Meulaboh – UTU | Mahasiswa Peminatan Kesehatan Lingkungan Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Teuku Umar melaksanakan projek lapangan untuk mengolah air gambut menjadi air bersih yang layak konsumsi. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (21/6) ini merupakan bagian dari praktik nyata dalam perkuliahan mata kuliah Pengelolaan Sumber Daya Air yang diampu oleh Dr. Kiswanto, M.Si.
Pelaksanaan projek perkuliahan ini dirancang secara khusus sebagai wadah untuk menjembatani teori akademik dengan praktik di dunia nyata. Melalui metode berbasis proyek tersebut, mahasiswa dilatih untuk mengaplikasikan pengetahuan ilmiah mereka, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta memecahkan permasalahan sanitasi yang kompleks secara berkelompok demi menghasilkan sebuah produk atau solusi akhir yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dosen pengampu mata kuliah Pengelolaan Sumber Daya Air, Dr. Kiswanto, M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membentuk kompetensi utuh para mahasiswa agar siap menghadapi kendala lingkungan di lapangan.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya menghafal teori di dalam kelas, tetapi mampu mendesain solusi nyata yang aplikatif bagi masyarakat, terutama dalam memecahkan masalah krisis air bersih yang sering terjadi di wilayah pesisir dan lahan basah,” ujar Dr. Kiswanto saat memantau jalannya proyek.
Fokus utama dalam proyek ini adalah mengatasi persoalan air baku di kawasan kampus Universitas Teuku Umar dan wilayah sekitarnya yang didominasi oleh lahan gambut. Kondisi air gambut di wilayah tersebut umumnya berwarna coklat pekat, memiliki derajat keasaman (pH) yang rendah atau asam, serta kaya akan kandungan bahan organik, sehingga tidak dapat langsung digunakan untuk keperluan sehari-hari tanpa pengolahan khusus.
Sebagai solusi atas kendala tersebut, mahasiswa mempraktikkan teknologi pengolahan menggunakan metode Aerator Venturi. Penerapan metode ini ditargetkan mampu mengubah karakteristik air gambut yang asam dan keruh menjadi air bersih tidak berwarna, jernih, bebas bau menyengat, serta memenuhi standar kesehatan sebagai air minum yang aman bagi tubuh karena zat-zat berbahaya didalamnya telah dihilangkan.
Dr. Kiswanto menguraikan keunggulan dari pemilihan metode ini yang dinilai sangat cocok untuk diterapkan oleh masyarakat luas karena tingkat efisiensinya yang tinggi. “Metode Aerator Venturi ini sengaja dipilih karena selain efektif dalam meningkatkan kadar oksigen untuk mengikat zat organik dan menghilangkan bau menyengat pada air gambut, sistem mekanisnya juga sangat ramah kantong dan tidak memerlukan perawatan yang rumit,” tambahnya.

Proses pembuatan instalasi Aerator Venturi sederhana ini berlangsung dipandu oleh dua asisten Peminatan Kesehatan Lingkungan, yaitu, Lira Mondia dan Mutiara Hasnah. Untuk merakit alat tersebut, bahan-bahan yang digunakan meliputi pipa PVC utama berukuran 3/4 dim, pipa PVC kecil atau selang aerator sebagai jalur udara, serta komponen reducer PVC atau vlok sok yang berfungsi memperkecil aliran cairan guna menciptakan efek tekanan udara. Seluruh komponen tersebut dirakit menggunakan bantuan peralatan pertukangan seperti gergaji pipa, bor listrik sebagai alat pelubang, dan lem pipa PVC sebagai perekat utama.
Prosedur pengerjaan diawali dengan memotong pipa PVC utama menjadi dua bagian terpisah, yang masing-masing dialokasikan sebagai pipa inlet untuk air masuk dan pipa outlet untuk air keluar. Langkah berikutnya adalah menyambungkan pipa inlet ke komponen reducer untuk menciptakan penyempitan aliran. Mekanisme penyempitan ini secara teknis akan menaikkan kecepatan laju air, yang secara bersamaan menurunkan tekanan di dalam pipa sesuai hukum fisika fluida.
Tepat pada titik setelah penyempitan aliran tersebut, mahasiswa membuat satu lubang luar menggunakan bor listrik dengan ukuran yang disesuaikan dengan selang udara. Lubang ini berfungsi sebagai titik hisap udara bebas. Selanjutnya, pipa kecil atau selang dimasukkan ke dalam lubang dengan posisi ujung bagian dalam sedikit miring menghadap arah aliran air keluar, sementara ujung luarnya diposisikan tetap berada di atas permukaan air agar daya hisap udara luar dapat berjalan optimal.

Setelah seluruh struktur terpasang, area di sekitar sambungan dan lubang udara luar dilapisi dengan lem PVC secara merata untuk memastikan kondisi pipa benar-benar kedap dan rapat tanpa ada kebocoran udara. Tahap akhir dari proyek ini adalah melakukan uji coba fungsional alat dengan menghubungkan pipa inlet ke sumber air gambut, kemudian membuka kran filtrasi pada bagian outlet untuk membandingkan kualitas kejernihan, warna, serta aroma air sebelum dan sesudah melewati sistem aerasi.
Mengingat posisi geografis kawasan kampus Universitas Teuku Umar dan pemukiman di sekitarnya berada di atas hamparan lahan gambut, penguasaan teknologi pengolahan air dengan metode aerator venturi ini dinilai memiliki urgensi tinggi. Dr. Kiswanto berharap inovasi sederhana ini tidak berhenti pada pemenuhan tugas kuliah saja, melainkan dapat disebarluaskan kepada warga sekitar kampus.

“Mengingat wilayah sekitar kampus kita didominasi oleh ekosistem gambut, kami berharap teknologi sederhana hasil rakitan mahasiswa ini dapat diadopsi oleh warga sekitar sebagai alternatif penyediaan sumber air bersih yang murah dan higienis sehari-hari,” pungkasnya. [Humas UTU]
Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa




