Kolaborasi Riset Mahasiswa UTU dan PT KTS Berhasil Ubah Limbah Cangkang Sawit Jadi Pupuk Biochar Penyeimbang pH Tanah

Meulaboh – UTU | Kolaborasi riset antara mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Karya Tanah Subur (KTS) berhasil menciptakan inovasi pupuk organik berbasis biochar dari limbah cangkang sawit. Inovasi yang dipelopori oleh para mahasiswa dan dunia industri di Aceh Barat ini terbukti secara ilmiah mampu memperbaiki kualitas serta meningkatkan pH tanah secara efektif.

Sebagaimana dilansir dari laman aceh.tribunnews.com., rangkaian penelitian inovatif ini sepenuhnya digerakkan oleh mahasiswa dengan mengambil lokus di University Farm serta Laboratorium Ilmu Tanah UTU sejak medio April hingga November 2025. Dari hasil pengujian laboratorium, biochar cangkang sawit temuan mahasiswa ini memiliki performa yang lebih unggul dalam memperbaiki keasaman (pH) tanah jika dibandingkan dengan pupuk organik berbahan dasar sekam padi, sabut kelapa, batok kelapa, maupun tongkol jagung yang diolah dengan metode sejenis.

Sebelum nantinya diperkenalkan dan diproduksi secara luas untuk membantu para petani lokal, uji manfaat formula pupuk ini terlebih dahulu diterapkan secara intensif pada komoditas tanaman buncis. Secara ilmiah, formula cangkang sawit hasil riset mahasiswa ini bekerja sebagai amelioran atau bahan pembenah tanah yang mengondisikan struktur fisik, kimia, dan biologi lahan menjadi jauh lebih optimal. Dampak langsung dari penggunaan biochar ini membuat tekstur tanah menjadi lebih gembur, menekan tingkat keasaman, meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air, serta menstimulasi aktivitas mikroorganisme penyubur tanah.

Inovasi yang diinisiasi oleh mahasiswa UTU ini disambut baik oleh dunia industri sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PT KTS yang berorientasi pada pengelolaan limbah berkelanjutan dan penguatan sektor pertanian ramah lingkungan. Kehadiran pupuk alternatif ini diproyeksikan mampu menjadi opsi yang jauh lebih ekonomis, mudah didapat, dan memberikan investasi kesuburan jangka panjang bagi lahan pertanian masyarakat lokal.

Administratur PT KTS, Halik Barutu menyampaikan bahwa hasil riset mahasiswa ini menjadi sebuah langkah maju yang signifikan dalam pengelolaan limbah industri kelapa sawit.

“Pupuk organik dari limbah cangkang mungkin masih terdengar asing bagi masyarakat. Namun secara keberlanjutan ini sangat baik dan telah teruji secara ilmiah. Kami berharap masyarakat dapat memanfaatkannya secara luas,” ujar Halik Barutu.

Senada dengan hal tersebut, Asisten CSR PT KTS, Ashar Khoirurrozi, mengutarakan bahwa realisasi riset ini merupakan implementasi nyata di lapangan yang menyatukan visi kelestarian alam dengan pemberdayaan masyarakat.

“Ini bukti nyata kami mengembangkan lini bisnis yang tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan perusahaan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan sosial di sekitar. Harapannya, inovasi ini bisa diterapkan secara masif di masyarakat,” terang Ashar.

Keterlibatan aktif mahasiswa Fakultas Pertanian UTU dalam menemukan solusi agrikultur ini juga mendapat apresiasi tinggi dari para akademisi kampus. Peneliti UTU, Nurliani, menyatakan bahwa sinergi riset ini menjadi bukti nyata bagaimana mahasiswa mampu melahirkan pemikiran aplikatif yang berdampak langsung bagi sektor pertanian.

“Kami berterima kasih kepada manajemen PT KTS yang mendukung riset ini. Kami juga mengajak masyarakat memanfaatkan pupuk organik dari cangkang sawit karena berperan sebagai penyeimbang pH tanah, menjaga kesehatan tanaman, serta mempertahankan kesuburan tanah,” kata Nurliani.

Langkah taktis mahasiswa UTU dalam mengubah limbah mentah menjadi produk bernilai guna tinggi ini diyakini tidak hanya memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi pendapatan para petani, tetapi sekaligus menjadi formula solutif dalam mereduksi dampak lingkungan dari sisa operasional industri kelapa sawit di wilayah Aceh. Melalui keberhasilan riset mahasiswa ini, hilirisasi ilmu pengetahuan dari bangku kuliah kini siap didorong untuk mewujudkan praktik pertanian yang lebih hijau dan berkelanjutan di tengah masyarakat. [Humas UTU]

Sumber: aceh.tribunnews.com | Editor: Yuhdi F. | Foto: Istimewa

Related Posts

Leave a Reply