Meulaboh – UTU | Deretan jaket himpunan berwarna biru dongker memadati Auditorium Universitas Teuku Umar (UTU), Meulaboh, Senin pagi (28/9/2026). Ratusan mahasiswa Teknik Mesin dari berbagai perguruan tinggi di Aceh berkumpul mengikuti Musyawarah Wilayah (Muswil) Forum Mahasiswa Mesin Aceh (FMMA) ke-VIII yang dirangkai dengan Seminar Nasional Nasional Kesiapan Kerja.
Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Teknik UTU, Dr. Ir. Irwansyah, S.T., M.Eng., IPM. Dalam sambutannya, Irwansyah menyoroti pentingnya penguasaan budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta jaringan profesional sebelum mahasiswa menyelesaikan studi.
“Lulusan teknik tidak lagi cukup hanya mengandalkan nilai akademik di atas kertas. Dunia industri hari ini mencari tenaga kerja yang sejak hari pertama masuk kerja sudah paham regulasi keselamatan dan memiliki kemampuan komunikasi organisasi yang matang,” ujar Irwansyah di hadapan para peserta.
Seminar nasional yang mengusung tema “Membangun Karier Sejak dari Kampus: Mengenal Dunia Industri, Kompetensi Kerja dan Budaya K3” ini menghadirkan dua penceramah utama: Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Ir. Muhammad Ilham Maulana, S.T., M.T., dan Head of Technical Service and Engineering PT Mifa Bersaudara, Ir. Seprizky Prayuda, S.T.

Dalam sesi pemaparan, Seprizky Prayuda membedah standar kompetensi dan penerapan K3 yang berlaku di sektor pertambangan serta industri alat berat. Sementara itu, Prof. Muhammad Ilham Maulana memaparkan strategi penyelarasan antara kurikulum akademik kampus dengan kebutuhan nyata pasar kerja teknik mesin saat ini. Suasana diskusi memanas ketika para mahasiswa memanfaatkan sesi tanya jawab untuk berkonsultasi mengenai standar sertifikasi profesi dan peluang magang industri.
Ketua Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) FT UTU, Muhammad Nur, menjelaskan bahwa agenda ini dirancang untuk menjembatani jurang pemisah antara teori di ruang kuliah dengan dinamika lapangan kerja.
“Kami ingin rekan-rekan mahasiswa paham betul apa yang dituntut perusahaan sebelum resmi menyandang gelar sarjana. Kompetensi teknis, kemampuan interpersonal, dan prinsip dasar K3 adalah paket lengkap yang harus disiapkan sejak sekarang,” kata Muhammad Nur.
Di tempat yang sama, Ketua Panitia Pelaksana, Syahri Ramadhan, menyebutkan bahwa selain seminar, forum Muswil FMMA ke-VIII menjadi ajang konsolidasi dan pertukaran gagasan antar-lembaga mahasiswa Teknik Mesin se-Aceh guna menyusun program kerja lintas kampus selama satu periode ke depan.
Rangkaian acara yang berlangsung hingga sore hari tersebut berjalan tertib. Melalui wadah musyawarah dan diskusi terbuka ini, HMM FT UTU menargetkan terciptanya konsolidasi organisasi yang lebih solid sekaligus memperluas jejaring kemitraan antara kampus, mahasiswa, dan praktisi industri di Aceh. [Humas UTU]
Laporan: Syahrul | Editor: YFH | Foto: Istimewa.




