Meulaboh – UTU | Bau khas gurih olahan laut menyeruak di area produksi UMKM Sejahtera, Gampong Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Pertengahan Juli lalu. Di lokasi tersebut, 15 pembuat keripik mengamati dengan seksama kepulan asap tipis dari wajan deep frying yang suhunya terjaga stabil pada angka 150 hingga 170 derajat Celcius.
Penggunaan teknologi penggorengan modern ini merupakan bagian dari program “LUMI-CIRCLE: Transformasi UMKM Sejahtera Pangan Lokal Keripik Ikan Lumi-Lumi Khas Aceh Barat Berbasis Deep Frying dan Circular Economy”. Inisiatif tersebut diusung oleh Tim Pengabdian Universitas Teuku Umar (UTU) dalam kegiatan pendampingan masyarakat yang berlangsung pada 16–18 Juli 2026.
Inovasi tersebut didanai melalui Hibah Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026, lewat skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat. Tiga dosen UTU, Nur Ariyani Agustina, Sri Maryati, dan Andi ST Hadijah bersama dua mahasiswa turun langsung mendampingi warga setempat.
Sebelum adanya program ini, para pembuat keripik mengandalkan wajan biasa dan perkiraan perasaan saat mengatur api. Cara tradisional tersebut membuat tingkat kematangan, renyahnya tekstur, hingga warna keripik sering berbeda di setiap kemasan.

Ketua Tim Pengabdian UTU, Nur Ariyani Agustina, menjelaskan bahwa pendekatan yang dibawa berfokus pada efisiensi proses produksi dan pemahaman teknologi oleh masyarakat.
“Kami ingin teknologi yang diperkenalkan benar-benar menjawab persoalan mitra. Bukan hanya memiliki alat baru, tetapi mitra memahami penggunaannya untuk menghasilkan produk yang lebih konsisten, higienis, dan memiliki peluang pasar lebih baik,” kata Nur Ariyani di sela-sela pendampingan.
Selain teknik penggorengan terstandar sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dan penetapan Good Manufacturing Practices (GMP), tim UTU mengenalkan sistem circular economy. Minyak goreng sisa atau jelantah dari proses produksi tidak dibuang ke lingkungan, melainkan diajarkan untuk diolah kembali menjadi bahan baku sabun.
Dari sisi tampilan fisik, kemasan keripik yang semula rapat sederhana kini dialihkan ke bahan food grade menggunakan mesin Continuous Band Sealer. Pembaharuan pengemasan ini diproyeksikan memperpanjang masa simpan produk yang sebelumnya hanya bertahan 7 hari menjadi hingga 30 hari.
Materi pendampingan meluas hingga pengelolaan manajerial, mencakup pencatatan kas harian, kalkulasi Harga Pokok Produksi (HPP), penataan harga jual pasar, serta pemisahan antara uang dapur rumah tangga dan modal usaha.

Ketua UMKM Sejahtera, Afriani, mengungkapkan perubahan cara kerja yang dirasakan seluruh anggotanya setelah mengikuti alur pelatihan tersebut.
“Sebelumnya kami lebih banyak mengandalkan pengalaman saat menggoreng. Sekarang kami memahami bahwa suhu, waktu penggorengan, kebersihan peralatan hingga cara mengemas sangat menentukan kualitas keripik,” ujar Afriani.
Rangkaian pendampingan ini diarahkan untuk mengangkat potensi olahan ikan lumi-lumi khas pesisir Aceh Barat agar mampu menembus pasar yang lebih luas dengan kualitas yang teruji dan ramah lingkungan. [Humas UTU]
Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.




