Herri Darsan dan Jalan Sunyi Dosen Berdampak dari Pesisir Barat Aceh

Meulaboh – UTU | Mata Herri Darsan memerah. Ada haru yang sebak di dadanya. Namun ketegarannya menahan haru roboh, saat namanya dipanggil untuk maju ke depan sebagai salah satu penerima Anugerah Diktisaintek tahun 2025 kategori Dosen Berdampak. Disaksikan oleh ribuan pasang mata dan tepuk tangan yang bergemuruh di Graha Diktisaintek, Herri Darsan menyemai ilmu dan memetik kemakmuran dari Barat Indonesia.

***

Di kampus yang berdiri dilingkung gugusan Pegunungan Bukit Barisan dan Samudra Hindia, kerja-kerja akademik sering kali tumbuh jauh dari sorot lampu nasional. Namun dari ruang-ruang laboratorium sederhana dan perjalanan panjang menuju desa-desa pesisir Aceh, nama Herri Darsan, ST., MT., perlahan menemukan jalannya sendiri. Tahun 2025 menjadi penanda penting itu. Dosen Program Studi Teknik Mesin sekaligus Sekretaris LPPM Universitas Teuku Umar tersebut menerima Anugerah Dosen Berdampak dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Sebuah penghargaan yang diberikan kepada akademisi yang tidak hanya menghasilkan penelitian, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Bagi banyak orang di lingkungan Universitas Teuku Umar, penghargaan itu bukan kejutan. Herdas -demikian ia dipanggil oleh sejawat -dikenal sebagai dosen yang sering berbicara tentang kebermanfaatan ketimbang popularitas akademik. Ia tumbuh dari tradisi pendidikan teknik yang menempatkan solusi praktis sebagai bagian penting dari ilmu pengetahuan. Latar belakang pendidikan sarjana dan magisternya di bidang teknik membentuk orientasi risetnya. Baginya “teknologi harus dekat dengan kebutuhan masyarakat, mudah diterapkan, dan mampu menjawab persoalan riil di lapangan.”

Dalam beberapa tahun terakhir, nama Herdas aktif muncul dalam berbagai penelitian dan pengabdian masyarakat. Riset-risetnya bergerak di bidang rekayasa mesin, energi, teknologi terapan, hingga inovasi berbasis kebutuhan industri lokal. Sejumlah publikasi yang melibatkan dirinya membahas analisis getaran dan kebisingan mesin industri, energi terbarukan berbasis angin dan solar cell, hingga pengembangan teknologi mekanik untuk sektor produktif masyarakat.

Namun penghargaan Dosen Berdampak 2025 tampaknya tidak hanya lahir dari capaian ilmiah di atas kertas. Pengakuan itu datang karena konsistensinya menjembatani kampus dengan kehidupan masyarakat.

Salah satu kerja kolaboratif penting yang melibatkan Herdas pada tahun 2025 adalah program riset Kosabangsa bersama tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Kolaborasi tersebut dipimpin oleh Dr. Eko Agus Suyono dengan anggota tim Prof. Dr. drh. R. Wisnu Nurcahyo dan Dr.sc.tech. Adhy Kurniawan, S.T.. Program itu memperlihatkan bagaimana dosen dari kampus di wilayah barat Aceh mampu masuk dalam jejaring riset nasional yang strategis.

Kolaborasi tersebut telah berhasil memberikan manfaat besar bagi masyarakat Pulau Simeulue, Aceh. Fokus mereka adalah mengoptimalkan mitigasi bencana pada masyarakat dan penerapan teknologi pengolahan sampah tepat guna. Hasilnya, program Kosabangsa yang dilaksanakan Herdas bersama timnya mendapatkan dua penghargaan, yakni, Pendamping Terbaik dan Poster Terbaik.

Saat ditemui oleh Humas UTU, Herdas mengatakan bahwa apa yang dilakukannya semata-mata hanya ingin mengimplementasikan ilmu yang didapatkan dari ruang-ruang kuliah. Baginya, riset tidak boleh hanya berhenti dalam bentuk laporan administrasi.

“Kampus tidak boleh hanya menghasilkan teori. Penelitian harus bisa disentuh masyarakat, dipakai masyarakat, dan menjawab persoalan yang mereka hadapi setiap hari,” demikian semangat yang kerap ia sampaikan kepada mahasiswa dan tim risetnya.

Cara berpikir seperti itulah yang terlihat dalam proyek hilirisasi riset yang dipimpinnya pada 2025. Melalui skema pendanaan bergengsi dari Kemdiktisaintek Herdas mengembangkan “Mesin Penyangrai Kopi Berbasis IoT dengan Kontrol Suhu dan Waktu Otomatis.” Inovasi itu dirancang untuk membantu pelaku usaha kopi meningkatkan kualitas produksi secara lebih presisi dan efisien.

Di Aceh Barat dan wilayah dataran tinggi Gayo, kopi bukan sekadar komoditas. Ia adalah identitas sosial dan sumber ekonomi masyarakat. Karena itu, bagi Herdas teknologi harus hadir untuk memperkuat rantai ekonomi lokal.

“Teknologi tidak selalu harus rumit. Yang terpenting adalah bagaimana teknologi itu benar-benar membantu masyarakat kecil meningkatkan kualitas hidupnya,” ujar Herdas dalam refleksi mengenai kerja-kerja riset dan pengabdiannya.

Sebagai Sekretaris LPPM UTU, Herri Darsan juga memainkan peran penting dalam penguatan budaya riset di kampus. Ia terlibat dalam pendampingan hibah penelitian, penguatan luaran akademik, hingga pengembangan program pengabdian masyarakat berbasis kebutuhan wilayah.

Di tengah berbagai aktivitas akademik itu, tahun 2025 juga menjadi periode penting ketika Aceh menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah. Herdas terlibat dalam Program Pengabdian Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi yang didanai Kemdiktisaintek. Program tersebut memperlihatkan bagaimana kampus tidak hanya hadir saat seminar dan konferensi, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan bantuan langsung.

Ia diberikan kepercayaan oleh Rektor UTU, Prof. Dr. Ishak Hasan, M.Si., untuk memimpin dan mendampingi mahasiswa dalam berbagai program pemulihan pasca-bencana, termasuk pembangunan kembali bendungan air bersih yang rusak akibat longsor di wilayah pedalaman. Bersama masyarakat, mahasiswa, dan relawan, Herdas turun langsung ke lapangan memperbaiki infrastruktur dasar warga.

Di sana, gelar akademik menjadi tidak terlalu penting. Yang dibutuhkan masyarakat adalah tangan yang bekerja. Keteladanan inilah yang membekas bagi mahasiswa-mahasiswa yang ikut mendampinginya. Seorang dosen teknik yang biasanya berbicara tentang mesin dan desain mekanik, mendadak berada di tengah lumpur, memegang cangkul, mengatur aliran air, dan memastikan warga kembali memperoleh akses air bersih.

Barangkali karena itu penghargaan Dosen Berdampak terasa begitu relevan untuk dirinya. Sebab dampak tidak selalu lahir dari pidato besar atau gedung megah. Kadang-kadang ia tumbuh dari perjalanan panjang menuju desa, dari riset yang bersedia mendengar kebutuhan masyarakat, dan dari keyakinan bahwa ilmu pengetahuan harus kembali kepada manusia.

Kini, nama Herri Darsan menjadi salah satu representasi penting tentang bagaimana dosen di daerah dapat membangun pengaruh nasional melalui kerja nyata. Dari Meulaboh, ia menunjukkan bahwa kampus di pesisir barat Aceh juga mampu melahirkan inovasi, kolaborasi, dan pengabdian yang berdampak luas.

Dan mungkin, di situlah inti sebenarnya dari penghargaan itu: bukan sekadar pengakuan terhadap seorang dosen, melainkan penghormatan terhadap jalan sunyi pengabdian yang selama ini dikerjakan dengan tekun. [Humas UTU]

Laporan: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.

Related Posts

Leave a Reply