Meulaboh – UTU | Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMTS) Fakultas Teknik Universitas Teuku Umar (UTU) resmi meluncurkan Sosialisasi Program Pengelolaan Air Terpadu Berbasis Filtrasi, Bioengineering, dan Digitalisasi di Desa Pasi Birah, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat, Kamis (26/6). Kegiatan yang digerakkan melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) ini menyasar pemulihan infrastruktur lingkungan dan pemenuhan air bersih bagi warga setempat.
Inisiatif kolaboratif ini melibatkan lebih dari 30 warga desa, jajaran dosen Program Studi Teknik Sipil UTU, serta pemateri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat dan Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat.
Program yang disusun oleh mahasiswa PPK Ormawa HMTS bersama Pemerintah Desa Pasi Birah ini merupakan respons langsung terhadap dampak bencana hidrometeorologi yang menerjang kawasan tersebut pada November 2025 lalu. Berdasarkan data kajian lapangan, banjir kala itu menyebabkan sekitar 90 persen sumur warga tercemar dengan kondisi air yang keruh, berwarna, dan berbau. Tidak hanya itu, pemukiman warga yang berada di dekat aliran sungai juga dihantui risiko erosi bantaran sungai.

Ketua PPK Ormawa HMTS, Fahri Dwi Alfi, bersama Dosen Pembimbing Lapangan, Ir. Cut Suciatina Silvia, S.T., M.T., IPM, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memaksimalkan sumber daya dan karakteristik lokal yang sudah dimiliki oleh desa.
“Desa Pasi Birah memiliki modal besar berupa vegetasi bambu sebagai penguat alami bantaran sungai, kelompok pemuda yang adaptif terhadap teknologi, serta budaya gotong royong yang kuat. Program ini hadir untuk memperkuat potensi tersebut agar masyarakat semakin mandiri dan tangguh,” papar Fahri.
Proyek sosial dan lingkungan ini direncanakan berjalan selama empat bulan ke depan. Target capaian program mencakup pembuatan 5 unit sistem filtrasi air yang diintegrasikan dengan penampungan air hujan, penanaman 500 batang bambu di 12 titik sempadan sungai, serta pemasangan 5 sensor digital guna memantau kualitas pH, kekeruhan, dan debit air. Guna memastikan keberlanjutan sarana tersebut, dibentuk pula kelembagaan lokal bernama “Sigap Air” yang beranggotakan 10 kader desa terlatih.
Dari aspek mitigasi, perwakilan BPBD Aceh Barat, Teuku Ronald Nehdiansyah, S.P., M.I.L, menjabarkan pentingnya pembentukan ruang kesiapsiagaan yang matang sebelum bencana kembali datang.
“Ketangguhan desa tidak dibangun saat bencana terjadi, tetapi jauh sebelum itu. Masyarakat perlu memahami risiko, memiliki sistem peringatan, jalur evakuasi yang jelas, dan kapasitas untuk bertindak secara mandiri. Inisiatif yang dilakukan adik-adik mahasiswa Teknik Sipil melalui PPK Ormawa ini sangat relevan karena tidak hanya fokus pada pemulihan air bersih, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan masyarakat,” ujar Teuku Ronald.
Ia menambahkan, pihak desa disarankan untuk mulai menyusun peta risiko, menentukan titik kumpul dan jalur evakuasi, mengadakan simulasi kebencanaan berkala, serta mengaktifkan sistem informasi berbasis warga.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat, Rizki Bachtiar, S.KM., M.KM, menyoroti korelasi erat antara ketersediaan air bersih dan derajat kesehatan warga di wilayah pasca-bencana. Pendekatan edukasi dalam program ini dinilai efektif untuk mengubah pola hidup masyarakat.
“Ketahanan masyarakat terhadap bencana juga ditentukan oleh kemampuan menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan. Sistem filtrasi dan edukasi yang diberikan melalui program ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan air yang aman serta membangun kemandirian dalam memenuhi kebutuhan air bersih,” jelas Rizki.
Sebagai penutup rangkaian sosialisasi, dilakukan penandatanganan kesepakatan kolaborasi lintas sektor antara Fakultas Teknik UTU, Program Studi Teknik Sipil, BPBD Aceh Barat, Dinas Kesehatan Aceh Barat, Pemerintah Desa Pasi Birah, dan Tim PPK Ormawa HMTS-UTU. Kesepakatan ini diharapkan mampu mengawal Desa Pasi Birah menjadi model percontohan desa binaan yang mandiri dalam tata kelola air dan tanggap bencana di Kabupaten Aceh Barat. [Humas UTU]
Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa




