Aceh Jaya – UTU | “Saya berterima kasih kepada UTU. Kemarin ada program dari dosen dan mahasiswa UTU di desa Alue Krueng. Programnya sangat bagus dan berdampak. Sekarang Desa Alue Krueng mewakili Aceh Jaya pada lomba inovasi desa tingkat Provinsi Aceh” – Safwandi, Bupati Aceh Jaya saat pelepasan mahasiswa KKN UTU, Januari 2026
Aroma manis pisang sale dan gurihnya keripik sesekali tercium di antara riuhnya aktivitas warga di Desa Alue Krueng, Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya. Di sudut lain desa, sekelompok warga tampak sibuk mengolah batang dan kulit pisang yang biasanya berakhir di tempat sampah. Di tangan mereka, limbah tersebut kini berubah menjadi pupuk organik cair yang menyuburkan tanah.
Desa Alue Krueng sedang bersolek. Seperti ucapan Safwandi, Bupati Aceh Jaya. Kisah ini bermula pada medio 2024. Sekelompok tim mahasiswa dari Universitas Teuku Umar (UTU) datang membawa gagasan inovatif. Tim yang berasal dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian UTU ini mengajak masyarakat Desa Alue Krueng untuk melihat pohon pisang dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar buah yang dipetik lalu dijual murah, melainkan sebagai motor penggerak ekonomi desa.

Gerakan ini bermula dari keberhasilan tim mahasiswa dipimpin oleh Deni Sahputra mendapatkan pendanaan program BEM Berdampak dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Selama empat bulan, sejak Juni hingga Oktober 2024, didampingi dosen pembimbing Muhammad Reza Aulia, S.Pt. M.Si., para mahasiswa ini membaur dengan warga. Mereka memberdayakan masyarakat. Mengoptimalkan potensi desa. Tim mulai melakukan sosialisasi, membuka lahan percontohan pertanian, dan membentuk dua kelompok wirausaha baru di desa.
Hasilnya tidak mengecewakan. Dari rahim kreativitas warga dan mahasiswa, lahirlah produk pupuk cair organik bernama “Pupis Alkrueng”. Tak hanya itu, produk camilan khas desa seperti keripik pisang cokelat dan pisang sale kini naik kelas dengan merek dagang “Aku Pisang”.
Kehadiran mahasiswa ini mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat setempat. Keuchik (kepala desa -red) mengungkapkan rasa terima kasihnya atas pendampingan yang diberikan. Menurutnya, program ini membuka cakrawala baru bagi warga, terutama dalam mempelajari cara produksi yang baik, pengemasan yang menarik, hingga strategi pemasaran agar produk mereka bisa bersaing di luar daerah.
Pengabdian yang Berlanjut
Semangat perubahan di Alue Krueng tidak berhenti saat masa tugas tim pertama selesai. Pada tahun 2025, estafet pengabdian berlanjut lewat Program BEM Berdampak. Tepat pada 2 Oktober 2025, sebanyak 22 mahasiswa lintas disiplin ilmu—mulai dari pertanian, ilmu sosial, ekonomi, hingga teknik—kembali memadati desa.
Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan nyata yang dihadapi warga. Meski produk olahan pisang sudah tercipta, keterbatasan akses pasar dan promosi yang belum maksimal masih menjadi batu sandungan. Melalui kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya, Pemerintah Gampong, dan universitas, program ini diperluas dari September hingga Desember 2025 dengan fokus yang lebih besar: mewujudkan desa tangguh bencana melalui UMKM hijau.
Para mahasiswa dan dosen membimbing warga untuk beralih dari kebiasaan bertani konvensional yang bergantung pada bahan kimia, menuju pertanian regeneratif yang menjaga kelestarian tanah. Upaya ini membuahkan hasil manis. Produk keripik “Aku Pisang” kini berkembang menjadi enam varian rasa dengan kemasan baru yang lebih modern dan telah mengantongi izin P-IRT resmi, sehingga aman dan siap merambah toko-toko swalayan.

Masyarakat Desa Alue Krueng tidak hanya diajarkan untuk bertahan secara ekonomi, tetapi juga tangguh saat alam sedang tidak bersahabat. Mengingat wilayah ini rawan terdampak banjir yang kerap memutus jalur distribusi elpiji, mahasiswa memutar otak mencari solusi energi alternatif.
Dari tumpukan limbah pertanian yang melimpah, mereka menciptakan briket biomassa sebagai bahan bakar pengganti. Briket ini diproyeksikan menjadi penyelamat dapur warga agar tetap bisa mengepul dan berproduksi saat bencana datang melanda.
Muhammad Reza Aulia, S.Pt., M.Si., selaku ketua tim dosen pendamping, menjelaskan manfaat ganda dari inovasi ini dari sisi ekonomi dan lingkungan.
“Penggunaan briket dari limbah pertanian ini mampu menekan biaya operasional produksi warga hingga 30 persen. Selain menghemat kantong, inovasi ini juga efektif mengurangi pencemaran lingkungan di sekitar desa.” ujar Reza.

Langkah yang digagas oleh Pusat Riset Human Development and Entrepreneurship Centre (HDEC) UTU ini pun mendapat perhatian dari kelapa daerah setempat. Bupati Aceh Jaya, Safwandi, S.Sos., M.AP., memberikan apresiasi tinggi terhadap model kolaborasi yang tercipta di Desa Alue Krueng. Menurutnya, konsep UMKM hijau dan pemanfaatan energi biomassa sangat cocok dengan kondisi geografis Aceh Jaya. Ia berharap model pemberdayaan ini dapat dicontoh dan diterapkan di desa-desa lain sebagai strategi pemulihan ekonomi masyarakat setelah dilanda bencana.
Programnya mungkin telah selesai. Namun kisahnya masih terus berlanjut. Perjalanan Desa Alue Krueng menjadi bukti nyata bahwa parang dan cangkul di tangan petani, jika dipadukan dengan ilmu dan inovasi dari kampus mampu menciptakan ketahanan yang luar biasa. Cerita dari Alue Krueng menjadi bukti bahwa kemandirian ekonomi dan energi budan hal mustahil untuk diwujudkan. [Humas UTU]
Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa




