Saat Peneliti UTU Menghidupkan Kembali Asa Kopi Liberika di Pesisir Barat Aceh

Meulaboh – UTU | Aroma kopi yang pekat menguar di antara tiang-tiang kayu workshop Green House Kopi, Rabu sore (17/6). Di sudut ruangan, Dedy Darmansyah, S.P., M.Si., memperhatikan bulir-bulir biji kopi yang baru selesai disortir. Bagi pria yang menekuni riset agribisnis ini, biji-biji kopi di hadapannya bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan lembaran sejarah Aceh Barat yang sempat terselip dan terlupakan oleh waktu.

Jejak itu bermula dari sebuah observasi lapangan yang dilakukan oleh Tim Universitas Teuku Umar (UTU) di Desa Peunaga Cut Ujong dan Ujong Tanoh Darat, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat. Di sana, di antara rimbunnya perkebunan, tim peneliti menemukan sebuah artefak hidup. Pohon-pohon karet tua yang ditanam dengan jarak relatif lebar. Di sela-selanya, tanaman kopi tumbuh dengan tenang. Pola ini menjadi jejak yang membuktikan bahwa masyarakat masa lalu telah mempraktikkan sistem tumpang sari yang cerdas.

Menariknya, daerah yang berada di pesisir ini tidak hanya menyimpan varietas Kopi Robusta (Coffea canephora). Tim peneliti juga menemukan keberadaan Kopi Liberika (Coffea liberica), varietas yang selama ini tumbuh sunyi di bawah bayang-bayang ketenaran kopi arabika Gayo. Padahal di panggung internasional, Liberika sedang naik daun. Karakter rasanya yang unik dan berbeda telah memikat para pecinta kopi dunia. Bahkan sempat mencuri perhatian dalam ajang UK Brewers Cup Champion di Inggris pada awal tahun 2026 ini.

Hubungan emosional masyarakat Aceh Barat dengan kopi sebenarnya telah mengakar sangat dalam. Bahkan sebelum kemerdekaan diproklamirkan. Semua orang di Meulaboh merawat ingatan tentang sumpah legendaris pahlawan nasional Teuku Umar, “Beungoh Singoh Geutanyoe Jep Kupi di Keude Meulaboh Atawa Ulon Akan Syahid” (Besok pagi kita akan minum kopi di Kota Meulaboh atau aku akan syahid -red). Sejarah mencatat, segelas kopi adalah lambang perjuangan, martabat, dan urat nadi ekonomi warga sejak lampau.

 

Namun, realitas di lapangan kerap kali menghadirkan ironi. Pertumbuhan warung kopi di seantero Aceh Barat melesat bak jamur di musim hujan, tetapi pohon-pohon kopi di kebun warga justru meranggas tanpa perhatian.

“Kami melihat ada fenomena yang bertolak belakang. Di satu sisi warung kopi dan konsumsi kopi di Aceh Barat terus tumbuh. Namun disisi lain banyak tanaman kopi masyarakat yang tidak dimanfaatkan secara optimal karena belum ada pasar dan pengolahan yang mampu menyerap hasil produksi mereka,” ujar Dedy Darmansyah di sela-sela kegiatannya.

Melihat ketimpangan tersebut, Universitas Teuku Umar mengambil langkah nyata. Mereka menggandeng Akademi Komunitas Negeri (AKN) Aceh Barat dan Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM Kabupaten Aceh Barat. Melalui Program Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan (PBK) dengan skema Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) 2026 dengan topik “Implementasi Model UMKM Hijau dan Teknologi Pascapanen untuk Peningkatan Nilai Tambah Produk Kopi di Kabupaten Aceh Barat.”

Langkah awal dilakukan dengan merangkul dua pelaku usaha kopi lokal yang menjadi pilar pengolahan kopi di daerah tersebut, yaitu Apon Kupi Aceh dan UD Bubuk Kopi H. Amrin. Masalah klasik pelaku usaha lokal langsung dipetakan. Mulai dari keterbatasan alat hingga pasokan listrik publik yang kerap padam.

Solusi atas kendala itu lahir dari tangan para akademisi lokal. Sebuah mesin sangrai (roasting) berkapasitas besar dirancang langsung oleh kolaborasi dosen dan mahasiswa. Mesin yang semula hanya mampu mengolah 25 kilogram kopi per proses, kini dirombak hingga mampu menampung 80 hingga 100 kilogram sekali jalan.

“Mesin yang kami kembangkan dapat dioperasikan menggunakan motor listrik, tetapi tetap bisa dijalankan secara manual ketika terjadi pemadaman listrik. Ini merupakan solusi nyata yang lahir dari kondisi lapangan dan kebutuhan pelaku usaha,” jelas Herdian Saputra ST., MT, Dosen AKN Aceh Barat yang ikut merancang alat tersebut.

Sentuhan inovasi tidak berhenti pada mesin. Tim peneliti turun ke kebun dan dapur produksi untuk mendampingi para mitra mengubah kebiasaan lama. Pola petik pelangi kini digantikan dengan sistem petik merah yang ketat. Sortasi terhadap biji kopi yang cacat (defect) dilakukan lebih teliti hingga proses pengolahan dipastikan lebih higienis. Bahkan, sebuah varian baru diperkenalkan untuk mengangkat kelas kopi lokal; kopi robusta fermentasi yang menjanjikan cita rasa lebih konsisten dan bernilai jual tinggi.

Di hilir, strategi pemasaran dirombak total. Kopi-kopi dari Apon Kupi Aceh dan UD Bubuk Kopi H. Amrin akan bersolek dengan baju baru. Desain kemasan yang sedang disiapkan kini mengangkat motif khas daerah dan narasi sejarah perjuangan Teuku Umar. Strategi ini diambil agar siapapun yang menyeduh kopi ini, tidak hanya menikmati kafein, tetapi juga meresapi cerita dan kebanggaan budaya pesisir barat Aceh. Kopi ini dipersiapkan matang untuk menjadi produk oleh-oleh khas yang premium.

Secara global, ikhtiar dari bumi Meulaboh ini berjalan beriringan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Pengenalan model UMKM hijau menyentuh poin konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Sementara itu, peningkatan kualitas produksi, kenaikan harga jual, dan peningkatan omzet usaha yang ditargetkan dari program ini menjadi bahan bakar utama untuk pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan penyediaan pekerjaan yang layak bagi petani serta pelaku usaha lokal. Pada akhirnya, kesejahteraan yang meningkat akan berkontribusi langsung pada pengentasan kemiskinan.

Saat ini program PM-UPUD telah memasuki tahap pengolahan dan penguatan kapasitas mitra. Jika tidak ada aral melintang, produk kopi khas Aceh Barat dengan wajah baru ini akan resmi diluncurkan ke pasar pada bulan Juli mendatang.

Melalui standar produksi modern yang mulai diterapkan, Aceh Barat sedang bersiap untuk merebut kembali posisinya di peta komoditas kopi Nusantara. Dari sela-sela pohon karet di Peunaga Cut Ujong hingga ke cangkir para pelancong, Kopi Robusta dan Liberika Aceh Barat kini bersiap membawa kesejahteraan baru bagi para petani dan perajinnya. [Humas UTU]

Laporan: Dedy D. | Editor: Yuhdi F. | Foto: Istimewa

Related Posts

Leave a Reply