Meulaboh – UTU | Bagi sebagian mahasiswa, menyelesaikan tugas akhir dan bersiap menghadapi kelulusan adalah akhir dari sebuah rutinitas yang melelahkan. Namun, bagi Nur Azizah, mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Teuku Umar (UTU) setiap hela napas di masa akhir perkuliahannya justru menjadi babak baru untuk merajut mimpi yang lebih besar.
Pintu ruang kerja dosen dan riuh rendah suara anak-anak yang dia ajar dalam les privat menjadi saksi bisu keseharian Azizah. Setelah berhasil melewati tahap sidang yang menguras energi, dia tidak memilih untuk bersantai. Gadis ini tetap mengalirkan energinya untuk mengajar, membantu berbagai proyek penelitian dosen, serta terus berburu ruang untuk mematangkan potensi diri. Di balik ketekunan tersebut, tersimpan sebuah dorongan yang sangat bersahaja, yakni keinginan mendalam untuk melihat senyuman di wajah kedua orang tuanya.
Impian dan kerja keras itu kini membuahkan hasil yang manis. Langkah kaki Azizah bersiap membawanya melintasi batas negara. Azizah terpilih sebagai salah satu delegasi Indonesia dalam ajang bergengsi The 4th International Youth Conference (IYC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 27 hingga 28 Juni 2026 di Malaysia dan Singapura. Forum internasional yang diinisiasi oleh Setara Prisma Nusantara atau Nusantara Muda, bekerja sama dengan Asia Pacific Student Association dan Nanyang Technological University ini bakal mengumpulkan sekitar 150 peserta berbakat dari lima negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, India, dan Thailand.
Menariknya, kesempatan besar ini tidak datang dari fasilitas kemewahan. Melainkan dari sebuah kebiasaan sederhana yang konsisten dia lakukan, yakni keaktifan mencari informasi di media sosial. Dari layar gawainya, Azizah menelusuri peluang. Menelaah persyaratan. Terkadang dia bertukar pikiran dengan dosen pembimbing, hingga menyusun gagasan ilmiah secara mandiri. Seluruh proses administrasi dan pencarian pendanaan ditempuhnya dengan penuh keteguhan hati demi mewujudkan gagasan pelestarian lingkungan yang dia bawa.
“Saya berpikir, kalau ada peluang kenapa tidak dicoba. Kadang kesempatan itu memang harus dicari dan diperjuangkan sendiri. Saya sering berpikir, kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak? Kita sama-sama memulai dari usaha dan proses,” ujar Nur Azizah mengenang awal keterlibatannya.
Dalam konferensi tingkat dunia tersebut, Azizah bersiap memaparkan sebuah inovasi lingkungan yang berfokus pada pengolahan sampah organik menjadi produk yang memiliki nilai guna tinggi. Bagi Azizah, memiliki ide yang cemerlang saja belum cukup untuk meyakinkan dunia. Keberanian untuk tampil dan kecakapan dalam menyampaikan gagasan merupakan kunci utama yang menentukan dalam ketatnya proses seleksi.
“Kita mungkin punya ide yang bagus, tapi harus bisa menyampaikannya dengan baik supaya orang lain memahami dan percaya dengan gagasan yang kita bawa,” tambahnya.

Namun, di balik gemerlap panggung internasional dan tiket penerbangan yang telah di tangan, motivasi terbesar mahasiswi ini rupanya berada jauh di dalam rumahnya. Kedua orang tua Azizah tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengecap bangku pendidikan formal. Realitas itulah yang justru memicu api semangat di dalam diri Azizah untuk membuktikan bahwa pengorbanan keluarganya tidak boleh berakhir sia-sia.
“Yang membuat saya terus mencoba adalah orang tua. Saya ingin mereka bangga dan melihat bahwa pendidikan bisa membawa perubahan. Kadang setelah ikut kegiatan, saya video call orang tua. Rasanya senang melihat mereka tersenyum atau bahkan terharu dengan apa yang saya capai,” tuturnya dengan mata berbinar.
Bagi Azizah, memperlihatkan selembar sertifikat penghargaan atau menceritakan pengalamannya dipercaya tampil di hadapan publik internasional merupakan sebuah hadiah paling mewah yang tidak bisa dinilai dengan materi. Bagi Azizah, keberangkatan ke luar negeri ini bukanlah akhir dari perjalanannya, melainkan sebuah pembuktian nyata bahwa mahasiswa dari daerah memiliki peluang dan ruang yang sama luasnya untuk bersaing di tingkat global.
Azizah juga menyoroti betapa pentingnya membangun lingkaran pertemanan yang sehat dan suportif. Mahasiswa perlu membuka diri untuk menjalin relasi dengan orang-orang yang aktif dan mempunyai semangat untuk bertumbuh, agar informasi serta peluang baru bisa saling mengalir. Melalui kisah perjalanannya, Azizah menyelipkan sebuah pesan berharga bagi rekan-rekan sesama mahasiswa yang sering kali dirundung rasa ragu untuk melangkah keluar dari zona nyaman.
“Jangan tunggu merasa hebat untuk memulai. Karena kemampuan itu tumbuh saat kita terbiasa mencoba,” kata Azizah penuh optimisme.
Kisah Nur Azizah memberikan perspektif baru bahwa esensi menjadi mahasiswa yang produktif tidak melulu soal mengejar pengakuan akademik semata. Prestasi tertinggi terkadang lahir dari ketulusan hati seorang anak yang ingin membalas budi dan memuliakan perjuangan orang tuanya. Dari ruang kuliah di Universitas Teuku Umar hingga ke forum internasional di Malaysia dan Singapura, Azizah membuktikan bahwa perpaduan antara keberanian mencoba dan niat yang tulus mampu membuka jalan yang luas menuju masa depan. [Humas UTU]
Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa




