Singapura – UTU | Kepala Biro Perencanaan, Keuangan dan Umum (PKU) Universitas Teuku Umar (UTU) mengikuti Leadership Training for Senior Indonesian Officials yang diselenggarakan oleh Singapore Cooperation Programme (SCP) di Singapura pada 28–30 September 2026. Pelatihan tersebut menjadi ruang pembelajaran mengenai kepemimpinan, tata kelola organisasi, inovasi sektor publik, dan pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan institusi publik.
Program ini diikuti sejumlah pejabat senior Pemerintah Republik Indonesia dari kementerian dan lembaga, termasuk pejabat Eselon I dan Eselon II. Kehadiran peserta dari berbagai institusi membuka ruang pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan organisasi, pelayanan publik, pengembangan sumber daya manusia, serta respons lembaga terhadap perubahan teknologi dan lingkungan kerja.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai kepemimpinan strategis, organisasi adaptif, inovasi sektor publik, tata kelola, dan transformasi digital. Diskusi antar-peserta juga menjadi bagian dari kegiatan, terutama untuk membahas pengalaman menghadapi persoalan pengelolaan organisasi dan pelayanan pada institusi masing-masing.
“Pelatihan ini memberikan perspektif yang lebih luas tentang bagaimana kepemimpinan, tata kelola, sumber daya manusia, data, dan teknologi dapat ditempatkan dalam satu kerangka pengelolaan organisasi. Bagi saya, pembelajaran tersebut relevan dengan pekerjaan di Biro Perencanaan, Keuangan dan Umum karena kualitas perencanaan dan layanan administrasi sangat dipengaruhi oleh cara kita mengelola proses, informasi, dan sumber daya,” ujar Kepala Biro PKU UTU.

Ia mengatakan, pertukaran pengalaman dengan pejabat dari kementerian dan lembaga memberikan kesempatan untuk melihat persoalan organisasi publik dari sudut pandang yang lebih beragam. Perbedaan karakter institusi juga memperlihatkan bahwa suatu praktik pengelolaan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas masing-masing organisasi.
“Setiap institusi mempunyai tantangan masing-masing, tetapi ada banyak persoalan yang memiliki irisan, terutama dalam pengelolaan perubahan, digitalisasi layanan, penggunaan data, dan peningkatan kualitas pelayanan. Pertukaran pengalaman seperti ini membantu kita melihat apa yang bisa diadaptasi dan apa yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan UTU,” katanya.
Bagi UTU, pembelajaran tersebut berkaitan dengan sejumlah pekerjaan yang berada dalam lingkup Biro PKU, mulai dari perencanaan program, pengelolaan keuangan, administrasi umum, hingga pelayanan internal. Perspektif mengenai tata kelola dan transformasi digital juga relevan dengan kebutuhan universitas dalam mengembangkan proses kerja yang lebih terukur dan mudah dipantau.

Menurut Zulfirman, manfaat pelatihan akan lebih berarti apabila pengetahuan yang diperoleh dapat diterjemahkan ke dalam praktik kerja di lingkungan universitas. Karena itu, pengalaman dari forum tersebut akan menjadi bahan untuk melihat kembali proses kerja yang berjalan serta mengidentifikasi pengetahuan dan praktik yang relevan untuk diterapkan di UTU.
“Pengetahuan yang saya peroleh dari pelatihan ini akan saya bawa kembali ke lingkungan kerja dan dibagikan kepada rekan-rekan di UTU. Yang penting bukan hanya mengetahui praktik yang diterapkan di tempat lain, tetapi bagaimana kita mengolah pembelajaran tersebut menjadi gagasan yang relevan dengan kebutuhan universitas, terutama dalam perencanaan, pengelolaan keuangan, administrasi, dan pelayanan internal,” ujarnya.
Aspek transformasi digital menjadi salah satu perhatian dalam pembelajaran tersebut. Penggunaan teknologi ditempatkan dalam kaitannya dengan proses kerja, kualitas data, kapasitas sumber daya manusia, dan pengambilan keputusan sehingga digitalisasi tidak berhenti pada penggunaan perangkat atau aplikasi.
“Teknologi harus membantu pekerjaan menjadi lebih sederhana, terukur, dan mudah dipantau. Karena itu, transformasi digital perlu berjalan bersama dengan pembenahan proses kerja, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan penggunaan data yang lebih baik dalam pengambilan keputusan,” katanya.
Dari sisi layanan, pembenahan proses administrasi berkaitan langsung dengambantu unit kerja memperoleh layanan secara lebih mudah, sementara informasi yang terdokumentasi dengan baik mendukung proses pemantauan dan pengambilan keputusan di tingkat organisasi.

Selain materi pelatihan, interaksi dengan peserta dari kementerian dan lembaga menjadi bagian lain yang memberi nilai bagi pengembangan kapasitas. Pengalaman yang dibagikan dalam forum tersebut memperlihatkan beragam pendekatan dalam mengelola perubahan, sumber daya, teknologi, dan pelayanan pada organisasi publik.
Pengalaman itu selanjutnya dapat dibagikan di lingkungan UTU agar pembelajaran yang diperoleh tidak berhenti pada peserta. Pengetahuan yang dibawa kembali dapat menjadi bahan diskusi internal dan pengembangan praktik kerja sesuai dengan kebutuhan masing-masing unit.
“Saya melihat pelatihan ini sebagai ruang untuk belajar dan membawa pulang perspektif baru. Selanjutnya, perspektif tersebut perlu diterjemahkan dalam pekerjaan sehari-hari agar memberi manfaat bagi unit kerja dan sivitas akademika yang menggunakan layanan administrasi universitas,” tuturnya.
Keikutsertaan Kepala Biro PKU UTU dalam Leadership Training for Senior Indonesian Officials menjadi bagian dari pengembangan kapasitas sumber daya manusia universitas. Pembelajaran yang diperoleh dari forum tersebut memberi tambahan perspektif bagi pengelolaan perencanaan, keuangan, administrasi, dan layanan internal UTU dalam menghadapi tuntutan organisasi yang semakin terdigitalisasi.
Bagi Universitas Teuku Umar, nilai dari kegiatan ini terletak pada pengetahuan yang dapat dibawa kembali ke kampus dan diterjemahkan sesuai kebutuhan organisasi. Dengan demikian, pengalaman dari forum internasional dapat menjadi bahan pengembangan tata kelola yang lebih adaptif, berbasis data, dan berorientasi pada kualitas layanan. [Humas UTU]
Laporan: YFH | Foto: Istimewa




