Meulaboh – UTU | Rabu malam (23/9) asap tipis menerobos pendar lampu sorot warna-warni yang membelah kegelapan Auditorium Universitas Teuku Umar (UTU). Di atas panggung, dentam musik tradisional bersahutan dengan gerak gemulai para penari, menyuguhkan visual megah yang menyihir ratusan pasang mata—baik yang duduk rapat di kursi penonton maupun yang menyaksikan menerusi layar kaca YouTube.
Namun, jauh sebelum tepuk tangan membahana di malam puncaknya, ada denyut kerja keras yang merayap di lorong-lorong kampus sejak tahun lalu.
Awal kisah ini bermula pada 2025, usai gelaran UTU Awards ke-11. Usai sukses mengawal gelaran ke-11, Rektor UTU memberi tenggat Ir. Agam Rizki, S.Pt., M.Si., IPM., tantangan baru: menaikkan panggung UTU Awards ke kaliber internasional. Menghimpun ide, menggalang kolaborasi, hingga merangkul peserta dari berbagai belahan benua jelas bukan pekerjaan mudah.
Agam bergerak cepat. Ia menghimpun tim inti—para Person in Charge (PIC) untuk lima kategori lomba—dalam meja diskusi yang maraton. Rencana dirinci satu demi satu, berkas administrasi dirajut, hingga wacana tersebut akhirnya resmi diluncurkan ke publik pada Mei 2026 melalui kanal media sosial.
Hasilnya melampaui ekspektasi. Sebanyak 543 proposal membanjiri meja panitia dari 78 perguruan tinggi. Tak sekadar nama-nama kampus dalam negeri, delegasi dari Malaysia, Taiwan, hingga kawasan Afrika seperti Rwanda dan Kenya ikut ambil bagian. Seleksi ketat melalui desk evaluation oleh juri lintas negara akhirnya meloloskan 75 tim terpilih. Mereka diundang menjejakkan kaki langsung di kampus UTU untuk mempertahankan karyanya pada 22-23 September 2026.

Dinamika Kreativitas Untuk Malam Anugerah
Dinamika perhelatan ini tak berhenti pada ruang-ruang presentasi. Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (AKK) Rinaldi Iswan, ST., M.Sc., mengungkapkan sebuah terobosan yang memicu adrenalin. Mengubah tradisi acara puncak. Jika tahun-tahun sebelumnya piala dibagikan pada pagi hari. Dalam edisi ke-12 ini ditantang untuk tampil glamor di malam hari.
Mengumpulkan massa dalam jumlah masif di area kampus pada malam hari membawa kepenatan dan risiko tersendiri. Azwar, SKM., MPH., yang ditunjuk mengomandoi Seksi Acara, tak menampik rasa cemas yang sempat menghampirinya.
“Level internasional bukan hal yang dapat disederhanakan. Jika penampilan di malam puncak buruk, acara ini akan dikenang sebagai kegagalan dan mencederai nama baik kampus di hadapan tamu luar negeri,” tutur Azwar mengenang tekanan yang sempat menyelimuti batinnya.
Alih-alih larut dalam kekhawatiran, Azwar merajut strategi. Ia membagi barisan, memetakan detail alur, dan merangkul potensi internal. Dua minggu penuh, mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tari dan UKM Seni digembleng dalam latihan intensif demi menyempurnakan olah gerak dan nada.

Presisi Estetika dan Harmoni Visual
Di sudut lain, sinergi tak kalah krusial dibangun oleh Tim Kerja Humas UTU yang mengawal Publikasi dan Dokumentasi (Pubdok). Bersama tim acara, mereka membedah tata visual agar setiap sudut panggung tampak hidup, baik bagi penonton di lokasi maupun pemirsa pemancar daring.
Para penangkap cahaya (fotografer -red) berjibaku dengan kerlap kerlip lampu untuk menangkap setiap momen. Pun demikian dengan cameraman. Mereka membidik secara presisi setiap momen dan ekspresi untuk ditampilkan dalam kanal Youtube UTU.
Abrar Bunah, SE., sosok di balik rancang bangun panggung. Ia memikul tugas menyatukan kemewahan dan fungsionalitas. Ia menata elemen tata cahaya dengan tingkat presisi tinggi. Menghitung jarak jangkau lampu. Mengatur ritme pendaran agar menyatu alami dengan ketukan musik dan ayunan langkah penari tanpa mengorbankan ruang gerak di atas pentas.
Kolaborasi tanpa henti inilah yang akhirnya melahirkan malam penutupan yang berkelas dan berkesan.

Manisnya Buah Kerja Cerdas
Apresiasi tinggi mengalir langsung dari Rektor UTU, Prof. Dr. Nyak Amir, M.Pd., yang menyaksikan langsung bagaimana tiap elemen panitia bergerak bak roda gigi yang saling mengunci.
“Apresiasi setinggi-tingginya untuk seluruh tim—baik tim acara, tim konsumsi yang menyajikan hidangan lezat, hingga tim Liaison Officer dan transportasi yang menjaga kenyamanan para juri serta peserta. Ucapan terima kasih juga tercurah untuk seksi tempat, perlengkapan, tim security, serta tim Protokoler yang mengawal ritme kegiatan hingga tepat waktu dan tepat manfaat,” ujar Prof. Nyak Amir.
Suasana haru dan bangga kian lengkap saat tuan rumah, Universitas Teuku Umar, diumumkan keluar sebagai Juara Umum. Bagi Prof. Nyak Amir, piala yang diraih serta kelancaran acara merupakan buah manis dari kerja keras, kerja sama, dan kerja cerdas seluruh insan akademika, yang menjadi fondasi kokoh untuk melangkah lebih jauh pada penyelenggaraan tahun depan. [Humas UTU]
Laporan: YFH | Foto: Tim Humas





