Mahasiswa Magister Sosiologi UTU Lakukan Pendampingan Masyarakat di Lingkar Tambang Batu Bara

Meulaboh – UTU | Mahasiswa Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teuku Umar (FISIP UTU) terjun langsung ke tengah masyarakat melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Langkah akademik ini diambil untuk mendekatkan mahasiswa dengan realitas sosial sekaligus membantu mengurai dinamika kehidupan warga di wilayah lingkar tambang PT Bara Energi Lestari (PT BEL), Nagan Raya pada Rabu (10/6).

Dosen pembimbing lapangan, Dr. Khairan, S.Pd., M.Si., menyampaikan bahwa lewat pendampingan ini, para mahasiswa berhasil memetakan dampak ganda—baik positif maupun negatif—yang dialami warga akibat perubahan lingkungan dari aktivitas pertambangan.

Dari sisi positif, tim PKM menangkap adanya kemudahan bagi warga usia produktif untuk bekerja di perusahaan tambang dengan penghasilan yang lebih baik. Namun, mahasiswa juga menemukan fenomena sosial yang mengkhawatirkan: mayoritas remaja setempat menjadi enggan melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi karena lebih memilih langsung mengincar pekerjaan sebagai buruh tambang.

“Hal ini sangat disayangkan karena pihak perusahaan tambang sebenarnya bersedia memberikan beasiswa kepada anak-anak mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, agar generasi mendatang lebih berdaya,” ungkap Dr. Khairan.

Selain masalah pendidikan, tim pendamping dari UTU juga mengevaluasi program bantuan modal usaha yang pernah diberikan perusahaan kepada warga, seperti usaha peternakan, perikanan, hingga jahit-menjahit. Mahasiswa menemukan bahwa hampir seluruh program tersebut gulung tikar. Menurut Dr. Khairan, kegagalan ini menjadi catatan penting bahwa program pemberdayaan sebelumnya masih lemah dalam hal pendampingan berkelanjutan dan analisis kelayakan usaha di lapangan.

Melalui diskusi mendalam dengan tokoh perempuan di Gampong Alue Buloh, para mahasiswa juga menyerap keluhan warga mengenai masalah kesehatan, ekonomi kreatif, dan buruknya infrastruktur. Warga mengaku kesulitan memasarkan produk rumahan seperti pisang sale dan telur asin karena jembatan desa mereka sudah lama rusak. Akibatnya, warga terpaksa mengandalkan rakit penyeberangan, yang sangat berbahaya bagi keselamatan—terutama saat air sungai meluap atau ketika ada ibu melahirkan yang harus dilarikan keluar desa.

Berdasarkan temuan awal program PKM ini, Dr. Khairan menegaskan bahwa pihaknya akan terus melanjutkan pendampingan sosial ini di masa mendatang.

“Ke depan diharapkan pihak UTU dapat melakukan pendampingan sosial lebih lanjut hingga kelompok masyarakat lingkar tambang lebih berinovasi dan dapat meningkatkan nilai tambah untuk kesejahteraan keluarga dengan menghidupkan industri rumah tangga,” tutup Dr. Khairan. [Humas UTU]

Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa

Related Posts

Leave a Reply