Meulaboh – UTU | Nelayan di Gampong Babah Krueng Teplep, Kecamatan Pante Ceureumen, kini memiliki alternatif untuk melipatgandakan nilai ekonomi hasil tangkapan mereka. Selama ini, kelimpahan ikan sisik dari kawasan muara sungai kerap dijual mentah dengan harga yang fluktuatif di pasar lokal. Namun sejak pertengahan Agustus 2026, kelompok ibu rumah tangga di desa tersebut mulai menguasai teknik pengolahan daging ikan sisik menjadi produk kuliner modern bernilai jual lebih tinggi, yakni fish roll.
Inovasi pengolahan pangan ini diperkenalkan melalui serangkaian pelatihan pemberdayaan ekonomi yang berlangsung selama lima hari, pada 10 hingga 14 Agustus 2026. Setiap harinya mulai pukul 09.00 WIB, balai warga setempat diramaikan oleh antusiasme peserta yang mempelajari secara mendalam tahapan produksi higienis, formulasi bumbu masakan, standardisasi kemasan (packaging), hingga tata cara pemasaran produk secara berkelanjutan.
Penggagas kegiatan ini adalah tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Universitas Teuku Umar (UTU). Program pelatihan dipimpin oleh Ir. Sofiyanurriyanti, S.T., M.T., dengan melibatkan dua dosen anggota, yakni Suci Ayu Lestari, S.T., M.T., dan Marlinda, S.Pd., M.Pd. Untuk memastikan transfer pengetahuan berjalan optimal, tim mengandalkan Yuli Ana sebagai instruktur ahli di bidang pengolahan kuliner, serta menerjunkan sejumlah mahasiswa UTU yang mendampingi warga secara langsung selama sesi praktik.
Secara geografis, Babah Krueng Teplep merupakan kawasan yang berbatasan langsung dengan muara sungai, tempat mayoritas warga menggantungkan hidup sebagai nelayan dan pekebun. Melimpahnya tangkapan ikan sisik sering kali tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima warga akibat ketergantungan pada penjualan bahan mentah.
“Potensi sumber daya perikanan di gampong ini melimpah. Hasilnya dapat dirasakan lebih maksimal jika ada sentuhan hilirisasi. Melalui produk fish roll, daging ikan sisik tidak hanya lebih tahan lama disimpan, tetapi juga berubah menjadi produk kuliner bernilai tinggi yang menopang pendapatan keluarga nelayan,” ujar Ir. Sofiyanurriyanti, S.T., M.T., Ketua Tim Pelaksana PkM UTU.

Di lokasi pelatihan, suasana interaktif terpancar saat peserta belajar memisahkan daging ikan dari durinya secara efisien. Yuli Ana membimbing warga meracik adonan dengan takaran presisi agar tekstur dan rasa fish roll memenuhi standar pasar. Sementara itu, mahasiswa UTU mendampingi para ibu mempraktikkan teknik pengemasan kedap udara (vacuum packaging) yang estetik dan aman untuk distribusi rantai dingin.
Pemerintah gampong merespons positif kehadiran tim akademisi tersebut. Peralihan dari sekadar menjual ikan mentah menjadi produk olahan siap konsumsi dinilai memberikan dinamika ekonomi baru di tingkat rumah tangga.
“Ibu-ibu di gampong kami sangat bersemangat karena mendapat keterampilan baru yang bermanfaat. Kegiatan produktif seperti ini memicu kreativitas ekonomi warga dan memberikan dampak langsung pada dapur rumah tangga,” ungkap Keuchik Gampong Babah Krueng Teplep, Abdul Halim.
Pelatihan ini tidak dirancang berhenti pada seremonial semata. Hasil inovasi olahan ikan sisik ini diproyeksikan berkembang menjadi komoditas kuliner khas baru dari Pante Ceureumen, yang siap dipasarkan ke skala daerah yang lebih luas guna memperkuat rantai ekonomi warga lokal. [Humas UTU]
Laporan: Sofiyanurriyanti | Foto: Istimewa




