Kobaran api yang membakar tong besi di halaman Gedung Rektorat Universitas Teuku Umar (UTU) langsung padam dalam hitungan detik setelah disemprot tabung Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Aksi tersebut dilakukan oleh para petugas kebersihan, laboran, tenaga kependidikan (tendik), dan Satuan Pengamanan (Satpam) yang mengikuti praktik langsung simulasi pemadaman kebakaran, Kamis (20/8/2026).
Pelatihan yang berlangsung sejak pagi di Aula Cut Nyak Dhien dan dilanjutkan di halaman depan kampus UTU ini digelar untuk membekali personel garda depan dengan kemampuan mitigasi bencana api. Langkah ini berfokus pada pencegahan korban jiwa serta penekanan risiko kerugian fasilitas kampus akibat kebakaran.
Kepala Biro Perencanaan, Keuangan, dan Umum UTU, Zulfirman, S.E., M.Si., saat membuka acara menyampaikan bahwa kesiapsiagaan di level staf operasional menentukan keselamatan seluruh warga kampus. Petugas di lapangan adalah orang pertama yang berpotensi menemukan titik api di area kerja.
“Saat kondisi darurat, respons pada menit-menit pertama sangat menentukan. Peserta wajib paham dan mampu menggunakan APAR secara tepat, cepat, serta tetap memperhatikan keselamatan diri,” kata Zulfirman di hadapan para peserta.

Zulfirman menambahkan, peningkatan kapasitas personil dalam aspek keselamatan kerja menjadi prioritas untuk menjamin keamanan area kampus. Ilmu yang didapat dari sesi ini wajib disebarluaskan ke rekan kerja di unit masing-masing.
Materi pelatihan disampaikan langsung oleh Koordinator Pemadam Kebakaran BPBD Kabupaten Aceh Barat, Ahmadsyah. Pembekalan dimulai dari teori penyebab api, klasifikasi kebakaran, pengenalan jenis APAR, hingga langkah awal yang harus diambil saat mendeteksi percikan api.
Di sesi luar ruangan, peserta diajarkan teknik dasar penanganan api secara intuitif. Mereka mempraktikkan metodePASS (Pull, Aim, Squeeze, Sweep)—mencabut pin pengaman, mengarahkan corong ke pangkal api, menekan tuas, dan menyapu semprotan dari sisi ke sisi dari jarak aman.

Ahmadsyah menekankan pentingnya penguasaan diri saat situasi kritis. Menurutnya, kepanikan justru kerap menjadi penyebab kegagalan pemadaman awal.
“APAR khusus dirancang untuk menangani api skala kecil di tahap awal. Penggunaannya harus presisi, mulai dari memilih tabung yang sesuai dengan sumber api hingga teknik menyemprotnya. Melalui latihan fisik seperti ini, refleks peserta terlatih sehingga mereka siap bertindak tanpa panik,” ujar Ahmadsyah.
Melalui pelatihan praktis ini, seluruh staf terampil UTU ditargetkan mampu mengambil tindakan darurat secara mandiri guna meminimalkan risiko bahaya kebakaran pada manusia dan aset universitas. [Humas UTU]
Laporan: Shinta | Editor: Yuhdi | Foto: Shinta.




