Meulaboh – UTU | Ribuan jemaah yang terdiri atas mahasiswa, unsur pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, serta masyarakat sekitar melaksanakan Shalat Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Nurul ‘Ilmi Universitas Teuku Umar (UTU) pada Rabu (27/5). Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul ’Ilmi UTU, Ir. Sulaiman Ali, ST., MT, menyebutkan bahwa ibadah shalat dimulai tepat pukul 07.30 WIB. Sebanyak 3.000 jamaah memadati lokasi pelaksanaan tahunan ini.
“Pelaksanaan Shalat Idul Adha di Kampus Universitas Teuku Umar tahun ini menjadi pelaksanaan tahun ke-6 secara berturut-turut. Dari pelaksanaan tersebut, 4 tahun dilaksanakan di Masjid Nurul ‘Ilmi Kampus UTU dan 2 tahun sebelumnya dilaksanakan di halaman Rektorat Kampus UTU,” kata Sulaiman Ali.

Bertindak sebagai imam shalat adalah Tgk. Teuku Raja Fadhlul, S.Pd. Ia merupakan pemuda santri asal Kabupaten Nagan Raya yang sedang menempuh pendidikan manajemen pendidikan Islam di Dayah Tauthiatuth Thullab Kabupaten Bireuen dan Universitas Islam Aceh (UIA) Almuslim Bireuen. Sementara itu, khutbah Idul Adha disampaikan oleh Tgk. Resyad Joed Loen Al Haramen. Khatib muda dari Dayah Buket EQra’ Al-Haramen Meulaboh ini merupakan peraih Juara 1 Dai Muda Se-Aceh Barat tahun 2025.
Dalam khutbahnya, Tgk. Resyad memaparkan delapan poin penting mengenai makna kurban dan ilmu pengetahuan. Pertama, ia mengajak umat Muslim menjadikan Al-Qur’an sebagai solusi utama saat menghadapi kekecewaan atau kejenuhan hidup dengan membacanya secara tartil dan mengadu kepada Allah SWT. Kedua, berdasarkan ilmu saraf, kata kurban secara bahasa berasal dari kata qaruba-yaqrubu yang berarti dekat. Makna ini lebih luas dari sekadar menyembelih hewan, yaitu cara manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ketiga, merujuk pada pandangan Imam an-Nawawi dalam kitab Syarah Sahih Muslim mengenai hadis qudsi, jika seorang hamba melakukan ketaatan untuk mendekat, maka Allah swt akan membalasnya dengan limpahan rahmat, taufik, pertolongan, serta jalan keluar masalah. Keempat, Tgk. Resyad menegaskan bahwa ilmu dirancang sebagai kurban atau pengorbanan terbaik, berlandaskan ayat Al-Qur’an yang pertama turun, yaitu, perintah membaca (Iqra). Menurut Imam Ali Ash-Shabuni, ayat tersebut mengandung fondasi penting pendidikan, yakni menulis, membaca, dan belajar.

Kelima, berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir, Allah swt mengistimewakan manusia melalui ilmu pengetahuan, bukan harta atau jabatan. Ilmu juga menjadi standar keunggulan Nabi Adam as dibanding para malaikat. Keenam, segala proses belajar-mengajar di perguruan tinggi, termasuk ilmu umum, bernilai sebagai ibadah kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah selama didasari fondasi ilmu agama yang kuat seperti tauhid, fikih, dan tasawuf.
Ketujuh, merujuk kisah Nabi Musa as dalam kitab tafsir At-Tahrir wat-Tanwir, saling mengolok-olok baik antar-individu maupun antar-lembaga pendidikan seperti mempertentangkan kalangan dayah dengan mahasiswa merupakan tabiat orang bodoh. Orang berilmu tidak akan mendiskreditkan lembaga pendidikan mana pun. Kedelapan, khatib mengajak jamaah membawa nilai-nilai agama ke dalam profesi masing-masing, baik sebagai pebisnis maupun dosen, dengan menanamkan niat ibadah.
Pada perayaan Idul Adha tahun ini, panitia Masjid Nurul ‘Ilmi UTU berhasil menghimpun hewan kurban sebanyak 8 ekor sapi dan kerbau serta 2 ekor kambing. Dari total tersebut, 2 ekor sapi merupakan distribusi hewan Kurban Nasional dari Masjid Salman ITB dan Rumah Amal Salman yang bekerja sama dengan Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI). Kerja sama distribusi dari Bandung ini telah berjalan selama 6 tahun di Kampus UTU.
Selain itu, terdapat satu ekor hewan kurban dari keluarga besar Zulkifli Bin Mohamad Salleh dan Dr. Farrah Merlinda Binti Muharam dari Universitas Teknologi Malaysia (UTM). Hewan kurban selebihnya dihimpun dari para dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan UTU.

Kepala Biro Perencanaan, Keuangan dan Umum UTU sekaligus Ketua Dewan Pengawas Masjid Nurul ‘Ilmi UTU, H. Zulfirman, S.E., M.Si., menyatakan bahwa momentum Iduladha ini menjadi pengikat persaudaraan dan kepedulian sosial di lingkungan kampus.
“Perayaan Iduladha bukan hanya dimaknai sebagai pelaksanaan ibadah kurban semata, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan, membangun solidaritas, serta menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah sivitas akademika dan masyarakat,” ujar Zulfirman.
Pihak universitas berharap Masjid Nurul ‘Ilmi Kampus UTU dapat terus berfungsi sebagai pusat pembinaan karakter, spiritual, intelektual, dan sosial yang memberikan manfaat luas bagi warga kampus maupun masyarakat sekitar. [Humas UTU]
Laporan: Zul Eman | Editor: Yuhdi F. | Foto: Zul Eman.




