Revolusi Smart Fishing: Peneliti Perikanan UTU Integrasikan SIG dan Drone Bawah Air Untuk Efisiensi Nelayan

Meulaboh – UTU | Kehidupan nelayan tradisional di pesisir Aceh Barat saat ini dihadapkan pada tantangan berat akibat perubahan iklim ekstrem dan pergeseran daerah tangkapan ikan (fishing ground). Kondisi ini membuat kearifan lokal dan insting turun-temurun yang selama puluhan tahun menjadi panduan di laut, kini sering kali menemui jalan buntu, sehingga nelayan harus menghabiskan lebih banyak bahan bakar minyak (BBM) hanya untuk mencari lokasi ikan.

Merespons fenomena tersebut, peneliti perikanan yang terdiri atas dosen, Pranata Laboratorium Pendidikan, dan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Teuku Umar (UTU) menginisiasi inovasi proyek pemberdayaan masyarakat nelayan berbasis teknologi presisi. Program ini dilakukan dengan mengintegrasikan  Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan teknologi Remotely Operated Vehicle (ROV) atau drone bawah air guna mengubah paradigma spekulatif menjadi penangkapan ikan yang terukur.

Laboran Laboratorium Perikanan FPIK UTU, Iyan Al Misbah, S.Pi., saat dijumpai Humas UTU pada Kamis (2/7/2026) di Laboratorium Perikanan menjelaskan bahwa inovasi ini merupakan upaya perguruan tinggi untuk turun langsung ke lapangan dan membawa solusi konkrit bagi masyarakat pesisir, bukan sekadar menjadi menara gading yang sibuk dengan teori. Melalui pendekatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, laboratorium kampus didekatkan langsung dengan realitas yang dihadapi nelayan.

Pada tahap awal analisis spasial dilakukan menggunakan citra satelit dan pemodelan oseanografi melalui perangkat lunak SIG. Teknologi ini mampu memprediksi keberadaan ikan berdasarkan kondisi optimal klorofil-a dan suhu permukaan laut. Di ruang komputasi kampus, mahasiswa dan peneliti mengolah data spasial tersebut, mendigitasi peta pesisir, serta menerjemahkan angka satelit menjadi titik koordinat zona penangkapan potensial.

“Di tahap awal ata satelit tersebut masih bersifat prediksi di permukaan laut. Untuk membuktikan akurasinya, tim FPIK UTU melakukan validasi lapangan (ground truthing) dengan membawa drone bawah air sekelas FIFISH langsung ke atas perahu kayu tradisional milik nelayan dalam berbagai ekspedisi.” ujar Iyan menerangkan.

Lebih lanjut Iyan mengungkapkan bagaimana teknologi navigasi mutakhir tersebut bekerja di lapangan. Teknologi tersebut menyelam hingga belasan meter, merekam secara real-time ekosistem buatan seperti Fish Aggregating Devices/FAD (rumpon -red) yang diletakkan nelayan.

Melalui lensa kamera bawah air, teori tervalidasi. Pemandangan struktur rumpon yang telah ditumbuhi biota laut dan dikelilingi oleh koloni ikan (schooling fish) menjadi bukti empiris bahwa titik koordinat yang dihasilkan oleh sistem SIG kita benar-benar hidup dan produktif.

Integrasi antara pemetaan spasial di laboratorium dan validasi visual di laut lepas ini menjadi inti dari revolusi Smart Fishing. Informasi pemetaan yang rumit kemudian disederhanakan agar mudah diakses oleh kelompok nelayan binaan, sehingga operasi penangkapan ikan menjadi jauh lebih efisien karena nelayan bisa langsung menuju titik koordinat yang direkomendasikan tanpa membuang bahan bakar solar secara percuma.

Selain meningkatkan catch per unit effort (CPUE) atau jumlah hasil tangkapan, program ini juga menjadi ruang transfer ilmu pengetahuan yang intensif. Ketika mahasiswa, dosen, dan nelayan berkolaborasi di atas kapal maupun di depan monitor, terjadi pertukaran pengetahuan di mana nelayan mempelajari teknologi spasial, sementara sivitas akademika memahami ketangguhan serta kearifan lokal masyarakat setempat.

Langkah yang dilakukan oleh Iyan bersama para peneliti perikanan di FPIK UTU ini dirancang sebagai cetak biru jangka panjang mengenai pemanfaatan teknologi untuk kemanusiaan. Melalui pembekalan teknologi SIG dan drone observasi, program ini diharapkan dapat menyelamatkan mata pencaharian nelayan saat ini, sekaligus menjaga kedaulatan maritim dan keberlanjutan sumber daya laut untuk generasi Aceh di masa depan. [Humas UTU]

Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa

Related Posts

Leave a Reply