Meulaboh – UTU | Relawan SIGAP Air bersama Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Teuku Umar, perangkat desa, pemuda, dan masyarakat setempat menggelar aksi penanaman lebih dari 500 batang bambu di sepanjang bantaran Sungai Woyla, Desa Pasi Birah, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat.
Aksi gotong royong dan peduli lingkungan tersebut berlangsung selama dua hari, yakni pada 25 hingga 26 Juli 2026. Penanaman vegetasi ini menyasar 13 titik rawan di sepanjang aliran sungai dengan interval jarak antar-titik berkisar antara 40 hingga 50 meter.
Langkah ini merupakan bagian dari penerapan metode Bioengineering dalam rangka penguatan mitigasi bencana hidrometeorologi serta konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS). Bambu dipilih secara khusus sebagai tanaman konservasi karena sistem perakarannya yang rapat efektif memperkuat struktur tanah, mengurangi risiko erosi tebing sungai, meningkatkan infiltrasi air, dan menjaga keseimbangan ekosistem di area bantaran.

Ketua Tim PPK Ormawa HMTS-UTU, Fahri Dwi Alfhi, menjelaskan bahwa langkah tersebut menjadi bentuk penerapan pendekatan berbasis alam (nature-based solutions) guna mendukung ketangguhan Desa Pasi Birah dari ancaman banjir maupun longsor tebing.
“Penanaman bambu bukan sekadar kegiatan penghijauan, tetapi merupakan investasi jangka panjang dalam menjaga stabilitas bantaran Sungai Woyla. Kami berharap vegetasi yang ditanam hari ini dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan,” ujar Fahri.
Dosen Pembimbing Lapangan, Ir. Cut Suciatina Silvia, S.T., M.T., IPM., mengapresiasi kolaborasi lintas pihak ini serta menekankan pentingnya peran akademisi dan mahasiswa dalam memberikan solusi berbasis keilmuan teknis bagi pemukiman di sekitar aliran sungai.
“Aksi ini menjadi wujud integrasi keilmuan teknik sipil dan kepedulian sosial dalam merespons ancaman abrasi tebing sungai. Pendekatan Bioengineering dengan memanfaatkan bambu terbukti efisien serta ramah lingkungan untuk menstabilkan tanah, sehingga keterlibatan aktif mahasiswa dan masyarakat di Desa Pasi Birah ini diharapkan dapat menjamin keberlanjutan fungsi perlindungan lingkungan dalam jangka panjang,” tutur Cut Suciatina Silvia.

Proses penanaman diawali dengan pendistribusian bibit bambu secara bertahap menuju lokasi-lokasi yang telah dipetakan. Pemilihan 13 titik penanaman didasarkan pada tingkat kerentanan kondisi tebing sungai yang berpotensi mengalami erosi tajam, sehingga diharapkan kehadiran vegetasi bambu tersebut dapat memberikan perlindungan optimal bagi pemukiman dan lahan di sekitarnya.
Kegiatan penghijauan ini merupakan salah satu agenda utama dari Program SIGAP Air (Pengelolaan Air Terpadu Berbasis Filtrasi, Bioengineering, dan Digitalisasi Menuju Desa Tangguh Bencana) yang diusung oleh Tim PPK Ormawa HMTS Universitas Teuku Umar. Program ini menetapkan target pemulihan kawasan melalui penanaman minimal 500 batang bambu demi mendorong rehabilitasi bantaran sungai serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.
Sinergi antara mahasiswa, sukarelawan, dan warga lokal ini diharapkan dapat mewujudkan kawasan bantaran Sungai Woyla yang lebih hijau, stabil, dan tangguh menghadapi bencana, sekaligus menghidupkan kembali budaya gotong royong dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar. [Humas UTU]
Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.




