Meulaboh – UTU | Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum Universitas Teuku Umar (UTU), Dr. Mursyidin, M.A., melaksanakan monitoring dan evaluasi di empat desa dalam Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Jumat (14/8/2026). Peninjauan lapangan ke Gampong Cot Darat, Cot Mesjid, Cot Pluh, dan Cot Seumeureung ini dilakukan untuk mengukur ketercapaian dan dampak program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler 2026 terhadap persoalan warga lokal.
Suasana hangat mewarnai Posko KKN Gampong Cot Pluh saat rombongan pimpinan kampus tiba. Didampingi Panitia dari Pusat KKN dan MBKM UTU, Kasmawati, M.T., Dr. Mursyidin duduk melingkar bersama para mahasiswa dan Keuchik setempat. Dalam dialog terbuka tersebut, mereka membedah capaian kerja harian serta kendala teknis yang dihadapi di lapangan.
Dr. Mursyidin menegaskan, kunjungan ini bertujuan mengukur keterlibatan aktif dan solusi konkret yang ditawarkan mahasiswa, bukan sekadar memverifikasi daftar hadir.
“Universitas hadir di tengah warga melalui mahasiswa. Kami ingin mahasiswa tidak sebatas menjalankan formalitas program, tetapi membangun komunikasi rapat dengan perangkat gampong, menyelami potensi lokal, lalu menyodorkan jalan keluar atas kendala yang dihadapi masyarakat,” ujar Dr. Mursyidin di sela-sela kegiatan peninjauan.

Ia memberikan apresiasi kepada jajaran pemerintah desa dan warga Samatiga yang telah menerima serta mendampingi mahasiswa selama masa pengabdian.
Dampak dari program kerja mahasiswa dirasakan langsung oleh aparatur desa. Keuchik Gampong Cot Pluh, Tarmizi, menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa membawa perubahan pada tata kelola harian gampong, mulai dari pembenahan administrasi desa, pendampingan kegiatan belajar anak-anak, hingga partisipasi dalam acara sosial keagamaan.
“Kehadiran anak-anak KKN terasa sekali dampaknya. Mereka bantu tata kelola administrasi dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Kami berharap hubungan baik antara gampong dan UTU terus terjalin berkesinambungan,” tutur Tarmizi.

Dari sisi teknis pendampingan, Kasmawati, M.T., secara berkala menyesuaikan program kerja dengan karakteristik tiap desa. Menurutnya, keragaman masalah di tiap gampong menuntut pendekatan yang berbeda dari para mahasiswa.
“Tiap gampong punya potensi unik. Fokus utama kami adalah memastikan ada karya atau sistem yang tetap hidup dan bisa diteruskan warga meski masa KKN nanti sudah usai,” kata Kasmawati.
Dalam sesi evaluasi akhir, Dr. Mursyidin meninjau aspek kedisiplinan, pembauran dengan warga, serta ketepatan solusi yang diterapkan. Penilaian menyeluruh ini menjadi tolok ukur pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di UTU, sekaligus menjadi wadah penggodokan mahasiswa dalam menyelesaikan persoalan masyarakat secara langsung. [Humas UTU]
Laporan: Humas | Foto: Istimewa.




