Dosen UTU Kembangkan Model Socio Smart Farming di Aceh Barat

Meulaboh – UTU | Dosen Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Teuku Umar (UTU) Riki Yulianda, S.Sos., M.Si., mengembangkan model Socio Smart Farming (SSF) sebagai solusi nyata dalam mengatasi kemiskinan dan memperkuat swasembada pangan di Provinsi Aceh. Inovasi pemberdayaan masyarakat pertanian ini mengintegrasikan pembuktian lapangan, pemanfaatan teknologi tepat guna, dan penguatan aspek sosial guna meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus kesejahteraan petani.

Program yang didanai melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset (PKMBR) berbasis Hibah Internal PNBP UTU Tahun 2026 ini merupakan implementasi nyata dari semangat Kampus Berdampak yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Konsep ini berfokus pada hilirisasi hasil pendidikan tinggi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas.

Pengembangan model SSF ini berangkat dari persoalan mendasar Provinsi Aceh yang saat ini memegang status dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Pulau Sumatera. Di sisi lain, potensi pertanian Aceh yang sangat besar belum termanfaatkan secara optimal akibat maraknya lahan pertanian yang terbengkalai atau beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit karena dianggap lebih memberikan kepastian pendapatan. Jika terus dibiarkan, fenomena konversi sawah ini dapat mengancam keberlanjutan produksi pangan nasional.

Guna menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian UTU menawarkan pendekatan baru dengan memanfaatkan ruang-ruang kecil atau lahan sempit di sekitar pekarangan rumah yang selama ini kurang diperhatikan untuk dijadikan kawasan produksi pangan baru yang produktif. Pengelolaan lahan berskala kecil ini dinilai membuat intensitas pemeliharaan tanaman menjadi lebih optimal, sehingga indeks pertanaman yang umumnya hanya dua kali tanam (IP2) berpotensi meningkat hingga empat kali tanam dalam satu tahun (IP4).

Model pertanian terpadu ini juga mengintegrasikan pemanfaatan lahan di sela-sela tanaman tahunan, budidaya ikan air tawar menggunakan kolam terpal, pemanfaatan sumur bor sebagai sumber irigasi, hingga penggunaan pompa air berbasis energi surya untuk efisiensi energi.

“Selama ini perhatian masyarakat lebih tertuju pada pembukaan lahan berskala besar, padahal masih banyak ruang-ruang kecil yang belum dimanfaatkan. Dengan pengelolaan yang baik dan dukungan teknologi, lahan terbatas tersebut justru mampu menjadi sumber produksi pangan baru sekaligus memberikan tambahan pendapatan bagi petani,” jelas Riki Yulianda.

Inovasi utama dari SSF terletak pada pergeseran paradigma penyuluhan pertanian. Berbeda dengan pola konvensional yang biasanya dimulai dari sosialisasi dan pelatihan teori, SSF membalik tahapan tersebut dengan mendahulukan pembangunan demonstration plot (demplot). Melalui demplot, petani dilibatkan untuk melihat langsung bukti nyata peningkatan hasil panen, efisiensi biaya, keuntungan usaha tani, hingga keberhasilan teknologi sebelum mereka menerima penjelasan ilmiah.

Pendekatan ini bergerak di atas filosofi bahwa petani percaya karena melihat, memahami karena mengalami, dan bertahan karena didampingi. Setelah kepercayaan petani terbangun, program dilanjutkan secara bertahap dengan edukasi kontekstual, adopsi teknologi, pendampingan sosial, implementasi mandiri, hingga monitoring dan evaluasi berkelanjutan.

Pada tahap adopsi teknologi, petani diperkenalkan secara bertahap pada sensor berbasis Internet of Things (IoT), drone pertanian, mekanisasi, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendeteksi penyakit tanaman, aplikasi pencatatan keuangan digital, hingga akses ke marketplace untuk pemasaran hasil panen. Aspek teknologi ini diperkuat dengan pendampingan sosial melalui penguatan kelembagaan kelompok tani, koperasi, kepemimpinan lokal, jejaring pemasaran, dan perluasan akses pembiayaan.

Pola pemberdayaan yang digagas dalam SSF mengubah alur lama yang biasanya berupa sosialisasi-pelatihan-implementasi menjadi alur baru yang terstruktur, yaitu demonstrasi-edukasi-adopsi teknologi-pendampingan sosial-implementasi mandiri-monitoring, evaluasi, dan scaling-up. Perubahan perilaku petani dipicu oleh bukti nyata di lapangan yang kemudian diperkuat dengan transfer pengetahuan agar inovasi diadopsi secara berkelanjutan. Model ini diproyeksikan menjadi kerangka konseptual baru dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian, pengabdian masyarakat, maupun penelitian terapan di Indonesia.

Implementasi awal model ini telah dilaksanakan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Sekolah Lapangan di Gampong Pucok Lueng, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, dengan melibatkan 31 petani serta menghadirkan praktisi bidang pengentasan kemiskinan dan pertanian sebagai narasumber. Hasil percontohan awal ini menunjukkan bahwa optimalisasi lahan tidak produktif melalui model SSF diproyeksikan mampu memberikan tambahan pendapatan sekitar Rp13 juta per petani setiap tahunnya, sekaligus menjadi pintu masuk mendukung target swasembada pangan nasional tanpa harus membuka lahan pertanian baru. [Humas UTU]

Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa

Related Posts

Leave a Reply