Hilirisasi Riset Universitas Teuku Umar Lahirkan Sistem Digital Pencegahan Stunting di Aceh Barat

Meulaboh – UTU | Universitas Teuku Umar (UTU) merealisasikan hilirisasi riset ke masyarakat dengan meluncurkan Dashboard Gizi Versi 2.0 dan Sistem Early Warning Gizi (EWS) 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Inovasi berbasis data ini diperkenalkan secara langsung dalam kegiatan Gerakan Aceh Barat Tanggap Risiko Stunting di Aula BAPPERIDA Kabupaten Aceh Barat, Rabu (17/6).

Langkah kampus membawa produk penelitian laboratorium menjadi instrumen praktis di lapangan mendapat apresiasi dari pemerintah daerah. Wakil Bupati Aceh Barat, Said Fadheil, S.H., menilai hilirisasi riset ini menjadi contoh konkret bagaimana perguruan tinggi dapat menjawab langsung kebutuhan nyata pembangunan daerah, khususnya dalam mempercepat penurunan angka stunting.

“Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menyambut baik dan mengapresiasi inovasi yang dikembangkan oleh Universitas Teuku Umar melalui Dashboard Gizi dan Sistem Early Warning Gizi 1000 HPK. Inovasi ini menjadi contoh nyata bagaimana hasil penelitian perguruan tinggi dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan mendukung program pembangunan daerah,” ujar Said Fadheil saat membuka acara.

Wakil Bupati menambahkan, penanganan stunting yang efektif membutuhkan transformasi metode kerja dari yang semula responsif menjadi pencegahan sejak dini melalui akurasi data. Sinergi antara pemerintah daerah, universitas, tenaga kesehatan, hingga pemerintah gampong menjadi kunci agar hilirisasi riset ini berjalan berkelanjutan.

Hadir langsung mewakili pimpinan universitas, Wakil Rektor bidang Akademik dan Kerja Sama UTU, Dr. Ir. M. Aman Yaman, M.Agric.Sc. Ia menegaskan bahwa peluncuran teknologi ini merupakan bagian dari komitmen institusi untuk memastikan setiap riset akademik memiliki dampak sosial dan ekonomi yang nyata. Kampus tidak ingin hasil pemikiran para dosen hanya tersimpan di ruang perpustakaan.

“Mewakili Rektor, Saya igin sampaikan bahwa pimpinan UTU sangat mendukung penuh hilirisasi riset seperti ini. Melalui kerja sama erat antara dunia akademik dan pemerintah daerah, tentu kita dapat mengubah hasil penelitian menjadi solusi praktis yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Ini adalah wujud UTU hadir dan berdampak untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan dan kesejahteraan warga di Aceh Barat,” ujar Dr. Aman Yaman dalam sambutannya.

Produk teknologi yang diluncurkan ini merupakan hasil riset jangka panjang yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Ketua Tim Peneliti UTU, Teungku Nih Farisni, S.KM., M.Kes., menjelaskan bahwa proses hilirisasi ini melampaui beberapa fase pengembangan ilmiah.

Pada tahun 2025, tim peneliti Fakultas Ilmu Kesehatan UTU terlebih dahulu merampungkan Dashboard Gizi Versi 1.0 beserta model tata kelola pencegahan stunting berbasis gampong (desa -red). Memasuki tahun 2026, hasil riset tersebut dikembangkan secara lebih luas ke dalam sistem prediksi digital.

“Melalui sistem ini, kita ingin mengubah paradigma pencegahan stunting dari yang selama ini cenderung reaktif menjadi lebih prediktif. Risiko dapat diidentifikasi lebih awal sehingga intervensi dapat dilakukan sebelum anak mengalami gangguan pertumbuhan,” ungkap Farisni yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Kesehatan UTU tersebut.

Secara teknis, hilirisasi produk riset ini diimplementasikan dalam bentuk aplikasi pemantauan terintegrasi. Petugas kesehatan di lapangan dapat menggunakan sistem ini untuk melacak kondisi kesehatan ibu hamil, bayi, dan anak di bawah usia dua tahun secara cepat. Melalui data tersebut, faktor risiko seperti Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu, serta gejala wasting (kurus) dan stunting pada anak dapat dipetakan, sehingga intervensi bantuan gizi menjadi lebih tepat sasaran.

Keunggulan dari sistem prediksi risiko stunting ini terletak pada dasar ilmiah riset lanjutan UTU yang memanfaatkan biomarker pertumbuhan biologis, yaitu Growth Hormone (GH) dan Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1). Penelitian terkini membuktikan bahwa sumbu hormon tersebut sangat menentukan perkembangan fisik anak, sehingga diadopsi oleh tim peneliti ke dalam sistem digital untuk menghasilkan deteksi dini yang lebih presisi.

Peluncuran hasil riset ini dihadiri oleh jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Wakil Rektor I UTU, Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Kesehatan, Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong, DP3AKB, kepala puskesmas, bidan koordinator, penanggung jawab gizi, hingga perangkat gampong yang menjadi prioritas penanganan stunting.

Selain pengenalan sistem, kegiatan juga diisi dengan demonstrasi langsung penggunaan aplikasi kepada para tenaga kesehatan, edukasi gizi 1000 HPK, pemeriksaan kesehatan, dan diskusi lintas sektor terkait kesiapan infrastruktur di tingkat gampong.

Sebagai bentuk komitmen pemanfaatan hasil riset kampus secara massal, acara diakhiri dengan Deklarasi Aceh Barat Tanggap Risiko Stunting serta penandatanganan komitmen bersama implementasi Sistem EWS 1000 HPK oleh seluruh pemangku kepentingan yang hadir.

“Kami berharap inovasi ini dapat menjadi model kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam memperkuat sistem deteksi dini risiko stunting berbasis teknologi dan data. Hilirisasi riset harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dan mendukung lahirnya generasi Aceh Barat yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing,” kata Farisni memungkasi penjelasannya.

Melalui langkah ini, UTU menegaskan posisi peran perguruan tinggi agar tidak hanya berhenti pada publikasi karya ilmiah di atas kertas, tetapi mampu menyalurkan inovasinya secara nyata guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah. [Humas UTU]

Laporan: Tengku Nih F | Editor: Yuhdi F. | Foto: Istimewa

Related Posts

Leave a Reply