Inovasi Dr. Kiswanto, Menyaring Air Hujan Menjadi Sumber Kehidupan Baru di Pesisir Aceh Barat

Meulaboh – UTU | Aroma asin air laut bercampur lembabnya udara rawa menyambut siapa saja yang berkunjung ke Perumahan Apung Desa Kuala Bubon, pada Sabtu (20/6). Di kawasan pesisir Kabupaten Aceh Barat ini, air berlimpah ruah mengepung daratan. Namun ironisnya, setetes air bersih yang layak tenggak sering kali menjadi barang mewah yang harus ditebus dengan peluh dan rupiah. Sumur-sumur warga sering kali payau, sementara topografi rawa-rawa membuat eksploitasi air tanah tidak hanya sulit, tetapi juga mengancam kelestarian lingkungan jika dilakukan terus-menerus.

Bagi masyarakat nelayan yang tinggal di Perumahan Apung Desa Kuala Bubon, Kabupaten Aceh Barat, air adalah pemandangan sehari-hari yang sekaligus menjadi ironi. Meski wilayah pesisir dengan topografi rawa-rawa ini dikelilingi oleh air yang melimpah, mendapatkan air bersih yang aman untuk dikonsumsi justru menjadi tantangan yang berat. Sumur-sumur di kawasan ini kerap terasa payau, sementara ketergantungan yang tinggi pada pengambilan air tanah secara terus-menerus berisiko mengganggu keseimbangan dan kelestarian cadangan air di dalam bumi.

Melihat kondisi geografis yang rawan krisis air bersih tersebut, Dr. Kiswanto, M.Si., seorang dosen dari Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Teuku Umar, menawarkan sebuah jalan keluar yang bertumpu pada potensi alam setempat. Melalui Pendanaan Hibah Kemendiktisaintek lewat Skema Penelitian Terapan, ia merancang sistem inovatif yang mampu mengolah air hujan menjadi air baku yang siap dikonsumsi. Inovasi ini bertolak dari pemikiran bahwa curah hujan yang tinggi di wilayah pesisir merupakan sumber daya air bersih yang melimpah dan berkelanjutan jika dikelola dengan tepat.

Menurut Dr. Kiswanto, pada dasarnya air hujan yang turun memiliki tingkat kemurnian yang baik. Namun rentan tercemar oleh mikroorganisme, polutan udara, atau debu saat menyentuh media penampungan. Oleh karena itu, teknologi yang dikembangkan oleh Dr. Kiswanto ini berfokus pada proses pengolahan yang aman dan higienis.

“Sistem penyaringan ini dirancang agar terintegrasi menjadi depo air minum isi ulang berbasis masyarakat yang menggunakan bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh dan dikelola sendiri oleh warga, yaitu kombinasi pasir silika, zeolit, dan karbon aktif.” ujar Dr. Kiswanto kepada Humas UTU.

Ia menambahkan tujuan utama dari penelitian terapan ini adalah menghadirkan teknologi yang tidak hanya solutif secara ilmiah, tetapi juga bisa dirawat dan dioperasikan secara mandiri oleh warga nelayan di Perumahan Apung Kuala Bubon.

“Kami ingin mengubah stigma bahwa air hujan itu asam atau berbahaya, menjadi sebuah kesadaran baru bahwa dengan penyaringan yang tepat menggunakan zeolit, karbon aktif, dan pasir silika, langit telah menyediakan air minum murni yang jauh lebih hemat dan ramah lingkungan,” terang Dr. Kiswanto.

Melalui tahapan filtrasi dan sterilisasi yang ketat, air hujan dibebaskan dari zat-zat berbahaya seperti timbal, besi, hingga bakteri yang merugikan kesehatan. Hasil akhirnya adalah kemandirian bagi skala rumah tangga maupun institusi, seperti lingkungan kampus, untuk memproduksi air minum murni yang lebih hemat biaya sekaligus ramah lingkungan. Langkah ini secara tidak langsung ikut memotong ketergantungan pada air tanah, sehingga kelestarian alam di kawasan pesisir tetap terjaga.

Inovasi berbasis komunitas dari Universitas Teuku Umar ini juga menjadi manifestasi nyata di lapangan dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Terobosan ini bersinggungan langsung dengan target SDG 6 mengenai pemenuhan kebutuhan air bersih dan sanitasi yang layak untuk semua, serta SDG 11 yang berfokus pada pembangunan permukiman yang berkelanjutan dan mandiri. Lewat teknologi tepat guna ini, hujan yang turun di Kuala Bubon kini tidak lagi sekadar membasahi bumi, melainkan menjadi sumber kehidupan yang menyehatkan bagi masyarakat nelayan. [Humas UTU]

Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa

Related Posts

Leave a Reply