Jakarta – UTU | Rektor Universitas Teuku Umar (UTU), Prof. Dr. Nyak Amir, S.Pd., M.Pd., menemui Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., di Jakarta, Kamis (22/10/2026). Diskusi yang berlangsung dalam suasana hangat tersebut berfokus pada rencana pemanfaatan fasilitas penelitian, pendampingan sumber daya manusia, hingga hilirisasi inovasi, termasuk pengembangan Science Techno Park (STP) Agro-Marine.
Dalam pertemuan tersebut, Rektor UTU didampingi oleh Wakil Rektor III UTU, H. Ibrahim Laweung HS., SKM., MNSc., Sekretaris LPPM UTU Ir. Herri Darsan, S.T., M.T., serta Ketua Tim Perencanaan UTU, Romi Setiawan, S.Pd., M.Pd. Kedua belah pihak mematangkan persiapan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang akan menjadi landasan kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kemitraan ini, dosen dan mahasiswa UTU dapat mengakses fasilitas laboratorium, pendanaan riset, serta bimbingan langsung dari para peneliti BRIN.
Rektor UTU, Prof. Dr. Nyak Amir, menyatakan bahwa pertemuan ini menjadi pijakan awal untuk merealisasikan program teknis di lapangan, bukan sekadar kesepakatan di atas kertas.
“UTU ingin memastikan kerja sama ini berlanjut menjadi program yang konkret. Kami ingin dosen memiliki lebih banyak kesempatan mengembangkan kapasitas riset, mahasiswa memperoleh pengalaman penelitian yang memadai, dan hasil penelitian perguruan tinggi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah Barat Selatan Aceh,” ujar Nyak Amir.
Sementara itu, Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menekankan pentingnya pembagian peran antara akademisi dan lembaga riset pemerintah dalam mendorong pembangunan daerah.
“Kolaborasi perguruan tinggi dan lembaga riset perlu diarahkan pada pengembangan kapasitas peneliti, pelaksanaan riset bersama, serta pemanfaatan hasil penelitian. Potensi dan kepakaran yang dimiliki UTU dapat dikembangkan melalui kerja sama yang terarah sesuai kebutuhan daerah dan prioritas riset nasional,” tutur Prof. Arif Satria.
Sejumlah agenda teknis turut disepakati dalam pembahasan tersebut. Pada tingkat pendidikan lanjut, dosen UTU berkesempatan mengikuti program Degree by Research (DbR) untuk jenjang doktoral berbasis riset di bawah bimbingan periset BRIN.

Untuk pendanaan dan fasilitas, pengajar di UTU didorong mengajukan proposal riset bersama periset BRIN melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM). Kedua pihak juga menjajaki pembentukan Pusat Kolaborasi Riset (PKR) yang disesuaikan dengan kepakaran masing-masing.
Bagi mahasiswa, kerja sama ini membuka jalur magang riset di laboratorium BRIN dengan pendampingan peneliti profesional. Pada aspek hilirisasi, riset ditargetkan menghasilkan prototipe, hak kekayaan intelektual, dan transfer teknologi yang dapat diterapkan oleh pelaku industri, UMKM, petani, serta nelayan.
Fokus riset bersama ini mencakup lima bidang utama: Agro and Marine Industry, teknologi manufaktur, Internet of Things (IoT), energi baru terbarukan, dan teknologi tepat guna.
Sebagai pilar utama implementasi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UTU mengarahkan pembentukan Science Techno Park (STP) Agro-Marine. Fasilitas ini disiapkan sebagai pusat komersialisasi riset pertanian dan kelautan yang menghubungkan kampus dengan dunia usaha.
Prof. Nyak Amir menegaskan, keberadaan STP Agro-Marine dirancang untuk memberikan dampak langsung pada perekonomian lokal di Aceh.
“Kami ingin riset di UTU semakin dekat dengan kebutuhan petani, nelayan, pelaku UMKM, dan industri. Melalui pengembangan STP Agro-Marine, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga berkembang menjadi teknologi dan produk yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” tegasnya.
Sebagai langkah lanjutan, UTU dan BRIN menunjuk tim teknis atau person in charge (PIC) dari masing-masing institusi untuk menyusun detail pelaksanaan program prioritas serta mekanisme kerjanya. [Humas UTU]
Laporan: HRD | Editor: YFH | Foto: Istimewa.




