Meulaboh – UTU | Riuh tepuk tangan ratusan mahasiswa baru bergema di dalam Auditorium Teuku Umar, Selasa (11/8/2026). Di atas panggung, Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE., MBA., membagikan rekam jejak panjang berdirinya Universitas Teuku Umar (UTU) pada hari pertama Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026. Sesi ini dimoderatori oleh dosen Prodi Bahasa dan Kebudayaan Inggris FISIP UTU, Veni Nella Syahputri, S.Pd., M.Pd.
Rektor UTU periode dari 2014 hingga 2022 tersebut membawa ribuan pasang mata menyusuri lorong waktu. Melihat bagaimana kampus negeri di wilayah Barat-Selatan Aceh ini tumbuh dari fondasi lokal hingga berstatus Entrepreneurial University.
“Kampus ini tidak lahir secara instan dalam semalam,” papar Prof. Jasman di hadapan para peserta.

Perjalanan kelembagaan UTU berakar pada pendirian Sekolah Pembangunan Pertanian (SPP) dan Akademi Pertanian Meulaboh (APM) pada tahun 1984. Kehadiran dua lembaga vokasi ini menjawab ketimpangan akses pendidikan tinggi di Barat-Selatan Aceh pada era 1980-an, sekaligus memanfaatkan besarnya potensi alam daerah yang saat itu belum terkelola optimal akibat keterbatasan sumber daya manusia.
Transformasi berlanjut saat APM berkembang menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Teungku Dirundeng pada 1993. Izin prinsip pembentukan universitas mengemuka pada 2002, hingga akhirnya berdirilah Universitas Teuku Umar secara penuh pada 2006.
“Gagasan ini lahir dari pemikiran tokoh-tokoh daerah, salah satunya Malik Ridwan Badai (Bupati Aceh Barat periode 1983-1998) yang merancang ide awal pendidikan tinggi berbasis potensi wilayah.” terang Prof. Jasman.
Momen penting berikutnya terjadi pada 2014, saat UTU resmi berstatus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) setelah penyerahan aset kepada pemerintah pusat dilakukan pada Desember 2013. Perubahan status tersebut membuka keran pemerataan pendidikan dan percepatan pembangunan infrastruktur terintegrasi di Meulaboh.

Menuju Entrepreneurial University Berbasis Agro-Maritim
Pengembangan UTU sejak awal difokuskan pada kekuatan sektor pertanian dan kelautan melalui arah Agro and Marine Industry. Melalui materi sejarah yang dipaparkan, Prof. Jasman menjelaskan bahwa fokus ini merupakan hasil evolusi gagasan yang kini diarahkan menuju Entrepreneurial University.
“Orientasi pendidikan di UTU mendorong penggabungan ilmu pengetahuan, inovasi, dan hilirisasi. Sektor pertanian diarahkan pada ketahanan pangan serta optimalisasi lahan, sedangkan sektor kelautan difokuskan pada pemanfaatan sumber daya pesisir secara berkelanjutan.” terang Prof. Jasman.
Melalui pendekatan tersebut, para lulusan dibekali keahlian agar mampu mengolah potensi lokal menjadi nilai tambah ekonomis sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di tengah masyarakat. [Humas UTU]
Laporan: Yuhdi F. | Foto: Eman.




