Rektor Universitas Teuku Umar Tegaskan Peran Strategis Perguruan Tinggi dalam Memperkuat Ketangguhan Masyarakat di SSIK VII 2026 Universitas Halu Oleo

Kendari — UTU, 1 September 2026 | Rektor Universitas Teuku Umar (UTU), Prof. Dr. Nyak Amir, M.Pd., menegaskan pentingnya peran strategis perguruan tinggi dalam memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi berbagai ketidakpastian, krisis, dan konflik global.

Hal tersebut disampaikan Prof. Nyak Amir saat menjadi Keynote Speaker (pembicara utama) pada Seminar Serantau Isu-Isu Komuniti (SSIK) VII 2026 yang diselenggarakan di Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (1/9/2026).

Dalam forum yang diikuti akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai perguruan tinggi di kawasan serantau tersebut, Prof. Nyak Amir menyampaikan materi bertajuk “Peran Perguruan Tinggi dalam Memperkuat Ketangguhan Masyarakat di Tengah Ketidakpastian, Krisis, dan Konflik Global.” Topik tersebut sejalan dengan tema SSIK VII 2026, yakni “Strengthening Community Resilience Amid Global Uncertainty, Crisis, and Conflict.”

Dalam pemaparannya, Prof. Nyak Amir menjelaskan bahwa masyarakat saat ini menghadapi berbagai risiko global yang semakin kompleks. Perubahan iklim, krisis kesehatan, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), ketimpangan ekonomi, hingga konflik geopolitik menjadi tantangan yang membutuhkan respons lintas sektor.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk memperluas perannya. Perguruan tinggi tidak cukup hanya berorientasi pada pendidikan dan pencetakan lulusan, tetapi juga harus menjadi pusat pengetahuan, agen perubahan sosial, serta penggerak ketangguhan masyarakat.

“Perguruan tinggi tidak boleh lagi sekadar dipahami sebagai pabrik atau tempat mencetak tenaga kerja semata. Perguruan tinggi harus mentransformasikan diri menjadi pusat ilmu pengetahuan, agen perubahan sosial, serta penggerak utama dalam membangun ketangguhan masyarakat (community resilience),” tegas Prof. Nyak Amir.

Enam Peran Strategis Perguruan Tinggi

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UTU memaparkan enam peran strategis yang perlu diperkuat perguruan tinggi dalam menghadapi tantangan masa depan.

Pertama, sebagai pusat produksi pengetahuan dan solusi krisis. Perguruan tinggi perlu menghasilkan penelitian lintas disiplin dan penelitian terapan yang berbasis bukti serta relevan dengan kebutuhan masyarakat. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah, pemangku kepentingan, dan masyarakat dalam mengambil keputusan.

Kedua, sebagai pembentuk sumber daya manusia yang adaptif. Perguruan tinggi perlu menyiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas, kemampuan beradaptasi, empati, etika, dan kemauan untuk terus belajar.

Ketiga, sebagai penguat literasi dan ketahanan informasi. Di tengah maraknya disinformasi, berita palsu, dan banjir informasi, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyediakan informasi yang kredibel melalui edukasi publik dan komunikasi berbasis ilmu pengetahuan.

Keempat, sebagai penggerak kohesi sosial dan perdamaian. Kampus perlu menjadi ruang dialog yang aman, inklusif, dan terbuka bagi berbagai kelompok masyarakat. Perguruan tinggi juga dapat berkontribusi dalam memperkuat toleransi dan mencegah meningkatnya polarisasi sosial.

Kelima, sebagai katalisator inovasi sosial dan pemberdayaan masyarakat. Peran ini dapat diwujudkan melalui program pengabdian kepada masyarakat yang partisipatif, pengembangan kewirausahaan sosial, serta penguatan potensi dan ekonomi lokal.

Keenam, sebagai penghubung kolaborasi multipihak. Perguruan tinggi perlu membangun kerja sama yang erat dengan pemerintah, dunia usaha dan industri, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi tersebut penting untuk menghasilkan solusi yang berkelanjutan dalam menghadapi berbagai krisis.

Perguruan Tinggi Berbasis Dampak

Lebih lanjut, Prof. Nyak Amir mendorong perubahan paradigma di lingkungan perguruan tinggi, dari pendekatan pengajaran yang bersifat konvensional menuju penguatan penelitian dan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, agenda pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat perlu diintegrasikan dengan kebutuhan pembangunan berkelanjutan, termasuk pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

“Ketangguhan masyarakat bukan sekadar kemampuan untuk bertahan dari krisis, melainkan kemampuan untuk beradaptasi, berinovasi, dan melakukan transformasi sosial menuju kehidupan yang lebih baik dan perguruan tinggi adalah episentrum untuk mewujudkan hal tersebut,” ungkapnya.

Keikutsertaan Rektor UTU sebagai pembicara utama dalam SSIK VII 2026 menjadi bagian dari upaya UTU memperkuat jejaring akademik di tingkat serantau. Forum tersebut sekaligus menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk berbagi gagasan dan memperluas kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Melalui forum akademik tersebut, UTU menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pembangunan masyarakat yang inklusif, tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.

Laporan: Apri Rotin Djusfi | Foto: Istimewa

Related Posts

Leave a Reply