Dosen Fakultas Pertanian UTU Kamalia Ulfa Ajak Mahasiswa Jadi ‘Petani Berdasi’ Guna Amankan Lumbung Pangan Daerah

Meulaboh – UTU | Lonjakan kebutuhan pangan global yang berbanding terbalik dengan minimnya minat generasi muda untuk turun ke sektor pertanian memicu langkah nyata dari civitas akademika Universitas Teuku Umar (UTU). Melalui program edukasi lapangan, dosen Program Studi Agroteknologi UTU, Kamalia Ulfa, S.P., M.Si., menggerakkan modernisasi pola pikir petani tradisional sekaligus membakar semangat mahasiswa untuk menjaga ketahanan pangan daerah melalui metode ramah lingkungan dan teknologi pintar.

Langkah ini diambil di tengah tantangan ganda yang dihadapi sektor pertanian saat ini, yaitu tuntutan pemenuhan pangan yang terus meroket serta keengganan pemuda dalam menyentuh sektor agraris. Kamalia menghadapi realitas di lapangan dengan merumuskan strategi pendekatan yang menjembatani teori ilmiah dan praktik tradisional guna mempermudah transformasi ke arah pertanian modern.

Bagi Kamalia, mengubah pola pikir masyarakat petani di pedesaan memerlukan kesabaran tinggi agar mereka bersedia mengadopsi teknik baru yang lebih efektif. Penerjemahan konsep-konsep akademis menjadi bahasa praktis harian menjadi kunci utama keberhasilan transfer ilmu tersebut.

“Tantangan terbesar sebagai dosen saat turun ke lapangan adalah bagaimana menyederhanakan teori ilmiah menjadi bahasa yang praktis dan mudah diterima oleh petani. Kita tidak bisa hanya menyuruh, tapi harus memberikan bukti bahwa dengan teknik penanaman yang tepat, hasil panen bisa jauh lebih maksimal,” ujar Kamalia dalam Talkshow SPADA di RRI Meulaboh pada Jum’at (3/7/2026).

Edukasi yang diberikan di lapangan difokuskan langsung pada peningkatan produktivitas tanpa mengorbankan kelestarian alam sekitar. Penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan dinilai menjadi ancaman serius bagi masa depan sektor agraris karena merusak kesuburan tanah jangka panjang.

“Petani adalah jantung sebuah daerah. Jika sektor pertanian lumpuh, maka ketahanan daerah tersebut akan goyah. Oleh karena itu, kita mengedukasi mereka agar hasil panen melimpah, tetapi dengan cara-cara yang ramah lingkungan agar tanah tetap subur untuk generasi mendatang,” tambahnya.

Selain melakukan pendampingan kepada petani senior di desa-desa, fokus pergerakan juga diarahkan kepada mahasiswa UTU sebagai penerus ekosistem pangan. Kamalia secara intensif mendorong generasi muda untuk tidak terpaku mencari pekerjaan kantoran, melainkan berani mengambil peluang sebagai pelaku utama pertanian modern yang diistilahkan sebagai “Petani Berdasi”.

Istilah tersebut merujuk pada profil generasi baru yang mengelola sektor pertanian berbekal ilmu pengetahuan, pemanfaatan teknologi, serta penguasaan manajerial pemasaran yang matang. Intervensi teknologi pintar (smart farming) dan analisis data dinilai mampu melipatgandakan hasil panen tanpa mengorbankan kondisi ekologis tanah.

“Saya selalu bilang ke mahasiswa, jangan malu jadi petani. Petani modern atau petani berdasi adalah inovator. Mereka bertani dengan analisis data, memanfaatkan teknologi pintar (smart farming), dan paham rantai pasok pemasaran,” kata Kamalia menerangkan.

Dengan keterlibatan aktif mahasiswa yang responsif terhadap teknologi, pengelolaan sektor agraria di tingkat daerah diharapkan bergeser ke arah yang lebih presisi. Langkah strategis ini diproyeksikan memberikan dampak langsung berupa peningkatan pendapatan para petani lokal sekaligus mengamankan pasokan pangan daerah secara berkelanjutan.

“InsyaAllah, jika mahasiswa kita mau bergerak dan menjadi petani berdasi, pengelolaan pertanian kita akan lebih presisi. Hasilnya maksimal, lingkungan terjaga, dan kesejahteraan petani kita pasti meningkat. Sudah saatnya anak muda mengambil alih tongkat estafet ini untuk menjaga lumbung pangan kita,” pungkas Kamalia. [Humas UTU]

Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa

Related Posts

Leave a Reply