Meulaboh – UTU | Warga Desa Pasi Birah kini tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih setelah teknologi pengolahan air sederhana garapan mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) beroperasi. Keberhasilan tersebut, dipadukan dengan pengolahan hasil sampingan laut di Desa Kuala Bubon, mendorong Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mengambil langkah nyata untuk mereplikasi program tersebut ke desa-desa lain.
Kepastian ini mengemuka saat Sekretaris Daerah Aceh Barat, Dr. Ir. Kurdi, S.T., M.T., M.H., IPM., ASEAN.Eng., menerima audiensi tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) UTU di Ruang Aula Teuku Umar, Meulaboh, Selasa (11/8/2026).
Selama dua jam diskusi berlangsung hangat, Kurdi yang duduk berhadapan dengan jajaran pimpinan dan mahasiswa UTU menyimak satu per satu laporan capaian pengabdian yang telah berjalan selama dua bulan di dua desa pesisir tersebut.
“Inovasi pengolahan air kotor menjadi air bersih di Pasi Birah dan pemanfaatan potensi laut di Kuala Bubon langsung menyentuh kebutuhan dasar warga. Pemerintah daerah tidak akan membiarkan hasil kerja ini terhenti di laporan pertanggungjawaban,” kata Kurdi di hadapan peserta audiensi.
Untuk menjaga keberlangsungan inovasi warga desa tersebut, Pemkab Aceh Barat menyiapkan skema pendampingan terstruktur, koordinasi lintas dinas teknis, hingga pengalokasian dukungan melalui skema hibah dan kemitraan daerah.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UTU, Ibrahim, SKM., M.NSc., yang memimpin langsung rombongan kampus, menekankan pentingnya integrasi program mahasiswa dengan rencana pembangunan daerah. Menurutnya, kerja pengabdian di lapangan dirancang untuk menghasilkan dampak jangka panjang bagi kemandirian desa.
“Indikator keberhasilan kami adalah saat masyarakat tetap bisa menjalankan teknologi pengolahan air dan usaha pengolahan potensi lokal secara mandiri setelah mahasiswa kembali ke kampus,” ujar Ibrahim.
Dalam pemaparannya, tim mahasiswa melampirkan tiga capaian utama selama masa pengabdian, antara lain, peningkatan kapasitas warga dalam mengelola dan merawat instalasi sumber air bersih; pelatihan pengolahan produk turunan hasil laut berbasis kearifan lokal masyarakat pesisir; serta edukasi pemilahan sampah dan penataan kebersihan lingkungan permukiman.
Meski mencatatkan hasil positif, perwakilan mahasiswa juga menyampaikan beberapa kendala lapangan, seperti terbatasnya moda transportasi menuju lokasi pengabdian, minimnya peralatan penunjang di desa, serta perlunya sinkronisasi jadwal kegiatan dengan aparatur desa setempat.
Dosen Pembimbing Lapangan dari Fakultas Teknik UTU, Ir. Cut Suciatina Silvia, S.T., M.T., yang turut hadir bersama jajaran dosen pembimbing lainnya, menambahkan bahwa kendala teknis di lapangan telah diinventarisasi sebagai bahan evaluasi standar operasional penanganan infrastruktur desa pada gelombang berikutnya.
Pertemuan tersebut diakhiri dengan penyusunan rekomendasi teknis yang memetakan program prioritas dinas Pemkab Aceh Barat untuk disandingkan dengan agenda pengabdian mahasiswa UTU. Melalui pola ini, Desa Pasi Birah dan Desa Kuala Bubon diproyeksikan menjadi laboratorium desa mandiri berbasis teknologi tepat guna di Kabupaten Aceh Barat. [Humas UTU]
Laporan: Muktaridha | Editor: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.




