Malaysia – UTU | Sivitas akademika Universitas Teuku Umar kini memperoleh akses yang lebih terbuka untuk menjalankan program riset serta melanjutkan studi di lingkup Asia Tenggara. Hal ini dipastikan setelah dilakukannya penandatanganan nota kesepahaman (MoU) lintas negara yang menghubungkan perguruan tinggi dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand di aula School of International Studies, Universiti Utara Malaysia, Selasa (4/8/2026).
Dalam kerja sama trilateral ini, UTU berdiri sejajar bersama empat universitas negeri asal Indonesia lainnya, yakni Universitas Syiah Kuala, Universitas Malikussaleh, Universitas Riau, dan Universitas Halu Oleo. Sementara itu, keterlibatan konsorsium dari Thailand diwakili oleh Prince of Songkla University Kampus Pattani, dengan Universiti Utara Malaysia bertindak sebagai tuan rumah penandatanganan.
Timbalan Naib Canselor Akademik dan Antarabangsa Universiti Utara Malaysia, Prof. Dr. Mohd Azizuddin Mohd Sani, yang ditemui di sela-sela kegiatan, menyatakan bahwa indikator tercapainya kerja sama ini diukur dari manfaat nyata yang dirasakan oleh sivitas akademika dari kampus yang bekerjasama dan masyarakat luas.
“Program ini harus ada exchange knowledge. Pertukaran ilmu dan pengalaman antar-universiti menjadi kunci agar kerja sama ini benar-benar berjalan dan bermanfaat bagi kedua belah pihak,” ujar Prof. Dr. Mohd Azizuddin Mohd Sani.
Hasil nyata dari kerja sama ini akan langsung dirasakan oleh dosen dan mahasiswa Universitas Teuku Umar melalui peningkatan kapasitas akademik internasional. Rektor Universitas Teuku Umar Prof. Dr. Nyak Amir, M.Pd., menegaskan bahwa keterbukaan jejaring regional ini memberi nilai tambah bagi daya saing lulusan tanpa mengesampingkan fokus utama kampus dalam membangun daerah.
“Bagi Universitas Teuku Umar, kerja sama antar-bangsa merupakan keutamaan dalam usaha mengokohkan capaian akademik serta meningkatkan daya saing universitas di peringkat global, tanpa mengabaikan tanggungjawab untuk terus menyumbang kepada pembangunan masyarakat,” kata Prof. Dr. Nyak Amir, M.Pd.
Prof. Nyak Amir mengungkapkan rasa optimis bahwa kerja sama kelembagaan ini menjadi sarana lahirnya riset-riset aplikatif dan aksi kemanusiaan di tingkat Asia Tenggara.
“Kami yakin bahwa dengan semangat saling percaya, saling menghormati dan saling melengkapi, institusi-institusi kita mampu melahirkan lebih banyak peluang kepada tenaga pendidik, peneliti, mahasiswa serta masyarakat di lingkup Asia Tenggara,” tuturnya.
Kegiatan ini mengusung tema “Budaya Melayu Lestari Sebagai Modal Sosial Masyarakat Serumpun Asia Tenggara” (Sustainable Malay Culture as Social Capital of the Kindred Societies of Southeast Asia). Menurut Prof. Nyak Amir, tema ini diambil karena akar kebudayaan Melayu yang mengikat Indonesia, Malaysia, dan Thailand dinilai memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk merespons berbagai tantangan kawasan saat ini.
“Tema program pada tahun ini mengingatkan kita bahwa warisan budaya Melayu yang disepakati bersama merupakan aset yang amat bernilai. Nilai-nilai murni seperti muafakat, gotong-royong, hormat-menghormati dan semangat kekeluargaan merupakan modal sosial yang mampu memperkukuh perpaduan serta memperluaskan kerjasama serantau,” ungkap Prof. Nyak Amir.

Penandatanganan MoU ini ditargetkan menjadi pemantik lahirnya program terobosan yang memberikan dampak jangka panjang bagi seluruh perguruan tinggi yang terlibat.
“Semoga majlis menandatangani perjanjian pada hari ini menjadi titik permulaan kepada hubungan yang lebih erat, kerjasama yang lebih inovatif, serta persahabatan yang berkekalan antara institusi pengajian tinggi di Indonesia, Malaysia dan Thailand,” pungkas Prof. Nyak Amir.
Tahap implementasi teknis dari kesepakatan tiga negara ini segera dijalankan pada semester mendatang. Skema kegiatan diawali dengan penerimaan mahasiswa program pertukaran antar-negara serta pembentukan konsorsium penelitian bersama yang melibatkan para pakar dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand.[Humas UTU]
Laporan: Afrizal T. | Editor: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.




