Perkuat Ekosistem Pesisir Barsela, Universitas Teuku Umar Rancang Kolaborasi Konservasi Mangrove Bersama Peraih Kalpataru 2026

Meulaboh – UTU | Universitas Teuku Umar (UTU) resmi menjajaki kerja sama strategis di bidang konservasi lingkungan dan pengembangan kawasan pesisir bersama Yayasan Aceh Jaya Mangrove Institute. Penjajakan ini ditandai dengan penerimaan audiensi Direktur Aceh Jaya Mangrove Institute, Abdul Hadi, S.Pd., oleh Rektor UTU, Prof. Dr. Nyak Amir, S.Pd., M.Pd., di Ruang Kerja Rektor, Gedung Kuliah Terintegrasi Kampus UTU, Meulaboh, pada Kamis (23/7/2026).

Pertemuan yang berlangsung selama satu jam mulai pukul 11.00 hingga 12.00 WIB tersebut berfokus pada penyelarasan program pemeliharaan ekosistem pesisir serta rencana pembangunan Wisata Nipah Mangrove di wilayah pantai barat selatan (Barsela) Aceh. Langkah kolaboratif ini dirancang untuk memberikan dampak langsung terhadap penyelamatan kawasan pesisir sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal berbasis keanekaragaman hayati.

Dalam pertemuan tersebut, Prof. Dr. Nyak Amir, M.Pd., menyampaikan apresiasi langsung atas pencapaian Abdul Hadi yang berhasil meraih Piala Kalpataru Bidang Lingkungan Hidup Tahun 2026. Rektor menegaskan bahwa keberhasilan tersebut menjadi modal sosial dan teknis yang sangat berharga dalam memperluas jangkauan edukasi serta aksi penyelamatan lingkungan di Aceh.

“Selamat dan sukses kepada Saudara Abdul Hadi atas raihan Piala Kalpataru Bidang Lingkungan Hidup Tahun 2026. Kami menyambut baik dan memberikan dukungan penuh terhadap rencana kerja sama antara UTU dan Aceh Jaya Mangrove Institute. Kolaborasi ini akan kita wujudkan melalui integrasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang mencakup program pendidikan, riset terapan, hingga pengabdian kepada masyarakat,” ujar Prof. Dr. Nyak Amir.

Sinergi bersama lembaga konservasi ini sejalan dengan rekam jejak tata kelola lingkungan civitas akademika UTU. Kampus yang terletak di pesisir barat Aceh ini mencatatkan peningkatan peringkat nasional secara signifikan pada pemeringkatan perguruan tinggi hijau berkelanjutan dunia, UI GreenMetric 2025. UTU berhasil mengamankan posisi ke-21 secara nasional sekaligus mempertahankan predikat Four Trees Rating.

Capaian nasional tersebut didasarkan pada penilaian objektif UI GreenMetric melalui enam indikator utama, yaitu Penataan dan Infrastruktur, Energi dan Perubahan Iklim, Pengelolaan Sampah, Pengelolaan Air, Transportasi, serta Pendidikan dan Penelitian. Keberhasilan menembus 25 besar nasional menjadi bukti operasionalisasi efisiensi energi, pengelolaan limbah terpadu, perluasan ruang terbuka hijau, dan penyusunan kurikulum berbasis keberlanjutan yang telah diterapkan di lingkungan kampus.

“Peningkatan peringkat ini merupakan hasil dari langkah terukur kampus dalam mengintegrasikan tata kelola lingkungan ke dalam seluruh aktivitas akademik. Hasil ini menjadi dorongan nyata bagi UTU untuk hadir sebagai pusat rujukan keberlanjutan lingkungan dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat, khususnya di wilayah pantai barat selatan Aceh,” tambah Prof. Dr. Nyak Amir.

Secara teknis, implementasi kerja sama ini akan dikawal langsung oleh Pusat Penelitian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (PPLH-SDA) UTU. Ketua PPLH-SDA UTU, Dr. Ir. Edwarsyah, S.P., M.P., yang turut hadir dalam audiensi bersama tim peneliti—Susanto, Suci, dan Dwi—menjelaskan rancangan program utama yang akan digarap bersama.

Dr. Ir. Edwarsyah menjelaskan bahwa pilar utama dari kemitraan ini adalah Rencana Pembangunan Wisata Nipah Mangrove Barat Selatan Aceh. Program ini memadukan konsep konservasi vegetasi nipah dan mangrove dengan pengembangan ekowisata berbasis edukasi. Melalui keterlibatan peneliti dan mahasiswa UTU, kawasan riset ini diproyeksikan mampu menghasilkan data ilmiah bagi perlindungan abrasi, mitigasi perubahan iklim, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi warga sekitar kawasan mangrove.

Melalui keterlibatan aktif institusi pendidikan daerah dalam isu-isu global, UTU membuktikan bahwa perguruan tinggi di luar pusat metropolitan memiliki kapasitas teruji untuk memimpin gerakan keberlanjutan. Langkah konkret kolaborasi ini diharapkan dapat melahirkan model pengelolaan pesisir berkelanjutan yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia. [Humas UTU]

Laporan: Edwarsyah | Editor: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.

Related Posts

Leave a Reply