Meulaboh – UTU | Intervensi pangan lokal berbasis kearifan lokal Aceh terbukti efektif dalam memotong rantai stunting pada anak melalui perbaikan gizi sejak dalam kandungan. Berdasarkan hasil riset eksperimental komprehensif yang dilakukan oleh Dr. Sukma Elida, SKM., M.Kes., Dosen Program Studi Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Teuku Umar (UTU), konsumsi pangan tradisional keumamah (ikan kayu) secara signifikan mampu meningkatkan status gizi ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK). Intervensi protein tinggi ini juga memberikan dampak langsung pada luaran kelahiran, di mana hampir seluruh bayi lahir dari subjek riset memiliki ukuran antropometri berupa berat badan, panjang badan, lingkar kepala, serta Apgar score yang normal sesuai dengan standar medis kesehatan anak.
Keberhasilan riset ini memberikan jawaban strategis atas masalah stunting yang masih menjadi isu utama terkait gizi di Indonesia, khususnya di Provinsi Aceh. Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Provinsi Aceh pada tahun 2024 tercatat masih berada di angka 28,8 persen. Angka tersebut tergolong tinggi karena berada di atas ambang toleransi yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 20 persen, serta masih jauh dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Indonesia tahun 2030 yang mengharapkan penurunan prevalensi hingga menyentuh angka 14 persen.

Langkah intervensi gizi terarah yang menyasar ibu hamil dinilai sebagai momentum paling krusial guna memotong mata rantai kasus stunting tersebut. Intervensi yang tepat harus difokuskan pada faktor penyebab langsung maupun tidak langsung di dalam periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak, yaitu fase pertumbuhan emas yang dimulai dari masa konsepsi di dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Mengingat status gizi ibu selama kehamilan sangat mempengaruhi kondisi bayi yang akan dilahirkan, pemanfaatan pangan lokal yang kaya gizi, mudah diakses, memiliki nilai budaya, serta memiliki keberlanjutan yang tinggi menjadi strategi tepat dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus kesehatan masyarakat.
“Pemanfaatan pangan lokal berupa keumamah dalam program intervensi stunting ini dirancang sebagai bentuk pemberdayaan sumber daya dan kearifan lokal. Melalui riset ini, kami mengkaji potensi besar keumamah, produk ikan kayu tradisional Aceh hasil perebusan dan pengeringan yang berdaya simpan lama, untuk diolah menjadi variasi makanan siap saji berkualitas yang dapat diterima dengan baik oleh kelompok sasaran,” ujar Dr. Sukma Elida saat diwawancarai di ruang kerjanya pada Jum’at (10/7/2026).
Penelitian eksperimental yang menjadi bagian dari disertasi doktornya pada Program Studi Ilmu Gizi IPB University ini dijalankan selama satu tahun lebih dengan melibatkan subyek sebanyak 35 orang ibu hamil KEK yang berada pada usia kehamilan 20-24 minggu. Seluruh subjek mendapatkan intervensi berupa pemberian lima porsi masakan olahan keumamah siap saji (ready to serve) yang disajikan dalam lima variasi menu masakan yang berbeda setiap minggunya. Masing-masing porsi memiliki berat bersih 150 gram dan wajib dikonsumsi minimal selama 90 hari, terhitung dari awal trimester ketiga kehamilan hingga masa persalinan tiba.

Guna mengukur tingkat keberhasilan eksperimen, tim peneliti melakukan serangkaian pengukuran antropometri klinis serta pemeriksaan laboratorium terhadap level Hemoglobin (Hb) ibu hamil, baik sebelum maupun sesudah periode intervensi dilaksanakan. Parameter kesehatan yang sama, ditambah dengan penilaian Apgar score, juga langsung diterapkan pada bayi sesaat setelah lahir.
“Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa pemberian asupan nutrisi keumamah secara rutin terbukti secara valid meningkatkan indikator status gizi makro dan mikro ibu hamil KEK, sekaligus melindungi bayi dari risiko kelahiran dengan berat badan rendah maupun indikasi stunting dini.” ungkap Dr. Sukma.
Hasil ilmiah dan kontribusi praktis dari inovasi berbasis kearifan lokal ini juga telah mendapatkan pengakuan luas di tingkat global. Temuan penting mengenai efikasi keumamah dalam menurunkan angka risiko stunting ini telah dipresentasikan secara resmi di dua konferensi internasional bergengsi, yaitu pada 7th International Eco-summit, Eco-civilization for A Sustainable and Desirable Future di Zhengzhou, China, serta pada 2nd Conference of Applied Science di Praha, Republik Ceko. Keberhasilan akademis ini membuktikan bahwa optimalisasi bahan pangan lokal tradisional yang dikelola secara higienis dan berbasis sains mampu menjadi solusi aplikatif berskala internasional dalam mengatasi krisis gizi buruk dunia. [Humas UTU]
Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.




