Riset Agroindustri Universitas Teuku Umar Tawarkan Solusi Pembebasan Petani Jagung Aceh Jaya dari Tengkulak

Aceh Jaya – UTU | Tim peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar merumuskan model agroindustri hilir jagung yang terintegrasi dan berbasis kelembagaan sebagai strategi konkret memutus rantai ketergantungan petani pada sistem tengkulak. Studi yang dipimpin oleh Safrika bersama Bagio dan Kamalia Ulfa ini merekomendasikan transformasi rantai pasok jagung sekaligus untuk menyokong program nasional Makan Bergizi Gratis, Kamis (30/7/2026).

Riset strategis pembangunan daerah bertajuk “Penguatan Resiliensi Pangan dan Kapabilitas Ekonomi Petani Melalui Model Hilirisasi Jagung: Studi Strategis Pembangunan Daerah Kabupaten Aceh Jaya” tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi paradoksal di pusat produksi jagung Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya. Meskipun mampu menyumbang 250 ton dari total produksi daerah sebesar 1.061 ton per tahun, melimpahnya hasil panen belum berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat tani setempat karena sebagian besar petani masih bergantung pada saluran pemasaran tunggal bentukan tengkulak dalam bentuk pasokan mentah kering pipilan.

“Struktur transaksi pasar yang timpang ini menyebabkan nilai tambah ekonomi terserap pihak luar, sementara posisi tawar petani tetap berada di tingkat paling rentan terhadap fluktuasi harga,” terang Ketua Tim Peneliti, Safrika.

Melalui pendekatan kuantitatif metode cluster random sampling, penelitian ini melibatkan 100 sampel petani yang mewakili 1.288 anggota dari 72 kelompok tani di 20 desa se-Kecamatan Teunom. Pengujian instrumen dilakukan secara ketat melalui uji validitas, reliabilitas dengan nilai Cronbach’s Alpha di atas 0,80, serta uji asumsi klasik regresi linear berganda yang mencakup uji normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas.

Hasil analisis regresi linear berganda menghasilkan koefisien determinasi atau Adjusted R Square sebesar 0,836, yang mengindikasikan bahwa 83,6 persen variasi daya beli rumah tangga petani jagung ditentukan secara simultan oleh ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan, serta Perkembangan Struktur Pendapatan dan Nilai Tukar Pendapatan Rumah Tangga Petani.

Selanjutnya, uji parsial atau uji t membuktikan bahwa variabel Perkembangan Struktur Pendapatan dari Hilirisasi Jagung menjadi faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap daya beli petani dengan nilai t-hitung sebesar 5,000. Variabel Nilai Tukar Pendapatan Rumah Tangga Petani menyumbang nilai t-hitung sebesar 4,200, diikuti pemanfaatan pangan sebesar 3,500, keterjangkauan pangan sebesar 3,200, dan ketersediaan pangan sebesar 2,500.

“Secara demografis, mayoritas petani di Teunom merupakan laki-laki sebesar 78 persen pada rentang usia 41 hingga 55 tahun sebesar 45 persen dengan tingkat pendidikan dominan di jenjang Sekolah Dasar sebesar 38 persen dan SMP sebesar 31 persen. Dari total responden, 67 persen menguasai lahan pribadi dan 57 persen di antaranya mengelola lahan skala kecil di bawah 1 hektar. Kendati produktivitas lahan tergolong tinggi pada angka 4,9 hingga 5,0 ton per hektar dengan indeks pertanaman 200 hingga 201, tingkat ketergantungan pada varietas homogen seperti NASA 29 mencapai 88 persen,” ungkap Safrika.

Guna mengurai kerentanan tersebut, tim peneliti merumuskan kerangka Model Agroindustri Jagung Inklusif Berbasis Koperasi Merah Putih yang mencakup lima dimensi terintegrasi. Dimensi subsistem hulu berfokus pada penerapan mekanisasi olah tanah hingga panen, teknologi perbanyakan benih, serta sistem irigasi presisi, sementara pada subsistem pengolahan disediakan sarana penepung, penyosoh berasan jagung, dan pencampur pakan ternak di tingkat koperasi untuk menyerap minimal 30 persen hasil panen mentah.

Dimensi subsistem kelembagaan dan pendampingan mengatur pembagian peran sinergis antara Koperasi Merah Putih sebagai agregator, pemerintah daerah selaku regulator, dan perguruan tinggi sebagai pendamping teknis. Subsistem pasar dan konsumen membagi segmentasi pasokan untuk pemenuhan gizi lokal dan pasar komersial, sedangkan dimensi ekonomi sirkular menerapkan pemanfaatan limbah tongkol dan dedak menjadi pakan ternak serta pupuk organik.

Keunggulan dari model ini terletak pada integrasinya dengan suplai Program Makan Bergizi Gratis untuk Posyandu dan sarana pendidikan, di mana koperasi bertindak sebagai penjamin mutu bahan baku lokal olahan sehingga memberi jaminan harga beli yang adil bagi petani sekaligus kepastian pasokan pangan bergizi bagi daerah.

“Model agroindustri jagung inklusif berbasis Koperasi Merah Putih yang dirumuskan dalam penelitian ini menawarkan solusi terintegrasi yang tidak hanya meningkatkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga memperkuat resiliensi pangan, menciptakan ekosistem ekonomi sirkular, dan mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis. Keberhasilan model ini sangat bergantung pada kolaborasi tiga aktor utama: koperasi sebagai penggerak utama, pemerintah daerah sebagai fasilitator, dan institusi akademisi sebagai pendamping teknis,” ujar Safrika.

Riset ini memformulasikan sejumlah rekomendasi teknis yang mencakup penguatan diversifikasi produk olahan oleh petani, penyediaan infrastruktur pengolahan skala kecamatan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya, pengembangan unit usaha operasional oleh pengurus koperasi, serta pelaksanaan action research dan studi pemodelan dinamika sistem untuk pengembangan penelitian lanjutan. [Humas UTU]

Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.

Related Posts

Leave a Reply