Meulaboh – UTU | Kepedulian mendalam terhadap persoalan sanitasi lingkungan dan tumpukan sampah domestik yang kian mengkhawatirkan berhasil mengantarkan Nur Hazizah, mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Teuku Umar (UTU), meraih pengakuan di panggung dunia. Lewat inovasi pemrosesan limbah organik rumah tangga menjadi produk kebersihan ramah lingkungan berbasis formula cairan fermentasi, ia sukses membawa pulang penghargaan Bronze Medal pada ajang bergengsi The 4th International Youth Conference (IYC) 2026 yang diselenggarakan di Malaysia dan Singapura pada 27 sampai 28 Juni 2026.
Pencapaian internasional ini diperoleh setelah Nur Hazizah mempertahankan hasil riset aplikatifnya di hadapan panel dewan juri multilateral. Forum ilmiah internasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Setara Prisma Nusantara bekerja sama dengan Asia Pacific Student Association serta Electrical & Electronic Engineering Nanyang Technological University tersebut menjadi panggung kompetitif bagi sekitar 150 peneliti muda yang berasal dari 10 negara di kawasan regional maupun global.

Penghargaan internasional ini merepresentasikan relevansi riset terapan yang diinisiasi dari wilayah pesisir barat Aceh dalam menjawab isu-isu krusial berskala global. Melalui pengembangan produk pembersih berbasis sirkular, penelitian ini tidak sekadar berfokus pada keilmuan teoretis, melainkan menyajikan solusi taktis terhadap tata kelola sampah permukiman, jaminan kesehatan publik, serta transisi menuju ekonomi hijau yang sejalan dengan peta jalan pembangunan berkelanjutan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Menjawab Permasalahan Sampah
Kerangka dasar riset yang digagas oleh Nur Hazizah berakar pada konsep tata kelola terpadu bernama ECO-BRIN (Ekosistem Bisnis Ramah Lingkungan). Sebuah cetak biru pengembangan ekonomi sirkular yang meredefinisi sampah organik domestik menjadi komoditas bernilai guna tinggi lewat rekayasa biologis sederhana. Di bawah arahan dan bimbingan dosen pendamping Eva Flourentina Kusumawardani, SKM., M.Epid., Hazizah bersama rekan kolaboratornya, Reza Aristanjaya, mengonseptualisasikan ECO-BRIN sebagai instrumen nyata untuk mendukung kemandirian bangsa.
Formulasi cairan organik serbaguna ini dikembangkan untuk mengintervensi persoalan kebersihan di wilayah permukiman padat penduduk. Akumulasi limbah organik rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik selama ini kerap memicu degradasi kualitas sanitasi lokal yang menjadi episentrum penyebaran berbagai penyakit infeksius bawaan air dan vektor lingkungan. Melalui fermentasi limbah kulit buah dan sisa sayuran, formula ini bertransformasi menjadi cairan pembersih serbaguna yang aman bagi ekosistem air.
“Saya sangat senang dan bersyukur bisa meraih penghargaan ini di tengah persaingan ketat dengan ratusan peserta dari berbagai negara. Inovasi ini lahir dari keprihatinan saya terhadap masalah penumpukan sampah yang berdampak buruk pada kesehatan manusia. Melalui sabun dari bahan dasar sampah ini, saya ingin membuktikan bahwa limbah yang awalnya tidak bernilai bisa diubah menjadi produk sanitasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas sekaligus membantu menyelamatkan ekosistem kita,” ujar Nur Hazizah.

Urgensi pengembangan riset ECO-BRIN ini berpijak pada basis data persampahan nasional yang menunjukkan volume timbulan sampah tahunan Indonesia menyentuh angka sekitar 64 juta ton. Dari total akumulasi tersebut, mayoritas atau sekitar 60 persen didominasi oleh sampah sisa makanan dan bahan organik yang sebagian besar masih berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tanpa adanya pengolahan tingkat lanjut. Kondisi kontemporer ini terus memperparah degradasi lingkungan hidup akibat emisi gas metana yang dihasilkan dari pembusukan terbuka di TPA.
Berdasarkan analisis situasi lapangan yang disusun dalam kajian akademik tim, hambatan mendasar dari belum optimalnya pengelolaan sampah di tingkat tapak disebabkan oleh minimnya partisipasi aktif masyarakat dalam pemilahan sampah mandiri, ditambah keterbatasan akses terhadap teknologi pengelolaan lingkungan yang praktis, murah, dan mudah direplikasi. Dengan demikian, rekayasa fermentasi eco-enzyme hadir sebagai jalan tengah yang membumi karena memanfaatkan material sisa dapur harian tanpa menuntut investasi peralatan berbiaya tinggi dari masyarakat desa.
Secara teknis, proses pembuatan larutan fermentasi aktif ini dilakukan melalui metode peragian aerobik-anaerobik terkontrol yang memadukan sisa bahan organik nabati, gula merah, dan air bersih dengan rasio proporsional selama kurun waktu tiga bulan. Hasil ekstraksi akhir menghasilkan cairan asam organik berkonsentrasi tinggi yang kaya akan enzim amilase, protease, dan lipase, yang kemudian diformulasikan ulang menjadi berbagai produk kebersihan fungsional seperti sabun cuci piring harian, sabun pembersih tangan, hingga cairan pel lantai antiseptik alami.
Aspek kelayakan ekonomi dari model bisnis sirkular ini juga menunjukkan proyeksi yang menjanjikan bagi pemberdayaan kelompok masyarakat rentan ekonomi di wilayah pedesaan. Berdasarkan proyeksi kuantitatif riset, pengolahan sekitar 3 kilogram sampah organik mampu menghasilkan 10 liter cairan biokimia murni yang dapat diturunkan kembali menjadi sekitar 100 liter sabun cair ramah lingkungan siap pakai atau setara dengan 200 kemasan botol ukuran 500 mililiter.
Melalui estimasi harga jual yang kompetitif di kisaran Rp8.000 per kemasan botol, inovasi ini memproyeksikan lahirnya model kewirausahaan hijau berbasis komunitas yang mandiri. Melalui pola kemitraan lokal, sampah tidak lagi diposisikan sebagai biaya sisa konsumsi yang membebani ekologi, melainkan sebagai aset bernilai ekonomis berkelanjutan yang mampu memperkuat jaring pengaman finansial keluarga sekaligus menjaga kelestarian daya dukung lingkungan wilayah pesisir barat Aceh.
Keunggulan dari inovasi multidisiplin ini juga selaras dengan peta jalan global dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs). Formulasi sabun ramah lingkungan ini terbukti berkontribusi nyata pada pencapaian SDG poin ke-3 terkait Kehidupan Sehat dan Sejahtera lewat penyediaan bahan sanitasi yang minim zat kimia korosif. Selain itu, hilirisasi produk ini menyokong pemenuhan SDG poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG poin ke-13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim melalui pemotongan signifikan emisi karbon dari limbah rumah tangga.

Terobosan yang diinisiasi oleh Nur Hazizah memvalidasi paradigma baru bahwa inovasi akademis yang memberikan dampak sosial-ekologis secara luas tidak selamanya harus lahir dari infrastruktur teknologi tingkat tinggi yang rumit. Dengan memaksimalkan potensi material lokal serta pendekatan sosiologis yang membumi, kelompok mahasiswa terbukti mampu memformulasikan solusi taktis terhadap krisis lingkungan regional sekaligus menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat.
Keberhasilan akademik berskala internasional ini membuktikan kapasitas Universitas Teuku Umar dalam mengawal arah riset-riset terapan berkualitas tinggi yang fokus pada penyelesaian problem riil di tengah masyarakat. Melalui pengembangan formula sanitasi sirkular ECO-BRIN, gagasan besar mengenai pembangunan ekonomi hijau nasional kini dapat dimulai dari tindakan paling sederhana, yaitu menghentikan laju buangan sampah dan mendaur ulangnya menjadi berkah bagi kehidupan berkelanjutan bangsa Indonesia. [Humas UTU]
Laporan: Yuhdi | Foto: Istimewa




