, sementara beberapa varian produk turunannya saat ini terus dimatangkan dalam tahap riset dan pengembangan (research and development).

Transformasi ekonomi di tingkat keluarga ini digawangi oleh tim gabungan antar-divisi UTU yang diketuai oleh Rollis Juliansyah, S.E., M.Si., dari Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UTU, dengan dukungan penuh dari tim lapangan Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan FEB UTU. Tim akademisi ini hadir mengintervensi kelemahan manajemen mitra melalui metode pendampingan terstruktur, mulai dari asesmen lapangan, koordinasi dengan tokoh masyarakat, hingga pendampingan produksi terintegrasi.

Langkah hilirisasi ini menjadi solusi konkret atas melimpahnya tanaman jenis palem tersebut di sepanjang bantaran sungai Samatiga, mulai dari Suak Timah hingga Kuala Bubon. Secara ekologis, hutan nipah setempat sebenarnya berfungsi vital sebagai pencegah abrasi dan habitat biota air tawar. Namun, selama ini masyarakat hanya memanfaatkannya secara tradisional dalam skala sangat kecil, yakni sebatas mengambil daunnya sebagai bahan pengganti kertas rokok tembakau.

Upaya memitigasi trade-off lingkungan dan mengoptimalkan peluang sustainable development di wilayah kuala ini diakui menjadi motor penggerak utama program. Keberhasilan mengubah tanaman liar menjadi komoditas bernilai jual tinggi ini diharapkan menjadi percontohan bagi wilayah pesisir barat Aceh lainnya dalam memanfaatkan probabilitas keunggulan lokal.

Ketua Tim PkM UTU, Rollis Juliansyah, S.E., M.Si., menyatakan bahwa program ini didesain untuk mengubah tanaman yang selama ini dianggap tidak bernilai menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat. [Humas UTU]

Laporan: Rollis | Editor: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.

Related Posts

Leave a Reply