Tim PPK Ormawa Himalogista UTU Tembus Anugerah Abdidaya 2026 Usai Sulap Sampah Kuala Trang Jadi Paving Block dan Pakan Ikan

Nagan Raya – UTU | Sampah plastik dan sisa makanan yang sempat menumpuk di kawasan Wisata Kuala Trang kini diolah menjadi bahan pembuatan paving block dan pakan ikan. Pengelolaan limbah lokasi wisata oleh warga Gampong Kuala Trang, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya ini membawa Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (Himalogista) Universitas Teuku Umar (UTU) lolos ke Anugerah Abdidaya Ormawa 2026 tingkat nasional. Ajang apresiasi dan penghargaan nasional tertinggi bagi organisasi kemahasiswaan pelaksana PPK Ormawa tersebut dijadwalkan berlangsung pada 21–25 Oktober 2026 di Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar, Sulawesi Selatan. 

Kelolosan tim ke ajang tingkat nasional tersebut diumumkan setelah pendampingan selama dua tahun berjalan di gampong setempat. Program yang didanai Direktorat Belmawa Kemdiktisaintek ini dibimbing oleh dosen pendamping Nafisah Eka Puteri, S.TP., M.Si., serta diketuai oleh Aldino Afrilian dengan anggota 15 mahasiswa dari program studi Teknologi Hasil Pertanian, Teknik Sipil, Agroteknologi, dan Akuntansi.

“Fokus pendampingan kami adalah menyiapkan warga agar mampu mengelola kawasan wisata dan limbahnya secara mandiri,” ujar Ketua Tim PPK Ormawa Himalogista UTU, Aldino Afrilian, di lokasi pengolahan sampah Kuala Trang, Kamis (8/10/2026).

Pengembangan kawasan ini bermula dari kondisi pantai dan kolam alami Kuala Trang pada pertengahan 2025 yang belum terkelola dan mencatat angka kunjungan di bawah 30 orang per bulan. Pada tahap awal pendampingan (7 Juli–7 November 2025), tim membimbing pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), membangun fasilitas dasar, membuat titik foto, serta melatih warga mengolah singkong dan kelapa menjadi mocaf dan nata de coco dengan tingkat pemahaman peserta mencapai 80 persen.

Setelah diluncurkan sebagai desa wisata pada 17 September 2025, angka kunjungan berlanjut hingga sekitar 100 orang per minggu. Sebanyak 15 kedai warga berdiri di lokasi wisata, ditunjang fasilitas toilet, tempat sampah, perahu dayung dari dana desa, serta akun Instagram @wisatakualatrang yang sempat mendapat perhatian Wakil Menteri Pariwisata di media sosial.

Peningkatan jumlah pengunjung memunculkan kendala baru. Evaluasi lapangan pada Maret 2026 mencatat adanya timbunan sampah lebih dari 10 kilogram per minggu di area wisata, lahan parkir yang becek saat hujan, serta aktivitas wisata yang belum dilengkapi materi edukasi.

Untuk menangani masalah tersebut, tim menjalankan program Kuala Trang Gampong Edukasi Zero Waste pada tahun kedua menggunakan dua alat teknologi tepat guna. Melalui metode “Ash to Block”, sampah non-organik dibakar menggunakan unit pembakaran Stove Air Fire versi kedua, lalu abunya dicampur menjadi paving block untuk mengeras area parkir dan jalan akses.

Sementara melalui metode Biocycle BSF dimana sampah organik diolah menggunakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Maggot yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pakan ikan di kolam wisata. Penerapan kedua metode ini ditargetkan mengurangi volume sampah kawasan hingga 90 persen.

“Bau sampah di dekat kedai berkurang sejak tempat sampah terpilah diletakkan dan pengolahan maggot berjalan,” kata salah seorang pemilik kedai di Pantai Kuala Trang sambil merapikan tempat sampah di depan kedainya.

Pengelolaan limbah ini juga melibatkan instansi dan gampong sekitar. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nagan Raya memberikan bimbingan teknis, sementara Desa Padang Panyang berperan sebagai sister village yang menyuplai sampah organik sisa pasar untuk pakan maggot di Kuala Trang. Bantuan tempat sampah terpilah juga diperoleh dari program CSR PT Socfindo Seunagan.

Di luar gampong, tim mendatangi sekolah menengah atas di Nagan Raya untuk memperagakan cara kerja alat pengolah sampah. Kegiatan ini menjadi bagian dari penyusunan paket wisata edukasi lingkungan bagi siswa dan mahasiswa.

Dengan terpenuhinya indikator program ini, Kuala Trang kini berjalan sebagai desa wisata edukatif. Hasil pendampingan ini menjadi dasar bagi tim UTU untuk melangkah ke Anugerah Abdidaya Ormawa 2026. [Humas UTU]

Laporan: Rio | Editor: YFH | Foto: Istimewa

Related Posts

Leave a Reply