Meulaboh – UTU | Hasil riset lapangan tim peneliti Human Development and Entrepreneurship Center Universitas Teuku Umar (HDEC UTU) menemukan bahwa keterbatasan jaringan irigasi, minimnya alat mesin pertanian (alsintan), hingga masalah keberlanjutan regenerasi menjadi tantangan utama yang dihadapi para petani di Desa Suak Ribee, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.
Temuan tersebut diperoleh setelah tim peneliti HDEC UTU menggali langsung aspirasi dan permasalahan kelembagaan pada Kelompok Tani Sapue Pakat di Desa Suak Ribee, pada Senin (27/7/2026). Kegiatan pengumpulan data ini merupakan bagian dari Skema Penelitian Penugasan Pusat Riset (PPPR) PNBP UTU 2026 bertajuk “Model Peningkatan Kapasitas Petani dan Nelayan Aceh Barat Berbasis Agro-Maritim Melalui Infinite Mindset dan Kapabilitas Manajerial”.
Tim peneliti yang turun ke lapangan dipimpin oleh Kepala Pusat Riset HDEC UTU Muhammad Reza Aulia, S.Pt., M.Si., Ketua Tim Penelitian Penugasan Pusat Riset Abdul Muzammil, S.P., M.M., anggota tim sekaligus Sekretaris HDEC UTU Utari Azrani, S.P., M.P., serta Cut Salsabila, S.P., yang bertindak sebagai tim administrasi dan enumerator.

Dari hasil wawancara mendalam bersama Sekretaris Kelompok Tani Sapue Pakat, Saddianto, diketahui bahwa 35 orang anggota kelompok tani yang diketuai oleh Idrus tersebut masih sangat bergantung pada sistem pertanian tadah hujan. Ketiadaan saluran irigasi yang memadai membuat waktu tanam dan tingkat keberhasilan panen padi sepenuhnya ditentukan oleh curah hujan, sehingga memicu risiko penurunan hasil produksi saat musim kemarau panjang.
Selain persoalan pengairan, keterbatasan alsintan memaksa mayoritas petani masih mengolah lahan secara manual. Petani juga mengeluhkan penyaluran pupuk bersubsidi yang belum berkala dan kerap langka di saat musim tanam tiba, yang dampaknya langsung membengkakkan biaya produksi karena petani terpaksa membeli pupuk harga pasar. Di sisi lain, permohonan bantuan dan pendampingan teknis melalui Balai Penyuluhan Pertanian maupun Dinas Pertanian setempat dinilai belum maksimal merespons kebutuhan riil di lapangan.
Di tengah himpitan kendala teknis dan ekonomi tersebut, masalah regenerasi menjadi ancaman jangka panjang bagi kedaulatan pangan desa. Minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian terus menurun karena profesi ini masih dianggap kurang menjanjikan dibanding sektor lain.
Kendati demikian, dedikasi ditunjukkan oleh Saddianto. Pensiun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang pernah bertugas sebagai Babinsa ini memilih tetap menggarap sawah bukan semata mencari keuntungan materi, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan sosial untuk menjaga ketersediaan pangan di desanya.

Kepala Pusat Riset HDEC UTU, Muhammad Reza Aulia, S.Pt., M.Si., menilai keteladanan tersebut menjadi pilar penting yang harus ditanamkan kepada generasi penerus.
“Pemikiran seperti ini yang perlu kita tularkan kepada generasi muda, perlu infinite mindset dalam melakukan aktivitas pertanian, bahwa pertanian tidak dipandang untuk mendapat keuntungan jangka pendek semata, tapi ada banyak hal-hal yang perlu kita siapkan dalam jangka panjang untuk masa mendatang,” ujar Muhammad Reza Aulia.
Seluruh data dan fakta lapangan yang saling berkaitan ini akan diolah oleh tim peneliti HDEC UTU sebagai dasar penyusunan rekomendasi kebijakan. Luaran penelitian ini dirancang untuk memberikan masukan konkrit bagi pemerintah daerah, penyuluh, dan pemangku kepentingan dalam merumuskan program intervensi pertanian yang lebih presisi, responsif, dan berkelanjutan berbasis kebutuhan nyata masyarakat. [Humas UTU]
Laporan: M. Reza A. | Editor: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.




