Meulaboh – UTU | Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah institusi pendidikan untuk memancangkan pengaruhnya. Tepat pada 20 Januari 2026, Program Studi Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Universitas Teuku Umar (UTU) resmi menandai perayaan satu dekade pengabdiannya. Sejak pertama kali memancangkan eksistensinya pada 2016 silam, prodi ini telah bertransformasi menjadi oase bagi pengembangan riset dan inovasi di sektor budidaya perairan, khususnya bagi wilayah pesisir dan perairan darat di Aceh.
Perjalanan sepuluh tahun ini menjadi momentum refleksi mendalam mengenai peran prodi dalam menjawab tantangan zaman. Bukan sekadar berdiri sebagai menara gading akademik, Prodi Akuakultur UTU telah membuktikan kedekatannya dengan denyut nadi masyarakat melalui kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang adaptif, riset aplikatif yang membumi, hingga kolaborasi erat dengan para pembudidaya dan industri perikanan.
Ketua Jurusan Akuakultur FPIK UTU, Yusran Ibrahim, M.Si., menegaskan bahwa momentum satu dekade ini adalah simbol konsistensi dalam mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral di sektor perikanan.
“Prodi Akuakultur UTU hadir bukan hanya mencetak sarjana, tetapi membentuk insan pembelajar yang mampu menjawab persoalan pangan, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujar Yusran dalam sambutannya.

Keberhasilan prodi ini tercermin dari fokus riset yang digeluti selama sepuluh tahun terakhir. Mulai dari pengembangan teknologi pembenihan, inovasi pakan berbasis bahan lokal yang ekonomis, hingga sistem budidaya berkelanjutan yang tetap menjaga kelestarian ekosistem. Hasil-hasil penelitian tersebut tidak hanya berakhir di jurnal-jurnal ilmiah, namun juga diimplementasikan langsung kepada masyarakat melalui program pengabdian yang menyentuh akar rumput.
Menatap masa depan, tantangan di sektor perikanan budidaya dipastikan akan semakin kompleks. Namun, optimisme tetap menyala. Ketua Program Studi Akuakultur UTU menegaskan bahwa mereka telah menyiapkan peta jalan untuk dekade kedua sebagai agen perubahan yang lebih kuat, dengan mengombinasikan teknologi modern dan kearifan lokal.
“Memasuki dekade kedua, kami berkomitmen memperluas jejaring, meningkatkan kualitas riset dan publikasi, serta mendorong lahirnya inovasi dan wirausaha akuakultur berbasis kearifan lokal dan teknologi modern,” tegas Yusran.
Peringatan satu dekade ini dirayakan dengan berbagai rangkaian kegiatan akademik yang merangkum perjalanan panjang mereka. Dari ruang kelas hingga ke tambak-tambak warga, semangat yang dibawa tetap sama: ilmu terus tumbuh, perairan terus dirawat, dan pengabdian tidak akan pernah berhenti. Kini, Akuakultur UTU berdiri tegak, siap menyongsong masa depan sebagai pilar penting bagi pembangunan perikanan nasional. [Humas UTU]
Laporan: Afrizal H. | Editor: Yuhdi F. | Foto: Istimewa.




