Dosen UTU Kembangkan Model Mitigasi Multidimensi untuk Petani Terdampak Banjir Aceh Utara

Aceh Utara – UTU | Tim dosen Universitas Teuku Umar (UTU) merancang model mitigasi kerentanan multidimensional bagi rumah tangga petani padi di Kabupaten Aceh Utara. Langkah ilmiah ini diambil sebagai respons langsung atas peristiwa banjir bandang besar pada penghujung tahun 2025 yang merendam sedikitnya 17 kecamatan di wilayah tersebut, dengan kerusakan terparah melanda kawasan sentra produksi padi di Kecamatan Matangkuli, Pirak Timur, dan Lhoksukon akibat luapan Sungai Krueng Keureuto dan Krueng Pirak.

Inisiatif riset bertajuk “Model Mitigasi Kerentanan Multidimensional Petani Padi Pasca Banjir di Aceh Utara: Integrasi Fuzzy-set Qualitative Comparative Analysis (FsQCA) dan Pemetaan Spasial” ini berhasil mendapatkan dukungan pendanaan penuh melalui skema Penelitian Dosen Pemula, Hibah BIMA 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Tim riset ini diketuai oleh Irham Maulana, S.P., M.Si. (Dosen Program Studi Agribisnis UTU), berkolaborasi dengan Tsamarah Nur Rahmah, S.Hut., M.Si. (Agroteknologi UTU), Zakki Muhtaram, S.P., M.Si. (Agribisnis UTU), Ir. Muhammad Afzal, S.TP (Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Barat Daya), serta Keke Putri Anggraini Lestari, S.P. (Mahasiswa Magister Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada).

Urgensi pelaksanaan penelitian ini didasarkan pada data riil Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara yang mencatat sekitar 12.537 hektare tanaman padi mengalami gagal panen atau puso total akibat rendaman banjir bandang tersebut, dengan kerugian finansial yang ditaksir mencapai miliaran rupiah. Bencana ini tidak hanya merusak fisik lahan, tetapi memicu dampak sistemik pada kehidupan masyarakat pedesaan.

“Tim peneliti mengidentifikasi bahwa dampak buruk yang dialami oleh masyarakat petani tidak sekadar menyentuh kerusakan fisik lahan pertanian belaka, melainkan bersifat multidimensional yang mencakup destabilisasi sektor ekonomi, kerentanan hubungan sosial, pelemahan fungsi kelembagaan lokal, hingga penurunan kualitas kesehatan rumah tangga tani,” ujar Ketua Tim Peneliti, Irham Maulana.

Menurut Irham, formulasi kajian risiko dan kerentanan bencana di sektor pertanian selama ini dinilai masih parsial serta terlalu bertumpu pada pendekatan regresi linier tradisional. Pendekatan konvensional tersebut dinilai kurang memadai dalam mengurai kerumitan variasi serta jalur penyebab kerentanan di lapangan secara komprehensif.

Guna mengatasi batasan metodologi itu, tim peneliti UTU mengintegrasikan dua pendekatan mutakhir dalam skema operasional riset mereka. Pada tahap pertama, derajat kerentanan pada tingkat rumah tangga petani dikalkulasi menggunakan parameter Livelihood Vulnerability Index (LVI) yang dipadukan langsung dengan Geographic Information System (GIS) berbasis perangkat lunak QGIS untuk menghasilkan peta sebaran spasial kerentanan wilayah yang akurat.

Selanjutnya pada tahap kedua, tim menerapkan metode Fuzzy-set Qualitative Comparative Analysis (FsQCA), sebuah pendekatan konfiguratif yang masih sangat jarang diimplementasikan dalam studi kedaruratan bencana pertanian di Indonesia. Metode ini difungsikan khusus untuk mengidentifikasi seluruh kombinasi faktor, mulai dari penguasaan aset produksi, diversifikasi sumber pendapatan, jangkauan akses informasi, hingga fluktuasi kondisi lingkungan makro yang secara simultan membentuk jalur kausalitas penyebab kerentanan para petani.

“Kerentanan petani pasca-banjir jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi beberapa kondisi yang saling berkaitan. Melalui FsQCA, kami ingin membedah ‘resep’ kombinasi faktor tersebut, lalu memadukannya dengan peta spasial agar rekomendasi mitigasi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan karakteristik tiap wilayah, bukan generalisasi,” kata Irham menambahkan.

Aktivitas riset di lapangan diawali secara sistematis melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) internal tim sebagai persiapan teknis, disusul agenda koordinasi formal bersama jajaran pemangku kebijakan daerah. Tim peneliti telah diterima secara resmi oleh jajaran eksekutif Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk memaparkan desain operasional penelitian, yang kemudian dilanjutkan dengan audiensi mendalam bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara. Pertemuan dengan BPBD tersebut ditujukan untuk menyelaraskan basis data kebencanaan lintas sektoral, tingkat kerentanan sektoral wilayah, serta peta jalan program kesiapsiagaan yang sedang berjalan di daerah, sehingga hasil keluaran penelitian kelak dapat diadaptasikan langsung menjadi basis formulasi regulasi dan kebijakan proteksi pertanian lokal.

Pasca-koordinasi dengan otoritas daerah, tim perumus langsung melakukan penetrasi ke lapangan untuk menemui komunitas rumah tangga petani padi di wilayah kecamatan terdampak guna melaksanakan survei primer dan wawancara terstruktur berbasis kuesioner. Seluruh data primer yang dihimpun secara langsung dari para pelaku sektor pertanian ini dikumpulkan untuk diolah menjadi indeks kerentanan agregat sekaligus instrumen utama dalam analisis konfigurasi model FsQCA.

Riset yang ditargetkan berjalan sepanjang satu tahun ini memproyeksikan pencapaian tiga indikator luaran utama yang terukur, meliputi publikasi artikel ilmiah pada berkala jurnal nasional terakreditasi peringkat SINTA 2, perolehan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas dokumen Peta Distribusi Tingkat Kerentanan Rumah Tangga Petani Padi di Kabupaten Aceh Utara, serta penyusunan lembar naskah kebijakan. Naskah kebijakan atau policy brief tersebut akan diserahkan langsung kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara sebagai panduan teknis pelaksanaan kebijakan mitigasi bencana yang berbasis pada bukti empiris lapangan.

“Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya di Aceh Utara, dan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk pemerintah daerah dalam melakukan mitigasi ke depan,” tutur Irham.

Melalui perolehan data dan formulasi model ini, luaran riset ditargetkan mampu bertransformasi menjadi rujukan utama bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dalam merumuskan postur kebijakan pembangunan pertanian daerah yang memiliki ketahanan tinggi terhadap dinamika bencana alam. Selain itu, langkah ilmiah ini diharapkan mampu memperkaya khazanah penerapan pendekatan konfiguratif pada studi manajemen risiko bencana di lingkup nasional. Sebagai keberlanjutan jangka panjang, tim juga telah merancang agenda validasi lapangan secara partisipatif yang dijadwalkan pada tahun 2027, serta agenda hilirisasi riset berupa pembuatan sistem pendukung keputusan atau Decision Support System beserta instrumen kebijakan terapan pada tahun 2028 mendatang. [Humas UTU]

Laporan: Yuhdi | Foto: Istimewa

Related Posts

Leave a Reply