Oleh: Ahmad Fauzi, S.Pd. (Arsiparis Madya UTU)
Meulaboh – UTU | Sidalupa merupakan salah satu warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat Aceh Barat. Di balik setiap gerakan, irama, dan kisah yang menyertainya, tersimpan nilai sejarah, semangat kebersamaan, serta kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan seperti ini bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga harus dijaga dan dihidupkan.
Menjaga jejak Sidalupa berarti menjaga jati diri daerah. Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, budaya lokal menghadapi tantangan yang tidak ringan. Jika tidak dirawat dan diperkenalkan kepada generasi muda, bukan tidak mungkin warisan yang berharga ini akan semakin terlupakan.
Upaya pelestarian Sidalupa memerlukan kolaborasi semua pihak. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tokoh adat, seniman, akademisi, dan masyarakat perlu bergandengan tangan untuk mendokumentasikan, mengembangkan, serta mempromosikan Sidalupa sebagai kekayaan budaya Aceh Barat. Dokumentasi yang baik akan menjadi jejak sejarah, sedangkan pembinaan kepada generasi muda akan memastikan warisan tersebut tetap hidup.
Perguruan tinggi juga memiliki peran penting melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kegiatan edukasi budaya. Dengan demikian, Sidalupa tidak hanya dikenal sebagai pertunjukan seni, tetapi juga dipahami nilai-nilai filosofis dan sejarah yang terkandung di dalamnya.
Masa depan Sidalupa berada di tangan kita semua. Menjaga jejak berarti menghargai sejarah, sedangkan menghidupkan warisan berarti memberikan ruang agar budaya tersebut terus berkembang sesuai zamannya tanpa kehilangan jati dirinya.
Mari bersama menjaga, melestarikan, dan menghidupkan Sidalupa sebagai kebanggaan Aceh Barat, agar warisan budaya ini tetap menjadi cahaya bagi anak cucu di masa depan. [Humas UTU]




