Meulaboh – UTU | Sebanyak lima rumah warga dan satu meunasah di Desa Pasi Birah, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat kini resmi mengoperasikan Sistem Filterisasi Air Bersih Terintegrasi Pemanenan Air Hujan (PAH). Fasilitas pengolahan air mandiri yang dibangun sejak minggu keempat Juli hingga minggu kedua Agustus 2026 ini digagas oleh Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMTS) bersama Tim Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset (PKMBR) Universitas Teuku Umar (UTU).
Pembangunan instalasi ini menjawab krisis air bersih yang kerap melanda Desa Pasi Birah, terutama saat musim kemarau atau ketika sumber air warga keruh. Tim UTU menerapkan teknologi tepat guna berbasis material lokal yang terjangkau, ramah lingkungan, serta mudah dirawat mandiri oleh warga.

Sistem penyaringan tersebut menggunakan racikan arang limbah batok kelapa dan batu karang sebagai media filtrasi bertingkat. Arang batok kelapa bekerja mengadsorpsi zat pencemar serta menghilangkan bau tak sedap, sementara batu karang menyaring kotoran fisik sekaligus menetralkan kualitas air. Penggunaan bahan lokal ini sengaja dipilih agar warga tidak kesulitan mencari bahan pengganti saat perawatan berkala.
Di lokasi pemasangan, proses pengerjaan dimulai dari survei pemetaan, penyiapan material, hingga penyesuaian desain instalasi sesuai struktur bangunan. Mahasiswa, dosen pendamping, dan warga setempat bergotong royong merangkai talang penangkap air hujan di atap, menyambung jaringan pipa, memasang tangki penampungan, hingga merakit unit filter. Suasana kebersamaan terlihat saat pengujian fungsi komponen dilakukan bersama-sama untuk memastikan aliran air tersalurkan dengan lancar sebelum resmi dimanfaatkan.

Agar fasilitas ini bertahan lama, tim menyerahkan buku panduan (manual book) pengoperasian dan pemeliharaan kepada warga. Pelatihan singkat juga diberikan langsung di lapangan, mencakup tata cara pembersihan media saring hingga jadwal penggantian material filter. Satu unit sistem yang ditempatkan di meunasah difungsikan sebagai fasilitas umum sekaligus percontohan bagi warga desa lain yang ingin meniru teknologi tersebut.
Sebagai langkah lanjutan, tim peneliti UTU bakal melengkapi seluruh instalasi dengan sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT). Perangkat sensor ini akan mengukur parameter kualitas air seperti tingkat keasaman (pH) dan kekeruhan (turbidity) secara real-time. Data pemantauan terhubung langsung ke dashboard daring untuk mempermudah evaluasi berkala serta menjaga konsistensi mutu air yang dikonsumsi masyarakat. [Humas UTU]
Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.




