Rusunawa UTU: Saat Empati dan Pelayanan Melebur di Hunian Kampus

Oleh: Ahmad Fauzi, S.Pd., (Ketua Tim Pengelola Residence Rusunawa UTU)

Residence Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di lingkungan universitas sering kali hanya dipandang sebagai fasilitas fisik—sebuah gedung tempat mahasiswa menaruh barang dan merebahkan kepala selepas kuliah. Namun, bagi Universitas Teuku Umar (UTU), Rusunawa adalah entitas hidup. Ia adalah rumah kedua bagi para mahasiswa yang datang dari berbagai penjuru dengan latar belakang budaya dan karakter yang majemuk. Di sinilah pengelolaan sebuah hunian kampus diuji. Menjalankan fungsi administratif belaka jelas tidak lagi cukup.

Mengelola Rusunawa adalah seni merawat kemanusiaan, yang pondasinya bertumpu pada dua pilar utama: pelayanan yang humanis dan responsif. Pelayanan humanis menuntut transformasi peran dari para pengelola. Pengurus dan kakak pengasuh di Rusunawa UTU tidak boleh terjebak sebagai “polisi pamong praja kampus” yang sekadar mengawasi dan menegakkan aturan secara kaku. Mereka adalah pendamping, pendengar yang baik, dan pemberi solusi. Ketika mahasiswa rantau mengalami gegar budaya (culture shock) atau tekanan akademis, pendekatan yang empati, ramah, dan santun menjadi penawar yang ampuh. Menghadirkan rasa aman dan nyaman secara psikologis akan otomatis melahirkan atmosfer kekeluargaan. Dari sinilah harmoni bermula. Saat mahasiswa merasa “wong-kan” (dimanusiakan), mereka akan dengan sendirinya menjaga rumah kedua mereka dengan penuh rasa memiliki.

Penting untuk dipahami bahwa empati tanpa aksi nyata akan menjadi jargon kosong. Dalam hal inilah pentingnya aspek kedua, yakni, responsif. Masalah teknis dan sosial di hunian vertikal seperti Rusunawa adalah keniscayaan. Mulai dari fasilitas yang rusak, isu kebersihan, keamanan, hingga dinamika kedisiplinan mahasiswa. Sikap cepat tanggap (responsif) adalah indikator utama dari sebuah kepedulian. Ketika pengelola lambat merespons keluhan, ketidaknyamanan akan berakumulasi menjadi ketidakpercayaan. Sebaliknya, tindakan cepat dan tepat yang diambil tim pengelola saat ada masalah tidak hanya menyelesaikan problem fisik, tetapi juga membangun reputasi dan kepercayaan penghuni terhadap institusi kampus.

Mewujudkan hunian yang ideal tentu mustahil dilakukan secara searah. Kunci dari keberlanjutan pelayanan bermutu ini adalah kolaborasi yang solid antara pengurus Rusunawa, kakak pengasuh, mahasiswa penghuni, hingga birokrasi pihak kampus. Kombinasi program yang telah berjalan di UTU—seperti briefing rutin, rapat koordinasi, gotong royong kebersihan, hingga kegiatan sosial-keagamaan—bukan sekadar agenda seremonial. Kegiatan-kegiatan ini adalah ruang perjumpaan untuk meruntuhkan sekat antara “yang mengatur” dan “yang diatur”. Melalui ruang kolaborasi ini, inovasi pelayanan bisa lahir dari bawah (bottom-up).

Di atas itu semua, pelayanan humanis dan responsif bukanlah beban individu, melainkan tanggung jawab kolektif. Dengan merawat semangat kebersamaan ini, Tim Rusunawa UTU tidak hanya sedang mengelola sebuah gedung bertingkat, tetapi sedang membangun sebuah peradaban kecil: sebuah lingkungan hunian mahasiswa yang nyaman, aman, disiplin, dan sarat akan nilai-nilai kekeluargaan.

Related Posts

Leave a Reply