Meulaboh – UTU | Upaya mempercepat penurunan stunting di Indonesia terus dikejar melalui gelontoran anggaran besar untuk program pemberian makanan tambahan, suplementasi tablet tambah darah, penguatan Posyandu, hingga intervensi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Namun, angka kasus stunting masih menjadi persoalan yang terus membayangi berbagai daerah karena lemahnya sistem pendeteksian dini terhadap risiko sebelum masalah gizi tersebut benar-benar terjadi pada anak.
Menjawab tantangan tersebut, Teungku Nih Farisni, SKM., M.Kes., dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Teuku Umar (UTU), merancang sebuah inovasi digital bernama Dashboard Gizi POMA. Platform ini dikembangkan untuk mengubah tumpukan data administrasi kesehatan di tingkat desa menjadi sistem peringatan dini yang mampu mencegah stunting sebelum terlambat.
Inovasi ini lahir dari hasil riset mendalam sejak tahun 2025 yang melibatkan 1.942 ibu hamil di Kabupaten Aceh Barat. Berdasarkan pemetaan lapangan tersebut, ditemukan data bahwa pemeriksaan kehamilan yang sesuai standar masih rendah dan kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah belum optimal. Riset tersebut juga mengungkap fakta krusial bahwa ibu hamil yang tidak mendapatkan pemantauan gizi rutin memiliki risiko mengalami Kekurangan Energi Kronik (KEK) hingga hampir tiga kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang terpantau secara berkala.

Menurut Teungku Nih Farisni, persoalan stunting di daerah sering kali bukan dipicu oleh ketiadaan program intervensi, melainkan karena lemahnya deteksi risiko sejak awal. Selama ini, informasi mengenai ibu hamil yang mengalami KEK, ketidakpatuhan konsumsi tablet penambah darah, hingga gangguan pertumbuhan balita cenderung mengendap dalam buku register manual Posyandu atau aplikasi yang terfragmentasi.
“Keterlambatan arus informasi ini membuat penanganan kedokteran atau pemenuhan gizi sering kali baru diberikan saat kondisi kesehatan ibu dan anak sudah memasuki fase kritis.” ungkap Teungku Nih kepada Humas UTU pada Kamis (2/7/2026).
Teungku Nih menjelaskan sistem yang dibangun dalam Dashboard Gizi POMA bekerja dengan mengintegrasikan berbagai indikator kesehatan krusial ke dalam satu platform yang dapat diakses oleh kader Posyandu, bidan desa, Puskesmas, hingga Dinas Kesehatan. Data yang dipantau mencakup status gizi ibu hamil, hasil pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA), tingkat kunjungan antenatal, pertumbuhan balita, hingga kondisi sanitasi lingkungan dan akses air bersih di pemukiman warga.

Pada pengembangan tahap berikutnya yang masuk dalam versi 2.0, dashboard ini ditingkatkan fungsinya menjadi Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini. Melalui integrasi algoritma khusus, sistem akan membaca setiap perubahan indikator yang menunjukkan peningkatan risiko gizi buruk atau stunting, kemudian secara otomatis mengirimkan notifikasi real-time kepada petugas di lapangan. Pola ini mengubah jalannya pelayanan kesehatan masyarakat yang semula bersifat reaktif menjadi preventif.
Agar teknologi ini dapat berjalan optimal di masyarakat, pengembangan Dashboard Gizi POMA memadukannya dengan pendekatan sosial budaya setempat. Pemantauan gizi diintegrasikan dengan kelembagaan masyarakat adat Aceh melalui kolaborasi antara pemerintah gampong, Tuha Peut, dan tenaga kesehatan. Langkah ini diperkuat dengan penyusunan Smart Qanun sebagai payung hukum di tingkat gampong, sehingga pemantauan gizi memiliki dasar regulasi yang mengikat dan keberlanjutannya tidak bergantung pada inisiatif personal.
“Data tidak pernah menyelamatkan siapa pun apabila berhenti sebagai angka dalam laporan. Yang menyelamatkan adalah keputusan yang lahir dari data tersebut,” ujar Teungku Nih Farisni saat menjelaskan esensi utama dari pemanfaatan teknologi digital dalam intervensi gizi tersebut.
Melalui integrasi antara riset ilmiah, regulasi lokal, dan platform digital yang responsif, Dashboard Gizi POMA diharapkan dapat menjadi model replikasi bagi daerah lain. Kehadiran inovasi ini menggeser paradigma penanganan stunting, dari yang semula fokus pada pengumpulan laporan administratif menjadi aksi penyelamatan pemenuhan gizi yang cepat, tepat, dan berbasis data riil di tingkat desa.

Teungku Nih merasa bahagia. Kerja kerasnya bersama tim, melakukan riset yang cukup panjang akhirnya diapresiasi dan diadopsi oleh pemerintah. Pada Rabu (17/6/2026) dalam kegiatan Gerakan Aceh Barat Tanggap Risiko Stunting, dashboard gizi 2.0 resmi diperkenalkan dan diadopsi oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Barat sebagai upaya deteksi risiko dan pencegahan dini stunting.
Wakil Bupati Aceh Barat, Said Fadheil, SH., yang hadir dalam kegiatan tersebut menyatakan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menyambut baik dan mengapresiasi inovasi yang dikembangkan oleh Universitas Teuku Umar melalui Dashboard Gizi dan Sistem Early Warning Gizi 1000 HPK. Inovasi ini menjadi contoh nyata bagaimana hasil penelitian perguruan tinggi dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan mendukung program pembangunan daerah.
“penanganan stunting yang efektif membutuhkan transformasi metode kerja dari yang semula responsif menjadi pencegahan sejak dini melalui akurasi data. Sinergi antara pemerintah daerah, universitas, tenaga kesehatan, hingga pemerintah gampong menjadi kunci agar hilirisasi riset ini berjalan berkelanjutan.” ujar Said Fadheil. [Humas UTU]
Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa




