Dosen Universitas Teuku Umar Rancang Standardisasi Produksi Teri Untuk Poklahsar Camar Laut

Meulaboh – UTU | Kelompok dosen dan peneliti dari Universitas Teuku Umar (UTU) merancang strategi khusus untuk menyelesaikan hambatan operasional yang dialami Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar) Camar Laut di Desa Suak Indrapuri, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat. Rencana kerja ini disusun menyusul selesainya agenda Focus Group Discussion (FGD) pada 12 Juni 2026 yang bertujuan memetakan kendala riil para perajin ikan asin di wilayah pesisir tersebut.

Melalui forum tatap muka itu, para akademisi berdialog langsung dengan warga untuk mengurai akar masalah seputar keterbatasan alat pengeringan, inkonsistensi kualitas produk, ketiadaan pembukuan keuangan, hingga minimnya jangkauan pemasaran. Inisiatif ini menandai dimulainya agenda Pengabdian kepada Masyarakat lewat jalur Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, sebuah program yang memperoleh pembiayaan dari Dana BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.

Kegiatan pendampingan ini mengusung tajuk resmi “Optimalisasi Nilai Tambah Ikan Teri Kecil melalui Hilirisasi Berbasis Teknologi Tepat Guna Pengeringan dan Standardisasi Produksi pada Kelompok Poklahsar Camar Laut.” Agenda lapangan tersebut dikoordinasikan oleh Nabila Ukhty, S.Pi., M.Si. dari Program Studi Perikanan UTU, dibantu oleh rekannya sesama dosen perikanan, Muhammad Arif, S.Pi., M.Si., serta pakar ekonomi pembangunan, Yasrizal, M.Si. Beberapa mahasiswa juga diterjunkan ke lokasi untuk membantu mengumpulkan data, menyusun dokumentasi, serta mendampingi warga selama program berjalan.

Berdasarkan keluhan yang disampaikan para pengolah ikan, ketidakpastian iklim menjadi penghambat utama dalam kelangsungan usaha mereka. Hingga saat ini, proses pengolahan teri masih bergantung sepenuhnya pada metode jemur tradisional di ruang terbuka. Metode konvensional seperti ini membuat proses produksi sangat rentan macet ketika hujan turun atau saat tingkat kelembapan udara sedang tinggi.

Kondisi tersebut mengakibatkan waktu penjemuran membengkak, mutu komoditas yang dihasilkan menjadi tidak seragam, serta memicu pembusukan dini pada stok ikan segar yang baru ditangkap. Kerugian finansial yang dihadapi warga biasanya melonjak tajam saat volume tangkapan laut sedang melimpah, namun fasilitas penjemuran di darat tidak mampu menampung dan mengolahnya dengan cepat.

Merespons kendala tersebut, tim pendamping bersama para pelaku usaha meninjau ulang seluruh rantai pasok produksi, mulai dari penyortiran bahan baku dari nelayan, pembersihan, metode pengasinan, pengeringan, pengemasan, hingga sistem penyimpanan gudang. Dari hasil penelusuran tersebut, disepakati bahwa pembaruan sistem pada fase pengeringan menjadi prioritas utama yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.

Ketua tim pelaksana, Nabila Ukhty, menyebutkan bahwa diskusi kelompok terarah ini sengaja digelar agar program intervensi yang dibawa dari kampus benar-benar menjawab persoalan nyata di lapangan.

“Pertemuan ini penting karena kami dapat mendengar langsung pengalaman anggota kelompok. Dari situ, kami bisa mengetahui persoalan yang paling mendesak dan menentukan bentuk pendampingan yang tepat,” tutur Nabila.

Nabila merencanakan bahwa perangkat pengering buatan yang akan diperkenalkan nantinya harus memenuhi kriteria mudah dioperasikan oleh warga kampung, aman digunakan, serta mampu menjaga mutu ikan teri tetap stabil walau kondisi cuaca sedang buruk.

Selain mengoreksi aspek teknis penjemuran, tim UTU menilai sistem tata kelola administrasi usaha milik kelompok nelayan ini juga masih perlu dibenahi. Manajemen internal Poklahsar Camar Laut selama ini belum terbiasa mencatat sirkulasi bahan baku, rincian biaya operasional, total produksi harian, jumlah produk gagal, hingga rekapitulasi nilai penjualan harian.

“Kelompok perlu mengetahui berapa biaya yang dikeluarkan, berapa hasil produksi yang diperoleh, dan pada bagian mana kerugian paling sering terjadi. Informasi itu penting untuk menentukan harga jual dan merencanakan pengembangan usaha,” papar Yasrizal.

Dosen ekonomi tersebut mengingatkan bahwa kehadiran model pembukuan yang ringkas namun disiplin akan sangat membantu pengurus dalam memantau naik-turunnya kondisi keuangan usaha mereka secara objektif.

Di samping itu, forum tersebut menyepakati pentingnya perbaikan kualitas bungkus kemasan dan perluasan strategi pemasaran. Kombinasi antara mutu produk yang higienis, kemasan modern yang menarik, serta pembukaan jalur pasar baru diyakini akan mendongkrak nilai jual produk lokal tersebut. Seluruh poin penting dan data yang dihimpun dari pertemuan perdana ini akan dijadikan acuan dasar dalam menyusun cetak biru pendampingan berkala di Desa Suak Indrapuri. [Humas UTU]

Laporan: Yasrizal | Editor: Yuhdi F. | Foto: Istimewa

Related Posts

Leave a Reply