Aceh Tengah – UTU | Dinginnya udara dataran tinggi Gayo menyambut rombongan mahasiswa dari Unit Kegiatan Mahasiswa Penanggulangan Kebencanaan Universitas Teuku Umar (UKM PK UTU). Jarum jam menunjukkan pukul 22.05 WIB saat bus yang mereka tumpangi berhenti di Kampung Waq Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah. Perjalanan panjang selama 12 jam via jalur ekstrem Beutong Ateuh Banggalang terbayar lunas oleh sambutan hangat Reje (Kepala Desa-red) Abdul Habir.
Bukan sekadar kunjungan biasa, 50 mahasiswa ini datang membawa misi besar: “Sumang”, sebuah kearifan lokal yang dijadikan pondasi untuk membangun kembali desa pascabencana. Selama satu bulan, mereka tidak hanya menjadi tamu, tapi menjadi bagian dari nafas kehidupan warga Waq Toweren.

Singgah di Melala: Kehangatan di Tengah Sisa Luka
Sebelum tiba di lokasi utama, tim menyempatkan diri singgah di Desa Melala, Kecamatan Celala. Di sana, tumpukan baju layak pakai disalurkan—menjawab permohonan warga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan sandang.
Di rumah Ibu Khasnawati, suasana haru menyeruak. Sambil menyuguhkan jamuan makan yang akrab, ia mengenang masa-masa sulit saat bencana melanda.
“Dulu, rumah ini menjadi saksi bisu. Ada 100 orang tinggal di sini berhari-hari; mulai dari relawan, Basarnas, hingga mahasiswa. Kami tidak akan lupa,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Irsadi Aristora, S.Hut., M.H., selaku ketua tim, menyampaikan salam hangat dari Rektor UTU. “Bapak Rektor menitipkan salam, beliau sedang berada di lokasi bencana lain seperti Aceh Tamiang dan Bireun untuk mengantar bantuan serupa. Semoga titipan dari masyarakat ini bermanfaat,” ujarnya rendah hati.

Lima Pilar untuk Waq Toweren
Kehadiran tim UKM PK UTU di Waq Toweren telah dibekali dengan program-program strategis yang telah disetujui oleh Kemdiktisaintek. Fokus mereka bukan hanya pemulihan fisik, melainkan kemandirian jangka panjang, seperti akses air bersih guna memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi secara higienis dan menyusun dokumen kontijensi sebagai panduan langkah darurat agar masyarakat memiliki “peta jalan” saat krisis.
Disamping itu, tim UTU juga akan mengedukasi generasi muda Gayo agar akrab dengan mitigasi bencana, membentuk kampung siaga dan tangguh bencana yang berfokus pada kesiapan relawan lokal yang mandiri serta pemberdayaan petani untuk pemulihan ekonomi desa.
Reje Abdul Habir menyambut rencana ini dengan tangan terbuka. “Kami masyarakat siap membantu. Yang terpenting adalah kemandirian dan kerja sama,” tegasnya saat pertemuan perdana.

Gerakan pengabdian di Waq Toweren ini bukanlah aksi sporadis, melainkan bagian dari desain besar Program Mahasiswa Berdampak (PMB) yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Di tahun 2026 ini, PMB muncul sebagai wajah baru pengabdian masyarakat yang lebih responsif dan aplikatif, menggeser paradigma lama kuliah kerja nyata menjadi sebuah aksi nyata yang solutif.
Program ini dirancang khusus untuk menerjunkan mahasiswa langsung ke jantung wilayah yang terdampak bencana atau mereka yang tinggal di zona merah risiko tinggi. Di sana, mahasiswa ditantang untuk tidak hanya menjadi relawan sesaat, tetapi juga membawa inovasi teknologi tepat guna serta strategi mitigasi yang saintifik. Ketatnya seleksi program ini terbukti dari terpilihnya hanya 8 tim terbaik dari Universitas Teuku Umar yang dianggap mampu membawa perubahan berkelanjutan bagi masyarakat.

Kemdiktisaintek memberikan dukungan penuh melalui skema pendanaan dan kebijakan konversi SKS, sehingga mahasiswa dapat fokus mengabdi tanpa harus merasa tertinggal secara akademik. Namun, yang membuat PMB 2026 berbeda adalah filosofi yang diusungnya: Resiliensi Berbasis Kearifan Lokal.
Pemerintah menyadari bahwa teknologi secanggih apapun tidak akan efektif tanpa menyentuh akar budaya. Itulah mengapa tim UKM PK UTU mengintegrasikan nilai-nilai lokal seperti Sumang ke dalam program mereka. Mahasiswa diposisikan sebagai jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai luhur desa, menciptakan sebuah ketangguhan yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga memiliki ikatan emosional yang erat dengan masyarakat setempat.[Humas UTU]
Laporan: Irsadi | Editor: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.




