Puslit-HD UTU Rancang Pembelajaran Bahasa Berbasis Ekopedagogi untuk Tekan Deforestasi Aceh

Meulaboh – UTU | Maraknya pembalakan liar, tambang ilegal, dan alih fungsi lahan yang mengikis kawasan hutan Aceh Barat mendorong akademisi Universitas Teuku Umar (UTU) mengintegrasikan isu krisis lingkungan ke dalam materi perkuliahan. Melalui Pusat Riset Literasi dan Humaniora Digital (Puslit-HD), kampus negeri di Meulaboh ini merancang model pembelajaran bahasa yang mengharuskan mahasiswa menganalisis kasus ekologi lokal sekaligus memproduksi aksi penyelamatan lingkungan.

Pengembangan kurikulum berbasis ekopedagogi ini berjalan dalam kerangka Penelitian Penugasan Pusat Riset (PPPR) dengan pendanaan PNBP LPPM UTU. Tim peneliti memadukan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) kerangka Norman Fairclough dengan prinsip Ekopedagogi. Modul baru tersebut dijadwalkan masuk ke dalam mata kuliah wajib Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris mulai semester ganjil tahun ajaran 2026/2027.

Di dalam ruang kerja Puslit-HD yang dipenuhi tumpukan draf silabus dan kliping laporan berita lingkungan, Kepala Puslit-HD UTU, Firman Parlindungan, Ph.D., berdiskusi intensif bersama tim peneliti untuk mematangkan materi pengajaran. Kepada Humas UTU pada Minggu (13/9/2026), Firman menjelaskan alasan utama memilih isu deforestasi sebagai inti pembahasan kelas.

“Isu deforestasi berdampak langsung pada sektor pertanian dan ekosistem pesisir yang menjadi fokus keilmuan kami di bidang agro-and-marine industry. Lewat kurikulum ini, mahasiswa diajak memahami bahwa teks, media, dan bahasa memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebijakan maupun kesadaran publik terhadap alam,” ujar Firman di sela-sela penelaahan dokumen kurikulum.

Pengintegrasian isu ekologi ke dalam bahan ajar ini dirancang untuk memenuhi tolok ukur capaian UTU pada UI GreenMetric World University Ranking. Selain itu, program ini diselaraskan dengan indikator Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4 mengenai pendidikan berkualitas dan SDGs nomor 13 terkait penanganan perubahan iklim.

Proses perancangan riset menerapkan metode Design-Based Research (DBR) yang berpatokan pada tiga pilar utama. Desainer riset Puslit-HD UTU, Rismawati, M.Pd., menjabarkan bahwa pilar pertama memanfaatkan kerangka Analisis Wacana Kritis Fairclough agar mahasiswa mampu mendeteksi bias bahasa, konstruksi berita, serta kepentingan sosial-politik di balik pemberitaan isu lingkungan.

Pilar kedua mengaplikasikan Ekopedagogi untuk mengarahkan kesadaran lingkungan menjadi aksi nyata. Sementara pilar ketiga menjadikan data lapangan terkait kasus deforestasi di Aceh yang dihimpun dari laporan media massa dan kampanye digital sebagai bahan kajian utama dalam setiap diskusi kelas.

Tim peneliti yang terdiri dari Veni Nella Syahputri, M.Pd., Rusma Setiyana, M.Pd., dan Giovanni Oktavinanda, M.Pd., saat ini sedang menyusun seperangkat produk dari program ini. Hasil akhir riset ditargetkan terbit di jurnal terakreditasi, dicetak menjadi buku ajar ber-ISBN, didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), serta diproduksi dalam bentuk media pembelajaran digital seperti video edukasi dan poster interaktif.

Prototipe model pembelajaran bahasa berbasis lingkungan ini ditargetkan dapat direplikasi oleh perguruan tinggi lain di Indonesia sebagai acuan dalam memadukan literasi bahasa dengan upaya pelestarian alam. [Humas UTU]

Laporan: Rismawati | Foto: Istimewa

Related Posts

Leave a Reply